
Tepat setelah adzan dzuhur berkumandang, cafe Edelweiss akhirnya kembali dibuka. Dibandingkan menjadi vokalis seperti yang biasa dilakukannya. Freya kini justru bekerja sebagai bartender, karena kini, orang yang akan memenuhi seluruh isi Cafe dengan suaranya yang menenangkan adalah Kafin. Lelaki itu secara tiba-tiba melamar kerja di cafe tempat Freya bekerja, dan ajaibnya kak Rafi menerima Kafin begitu saja, tanpa seleksi ataupun wawancara. Yah, walaupun alasannya karena dia akan bekerja hari ini saja, hanya bantu-bantu katanya.
Dengan senyuman lebarnya, Freya mencatatkan beberapa pesanan dari para pengunjung. Setelahnya, dia memberikan menu pesanan tersebut kepada kak Rafi yang mengemban tugas untuk meracik minuman dan makanan.
"Halo Aya sayang"
Freya mendelik tidak suka mendengar sapaan dari Arka, sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Kali terakhir mereka bertemu yaitu saat Arka tiba-tiba menjemputnya untuk bertemu dengan Kafin. Hari dimana sahabatnya itu mabuk berat dan hendak balapan liar.
"Halo, mau pesan apa?" Tanya Freya berusaha bersikap profesional.
"Kalo pesen hatinya bisa?" Goda Arka.
"Gak bisa kak, silahkan untuk memesan sesuai menu yang tersedia"
Arka mulai melihat-lihat daftar menu, dengan tangan yang mengusap dagu, dia memperhatikan daftar menu secara seksama.
"Emmm, pesen minuman rasa hati. Terus cake rasa rindu" ujarnya.
Hingga akhirnya Freya menyerah, dengan wajah geramnya gadis itupun menyahut "mau lo apasih? Kalau cuman mau bercanda jangan disini. Dibelakang lo udah banyak yang ngantri" ujarnya kesal.
Dibandingkam berintrospeksi diri, Arka justru tersenyum cengengesan "gue pesen seperti biasanya. Tapi gue juga minta waktu lo sebentar"
Setelah mengatakan pesanan kemudian membayarnya, Arka pun beranjak pergi dari hadapan Freya dan duduk di kursi yang selalu menjadi langganannya, kursi dekat jendela yang menghadap langsung kearah jalan raya.
Gadis itupun menghembuskan napasnya lelah, setelahnya dia pun kembali mengatur ekpresi wajahnya, seperti tidak terjadi apapun. Dengan sopan gadis itupun menanyakan pesanan para pengunjung seraya menuliskannya.
Beberapa menit Freya terpaku, ketika indra pendengarkan tidak sengaja mendengar suara Kafin yang sedang menyanyikan lagu milik dewa 19-pupus. Pandangannya jatuh pada sosok Kafin yang tengah menatap kearahnya. Sosoknya yang tengah memetik senar gitar seraya menatap kearahnya, benar-benar menghipnotis Freya untuk tetap berada di tempatnya.
"kak?" panggil pengunjung dihadapannya.
"eh? Iya kak mau pesan apa?" tanya Freya, kembali berusaha bersikap profesional.
Setelahnya, gadis itupun kembali fokus pada pekerjaannya, walaupun beberapa kali dia kehilangan fokus, namun bukan berarti dia tidak bisa menyelesaikan tugasnya.
Tangan Freya berhenti mengetikan pesanan, setelah pendengarannya mendengar Kafin berucap.
__ADS_1
"Kutitip rindu lewat senja, dalam asa, cita & cinta, kubenamkan doa untuk bahagia, yang tetap bermahkota setia"
****
Mungkin karena cafe baru buka kembali setelah sekian lama, membuat para pengunjung yang datang jauh lebih banyak dibandingkan biasanya. Freya menghembuskan napasnya lega, kemudian merenggangkan kedua lengannya yang terasa pegal.
"Biasanya rame gini Ya?" Tanya Kafin seraya meminum kopi Americano miliknya.
"Enggak, mungkin karena baru buka. Jadi rame banget" jawabnya seraya memasukkan barang-barangnya kedalam tas.
"Bukannya udah mau tutup yah? Tapi kok si Arka masih duduk anteng disana"
Freya pun ikut melihat kearah tempat yang ditunjuk oleh Kafin. Setelahnya, dia pun memukul dahinya, saking sibuknya dia sampai lupa kalau Arka sedang menunggunya saat ini.
"Astagfirullah, gue lupa banget. Fin lo pulang duluan aja, ada yang mau gue obrolin sama Arka" titahnya seraya menggendong tas miliknya.
"Lama banget emang?"
"Gak tahu juga sih, tapi gak akan sebentar juga"
"Yaudah gue pulang duluan yah. Jangan pulang malem-malem"
"Kita bicaranya diluar aja, cafenya udah mau tutup" ajaknya.
Arka melirik Freya sekilas, kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan. Setelahnya, keduanya pun berjalan keluar dari Cafe. Namun sebelum itu, Freya menyempatkan dirinya untuk berpamintan pada kak Rafi yang sedang membereskan stock kopi di gudang.
"Mau?" Tawar Arka seraya memberikan jus jeruk yang tadi dibelinya.
"Makasih" setelahnya, gadis itupun menusukkan sedotan kemudian meminumnya.
"Gue mau minta bantuan lo" ujar Arka tiba-tiba.
"Bantuan apa?" Tanya Freya seraya mengangkat salah satu alisnya.
"Bantuin gue milih hadiah buat pacar gue"
__ADS_1
"Hadiah dalam rangka apa?"
Arka pun menggelengkan kepalanya "gak dalam rangka apa-apa sih, cuman akhir-akhir ini El selalu menang dalam game yang dia mainkan, jadi gue pengen kasih dia hadiah. Tapi bingung hadiah apa"
Freya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum ramah. Dia tahu kalau hubungan Arka dan Elvina sangat romantis. Dia juga tahu kalau Arka selalu menomor satukan pacarnya itu. Namun, Freya merasa sedikit iri dengan hubungan sepasang kekasih itu.
Karena selama dia pacaran dengan Farrel, tidak pernah sekalipun Farrel memberinya hadiah ataupun kata-kata manis. Sosok Arka yang selalu memberikan hadiah ataupun apresiasi atas hal-hal kecil yang dilakukan oleh Elvina, benar-benar membuat gadis itu sedikit cemburu. Diapun ingin mendapatkan apresiasi atas hal-hal kecil yang dilakukannya, dia pun ingin memiliki seseorang yang selalu menghargai segala hal kecil yang telah dilakukan olehnya.
"Loh Fin? Ngapain disini?" Tanya Arka heran.
Kafin yang awalnya bersender pada dinding pun, kini mulai membenarkan posisinya "nungguin orang yang ada disebelah lo" jawabnya.
"Hehe, sorry-sorry, tadi gue minjem dia dulu bentar" ujar Arka dengan senyuman yang menghiasi sudut bibirnya.
"Gimana Ya? Mau?" Tanya Arka seraya menatap Freya penuh harap.
"Oke, kapan?"
"Hari ini"
"Hah? Lo gak nyadar kalau ini udah malem banget?" Tanya Freya heran.
Lelaki itupun melihat sekelilingnya, kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan "awalnya gue mau ajak lo besok, tapi mumpung ada si Kafin, jadi sekarang aja. Lo kan ada teman pulang bareng" ucapnya menjelaskan.
"Emangnya mau kemana sih?" Tanya Kafin ikut penasaran.
"Mall, gue mau kasih hadiah buat pacar gue"
"wih,,, uang lo banyak amat"
Dengan wajah jumawanya, Arka menatap Kafin dan juga Freya bergantian "hehe, kalian pasti lah tahu, darimana hasil uang yang selama ini gue kumpulkan" ujarnya seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"dari orang tua lo pasti" ujar Kafin.
"nah, lo tahu, jadi ngapain nanya?"
__ADS_1
"udah ahk udah, kalau kalian mau berantem mending di rumah aja, jangan disini, ganguin pengguna jalan yang lain"
Setelah mengatakan hal itupun, Freya melangkahkan kakinya menuju tempat dimana mobil Arka diparkirkan. Karena baik dirinya maupun Kafin, mereka sama-sama tidak membawa kendaraan, mereka pergi ke cafe dengan menggunakan angkutan umum. Karena seluruh kendaraan milik Kafin telah laris terjual, jadi sangat wajar jika mereka kerap kali berjalan kaki. Supaya lebih sehat, memang selalu ada hikmah djbalik musibah.