Amanita phalloides

Amanita phalloides
pulang


__ADS_3

Kehangatan keluarga, terasa begitu indah ketika kita jarang mendapatkan ataupun merasakannya. Freya tidak pernah menyangka jika, perpisahan kedua orang tuanya. Mampu merubah sosok bunda 180 derajat, senyuman bunda kini tidak sulit Freya dapatkan. Bunda seperti seseorang yang terlahir kembali. Terlihat begitu bahagia juga menikmati kehidupannya saat ini.


"Kafin, mau tambah nasinya?" tanya bunda.


Secepat kilat Kafin menganggukkan kepalanya, tidak hanya menambah nasi, bunda juga menambah lauk yang ada di piring lelaki itu. Akhir-akhir ini, Kafin lebih sering menyantap mie instan ketimbang memakan nasi bersama tenan-temannya. Karena bagi Kafin, yang penting perut kenyang dan uang masih tersisa untuk di tabungkan.


Bagian paling memilukannya, Kafin kini sering menyisakan kuah mie instan miliknya, untuk dimakan besoknya bersama nasi. Jadi dia tidak perlu lagi mengeluarkan untuk membeli teman pendamping nasi. Hingga Kafin tidak dapat mengontrol porsi makannya ketika disodorkan makanan rumahan yang dibuat khusus oleh tante Dyvia. Tidak bohong jika Kafin pun rindu dengan masakan rumahan, dia rindu dengan masakan bunda.


kehidupan yang dijalani oleh Kafin saat ini, merupakan kehidupan yang tidak pernah sekalipun Kafin bayangkan. Dia hidup dengan cara dimanja oleh kedua orang tuanya. Karenanya, dia maaih cukup syok dan bingung dengan segala kehidupannya saat ini. Seandainya ini mimpi, maka Kafin ingin segera dibangunkan. Dia tidak ingin terlalu lama tidur dalam mimpi buruk ini.


Bunda, Ayah, ternyata Kafin benar-benar merindukan sosok kalian. Kafin rindu rumah dan segala kenangan kita didalamnya.


"Kalau lapar, kamu ke sini saja. Anggap rumah sendiri" pesan bunda.


Kafin menggelengkan kepalanya, seraya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal "heheh, kayaknya gak bisa tante. Kafin kan akan pergi ke Benten " tolaknya tidak enak.


Terlihat bunda yang menghembuskan napasnya, kemudian menatap Kafin dengan seksama "setidaknya, selama kamu masih disini, kamu sering-sering yah makan di rumah tante" pinta bunda.


"iya tante" jawab Kafin seraya menganggukkan kepalanya.


"bunda mau ke kamar dulu bentar, kalian tunggu disini yah?"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, bunda beranjak dari duduknya, kemudian pergi kearah kamarnya yang berada di dekat ruang tamu.


"emmm, tadi gue cerita masalah lo sama bunda. Sorry, lo gak marah kan?" ujar Freya setelah melihat Kafin menghabiskan makanannya.


Kafin terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menatap ke arah Freya "gak papa, lo gak cerita pun, tante pasti tahu suatu saat nanti" ujarnya dengan senyumannya yang tidak luntur.


"lo mau makan dessert? Kebetulan semalam gue buat pudding"


"boleh"


Dengan senyuman bahagianya Freya berjalan kearah kulkas, guna mengambil pudding yang semalam dia buat bersama kak Darpa. Freya mengambil 2 buah pudding rasa mangga dan cokelat.


"pernikahan kak Darpa sebentar lagi, lo dateng kan?" tanya Freya seraya menyerahkan pudding rasa mangga pada Kafin.


Kepergian Kagin ke Banten memang rencana yang tidak pernah lelaki itu buat. Seandainya rumahnya tidak akan di sita, Kafin pasti akan memilih untuk menetap di rumahnya ini dan menjalani sekolah sebagaimana biasanya.


"oma dan opa gak marah lo berhenti sekolah?"


Kafin menghembuskan napasnya dalam, dengan wajah sendunya dia menatap Freya yang sedang menyantap pudding "mereka marah, tapi mereka juga gak bisa bantu apa-apa. Gak ada cara lain selain gue harus berhenti sekolah Ya" ujarnya parau.


"Kafin.." panggil bunda.

__ADS_1


Terlihat wanita paruh baya itu berjalan menghampiri keduanya dengan membawa satu buah dompet yang cukup besar. Bunda duduk pada kursi yang berada di hadapan Kafin, setelahnya bunda menyerahkan dompet yang dibawanya dari dalam kamar.


"tante tahu ini gak akan banyak membantu kamu, tapi setidaknya bisa mengurangi sedikit-sedikit hutang orang tua kamu. Tolong terima yah"


Dengan wajah tertunduknya, Kafin terdiam dalam kegamangan. Beberapa hari yang lalu, dia dibantu oleh Freya dengan memberikan seluruh tabungan milik sahabatnya itu. Sekarang, tante Dyvia pun hendak membantunya, dengan memberikan tabungannya juga. Kenapa mereka begitu baik? Padahal mereka bisa saja menutup mata dan tidak memperdulikan segala masalah Kafin. Mau dikatakan seperti apapun, Kafin hanyalah anak dari tetangga mereka, yang bahkan tidak memiliki hubungan darah apapun.


"enggak tante, Kafin tidak bisa menerima semua ini" tolaknya seraya mendorong dompet yang diserahkan padanya.


"tolong terima yah? Walaupun gak banyak membantu, tapi tante mohon, terima ini..."


"enggak tante, selama ini Kafin selalu merepotkan keluarga tante. Kafin gak mau terus-terusan repotin kalian"


Dengan senyuman yang terukir pada kedua sudut bibirnya. Bunda menggenggam tangan Kafin dengan penuh kasih sayang "kamu gak pernah merepotkan tante. Selama ini, tante lah yang selalu merepotkan kalian. Kamu mungkin gak tahu, tapi dulu, orang tua kamu memiliki jasa yang begitu besar dalam hidup tante. Disaat tante terlilit hutang yang ditinggalkan oleh suami tante. Orang tua kamu lah yang membantu tante dan keluarga. Bagaimana mungkin tante menutup mata, dan membiarkan anak dari orang yang telah nenyelamatkan tante, hidup dalam kesedihan"


Ucapan bunda, berhasil membuat Kafin menitihkan air matanya. Dia sama sekali tidak tahu menahu perihal orang tuanya yang pernah membantu keluarga tante Dyvia. Selama ini, Kafin terlalu fokus dalam hidupnya, dia terlalu sering main-main, hingga tidak sadar jika dia memiliki orang tua yang begitu baik.


Kafin terlalu terpaku pada kenyataan jika orang tuanya begitu sibuk bekerja, hingga tidak memperhatikan anak semata wayangnya. Kini, setelah mereka tiada, Kafin sadar jika dia menyadari semua kasih sayang mereka baru terasa setelah dia benar-benar kehilangan kedua orang tuanya. Bahkan setelah mereka tiada pun, mereka masih saja memnantu anaknya yang bebal ini. Seandainya kedua orang tuanya tidak memiliki sikap yang baik, dan tidak dikelilingi oleh orang-orang baik, mungkin kini Kafin telah hidup sebatang kara.


Kini Kafin menyadari jika "pulang" itu bukan hanya perihal kembali ke rumah.


Berbagi cerita hari ini dengan sahabat adalah "pulang", memeluk orang yang kalian sayangi juga bisa berarti "pulang" bersandar pada orang-orang yang dapat dipercayai juga definisi dari kata "pulang". Pada dasarnya "pulang" adalah kembali ketempat yang membuat kita nyaman. Kembali "pulang" setelah bertualang pada tempat yang menyediakan keteduhan dan pelukan yang hangat.

__ADS_1


"pulang" selalu memiliki makna yang begitu luar biasa. Dari segala perjalanan juga kejadian buruk yang menimpa Kafin belakangan ini. Lelaki itu dapat menyadari jika, kepergian orang tuanya tidak ikut membawa jiwa Kafin bersama mereka. Kepergian mereka menyadarkan lelaki itu jika, dia maaih memiliki begitu banyak ornag yang menyayanginya. Orang yang tanpa ragu menyambut kepulangannya, orang-orang yang mau menjadi tempat Kafin pulang.


__ADS_2