Amanita phalloides

Amanita phalloides
dia milik gue sekarang


__ADS_3

Suasana kelas begitu riuh dengan canda tawa. Pemberitahuan dari ketua kelas beberapa menit lalu, yang mengatakan bahwa pak Rasyid guru matematika berhalangan hadir, mampu membuat anak-anak yang sebelumnya fokus menyontek, menjadi riang kembali. Bahkan, Arka yang sebelumnya menyontek kepada Kafin, seketika melempar buku laki-laki tersebut dan memukul-mukul meja saking girangnya.


Sungguh, jamkos lebih menyenangkan dibandingkan hari libur. Karena kita bisa mengobrol dengan teman-teman sepuasnya. Ataupun sekedar memainkan permainan yang dulu pernah dimainkan ketika kecil.


Suasana kelas seketika hening, ketika secara tiba-tiba dari balik pintu muncul bapak kepala sekolah. "Duduk ditempat!!" Titahnya 


Semua murid seketika berlarian kearah tempat duduknya masing-masing. Freya membulatkan matanya tidak percaya, ketika melihat seorang gadis dengan rambut sebahu berjalan dibelakang pak Mamat. Atensi matanya melirik kearah Farrel yang duduk dibangku belakang. 


Freya sangat tahu siapa gadis itu, gadis yang selalu ada diantara hubungannya dengan Farrel. Gadis yang selalu menjadi prioritas dari pacaranya itu. 


"Saat ini kalian kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan diri kamu" ujar pak Mamat, dengan gerakan tangannya dia mempersilahkan gadis tersebut untuk memperkenalkan diri.


Gadis itu menghela napas sebentar untuk menetralkan perasaannya "perkenalkan nama gue Zyva Mahendra, kalian bisa panggil gue Zyva. Gue sahabat dari cowok yang duduk dipaling pojok, Farrel Najandra" ujarnya lugas. Ada perasaan nyeri dalam hati Freya, ketika melihat gadis bernama Zyva itu menunjuk Farrel sembari tersenyum lebar. 


Sebenarnya, walaupun kedua sahabat itu sudah bersahabat sedari kecil, dan Freya hanyalah orang baru dalam hidup Farrel. Freya selalu merasa iri dengan tingkah Farrel, yang selalu meng-istimewakan sahabatnya itu. Bagaimana Farrel menjawab setiap pertanyaan gadis itu, bagaimana Farrel merangkul bahu gadis itu, bagaimana Farrrel tersenyum dengan sangat lebar kepadanya, membuat Freya benar-benar merasa cemburu.


Dari arah jarak 3 meter dari tempatnya berdiri, Freya menatap punggung kedua sahabat itu yang perlahan menghilang. Dengan tempat makan pada tangannya, Freya berjalan menuju tempat duduknya. Dia menatap nanar tempat makan berwarna biru langit miliknya.


Freya merasa terluka dengan tindakan Farrel beberapa menit yang lalu, jika biasanya dia tidak merasa sesakit ini ketika Farrel menolak memakan makanan siang buatannya. Saat ini, dia merasa benar-benar terluka, karena Farrel membentaknya dengan suara yang sangat lantang. 


Apalagi saat itu, suasana kelas masih diisi oleh beberapa orang siswa. Bahkan Freya juga sadar dengan beberapa tatapan prihatin, yang diberikan oleh teman-temannya itu. 

__ADS_1


Dengan sedikit mengangkat sudut bibirnya, Freya membuka bekal makanannya kemudian melahapnya secara perlahan. Air matanya beberapa kali jatuh membasahi sudut pipinya, beberapa kali dia menyekanya dan tetap malanjutkan melahap nasi goreng yang dia buat tadi pagi dengan susah payah.


Ternyata benar, makan dengan ditemani air mata sangat tidak enak. Pribahasa, jangan memarahi anjing yang sedang makan, ternyata memang benar. Karena makanan seenak apapun, akan terasa hambar jika memakannya sembari menangis.


Suara gebrakan pintu, mampu membuat beberapa siswa tergelak terkejut, kemunculan seorang laki-laki dengan wajah marahnya, mampu membuat beberapa siswa dan siswi menundukkan kepalanya, saking takutnya. Mata lelaki itu menatap nyalang kearah seorang gadis yang saat ini sedang menyantap makan siangnya sembari menangis. Seakan kehadirannya di kelas ini tidak diketahui oleh gadis tersebut.


Dengan sekali hentakan, dia menarik tangan Freya untuk berdiri dari duduknya. Tatapan polos gadis itu mampu membuat Kafin benar-benar terluka. Dia menarik Freya keluar dari kelas.


"Fin, lo ngapain sih? Pelan-pelan" pinta Freya marah. Beberapa kali kakinya tersandung dengan kakinya sendiri, karena tidak dapat mengimbangi langkah Kafin yang cukup lebar.


Secara beraturan Kafin memelankan langkah kakinya, mencoba mengimbangi langkahnya dengan langkah gadis kecil disampingnya.


Jujur saja, dia tidak mampu mengontrol emosinya ketika mendengar Freya dibentak seperti itu oleh Farrel, apalagi dihadapan anak-anak kelas. Jika memang dia tidak mau memakan makan siang buatan Freya, dia bisa menolaknya secara baik-baik, dia bisa memberikan pengertian kepada Freya bahwa dia tidak mau memakan makanan buatan gadis tersebut. Tidak dengan cara membentak, apalagi melepar makanan buatan Freya ketempat sampah, tidak dengan cara brengsek seperti itu.


"Lo mau bawa gue kemana sih Fin?" Tanya Freya pensaran, walaupun Kafin sudah memelankan langkah kakinya, tapi tangan pemuda itu masih saja bertengger pada tangannya, memegangnya dengan cengkraman yang cukup kuat.


"Fin?" Tanyanya lagi karena Kafin tidak membalas ucapannya.


Freya memalingkan wajahnya ketika atensi matanya tidak sengaja melihat Farrel yang sedang tersenyum dengan lebarnya bersama Zyva. Mereka sedang asik menyantap bakso dengan dibumbui canda tawa. Siapa saja yang melihat mereka, pasti akan berpikir bahwa keduanya adalah pasangan yang sangat serasi. Dan Freya membenci pikiran seperti itu hinggap di kepalanya.


Hati Freya benar-benar terluka ketika pemandangan romantis itu terjadi tepat dihadapannya. Bagaimana Farrel yang tidak peduli dengan kehadirannya, membuat Freya sadar bahwa setidak berharga itu dirinya bagi pemuda itu.

__ADS_1


Ada beberapa cinta yang tidak dapat dipaksakan, ada beberapa perasaan yang tidak dapat terbalaskan. Ada beberapa kepemilikan yang tidak dapat memiliki seutuhnya. Hubungan Freya dengan Farrel memang sepasang kekasih, walaupun Freya memiliki tubuh dan juga ikatan yang kuat dengan Farrel. 


Namun, pada kenyataannya, hati dan perasaan pemuda itu hanya untuk satu orang, Zyva Mahendra-sahabat laki-laki itu sedari kecil. Seorang gadis dengan kulit putih dan tubuh ramping, seorang gadis yang sangat cantik dan Freya juga mengakui kecantikan gadis tersebut. Apalagi, ketika gadis itu tersenyum dan lesung pipi pada pipi kanannya terlihat, benar-benar membuat Freya minder.


"Lo udah nyakitin dia, jadi dia milik gue sekarang" ujar Kafin tiba-tiba.


Freya menatap Kafin terkejut, begitu pun dengan Farrel yang tiba-tiba menghentikan kegiatan makannya kemudian menatap Kafin dengan tatapan marah? 


"Apa maksud lo?" Tanya Farrel seraya beranjak dari duduknya dan berdiri tepat dihadapan Kafin.


"Jangan pura-pura bodoh. Lo udah sia-sia-in dia, jadi dia milik gue sekarang" Kafin mengeratkan genggaman tangannya pada Freya, dia melirik Freya sekilas sembari tersenyum.


Farrel menatap tangan Kafin yang dengan sembarangan menggenggam tangan gadisnya "siapa lo sembarangan ngeklaim seperti itu?" Tanya nya tenang.


"Gue? Pacarnya" 


Pukulan keras pada pipi Kafin membuat Freya terkejut. Bahkan, suasana kantin yang awalnya riuh dengan orang-orang yang berteriak memesan makanan, ataupun orang-orang yang sedang bergosip mengenai gosip yang trending beberapa hari terakhir. Menjadi sangat hening, karena teriakan Freya yang cukup nyaring.


Tubuh Freya terhuyung tidak seimbang ketika Farrel menarik tangannya untuk berdiri di samping lelaki itu. Gadis itupun mencoba melepaskan genggaman tangan Farrel. Namun usahanya berakhir sia-sia, karena tenaganya yang kalah jauh.


"Dia pacar gue, dan gue yakin lo tahu itu" ujar Farrel tenang. Walaupun tatapan matanya tajam, tapi nada suaranya masih terlihat tenang.

__ADS_1


"Lo gak pantes jadi pacarnya!!! Laki-laki brengsek kayak lo gak pantes dapetin yang spek bidadari seperti Freya!!!" Ujar Kafin lantang.


Saat ini banyak tatap mata melihat kearah mereka, bahkan Zyva yang awalnya masih duduk anteng, kini beranjak dari tempatnya duduk dan berdiri disamping Farrel. Dia berusaha menenangkan pemuda itu, dengan beberapa kali mengusap punggung tangan Farrel. Tentu saja, tindakannya tidak lepas dari pandangan Freya. Membuat gadis itu merasakan perasaan sakit hati yang sangat dalam.


__ADS_2