Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
21 : Pertemuan Pertama


__ADS_3

Harap-harap cemas menyelimuti kebersamaan di ruang pemeriksaan sebuah rumah sakit elite. Saking tegangnya, Jason refleks mere*mas sebelah tangan Malini, tak sabar menunggu hasil pemeriksaan Ananda. Terlebih dibeberapa pemeriksaan dan itu kaki Ananda diketuk atau malah digerak-gerakan, Ananda berdalih terasa sakit.


Gara-gara candaan yang Jason lakukan kepada Ananda, yaitu Jason yang berpura-pura menjadi singa dan siap menangkap bocah itu, kedua kaki Ananda mendadak lancar merangkak. Sementara kini, senyum dari sang dokter yang melakukan pemeriksaan seolah menjadi angin segar.


“Alhamdulliah,” ucap pria berkulit putih bersih itu dan bernama dokter Bagus. Pria tersebut juga yang menangani keadaan kaki Ananda. Karenanya setelah ada perubahan yang terjadi pada keadaan kedua kaki Ananda, Malini dan Jason sepakat membawa bocah itu ke rumah sakit. Malahan karena terlalu buru-buru, mereka sampai lupa pamit kepada Tuan Maheza maupun ibu Aleya.


“Alhamdullilah ....” Kata itu juga yang terus terucap dari bibir Jason maupun Malini atas perkembangan baik dari keadaan kedua kaki Ananda.


Kini, pelan tapi pasti, Ananda tengah dituntun untuk berdiri. Kedua kaki Ananda gemetaran parah dan bocah itu benar-benar belum sanggup berdiri sendiri. Namun dengan sigap, Jason menghampiri kemudian mengulurkan kedua tangannya dan memegangi kedua tangan Ananda.


Tadi, Ananda ketakutan hanya untuk berdiri. Bocah itu menatap Jason sambil menahan tangis.


“Mamah, aku enggak nangis. Jadi Mamah jangan nangis!” rengek Ananda di balik tubuh Jason yang masih memunggungi Malini.


Hati ibu mana yang tidak tergores apalagi bersedih, jika sang buah hati yang pada kenyataannya tidak baik-baik saja, selalu berusaha tegar hanya agar mamahnya tidak bersedih? Layaknya Ananda, Malini juga sengaja berusaha tegar. Malini buru-buru menyeka tuntas air matanya kemudian berseru, mengatakan bahwa putranya tak mungkin menangis karena bagi Malini, Ananda sangat kuat. Ananda anak yang sangat pintar.


“Pelan-pelan ... sama Papah ... lihat, kaki kita sama loh, kan?” lirih Jason masih meyakinkan Ananda, padahal sebelum ini, ia sudah hampir meraung-raung karena tak tega kepada Ananda. Dokter Bagus sampai tak ia izinkan menggenggam Ananda. Pria yang tentu jauh lebih berkompeten itu tengah jongkok menatap saksama kedua kaki Ananda dan sesekali akan pria itu ketuk-ketuk menggunakan alat mirip martil.

__ADS_1


“Nah, ini bisa berdiri, ah!” heboh Jason dan sudah langsung membuat Ananda kaget.


“Papah aku kaget! Tapi aku senang banget karena sudah berdiri. Tapi ini mau duduk lagi. Belum bisa berdiri lama,” rengek Ananda. Ia juga sudah langsung tersenyum ceria ketika mamahnya mendekat.


“Anak Mamah keren, sudah bisa berdiri lagi?” lembut Malino sengaja memuji dan sukses membuat sang putra tersenyum ceria.


“Gimana anaknya enggak keren kalau papahnya saja sekeren ini?!” oceh Jason dengan sangat percaya dirinya dan sukses membuat Ananda tertawa riang karena bangga.


Bagi Ananda, memiliki Jason sebagai papahnya, seorang papah yang sangat penyayang, lucu, tampan, jago basket dan memang keren, merupakan kebanggaan tersendiri.


Beres pemeriksaan, Ananda kembali diemban Jason menggunakan satu tangan. Namun saat di tempat administrasi, hati Jason seketika terketuk. Malini yang mengurus sekaligus melakukan pembayaran sendiri. Di matanya, wanita itu benar-benar hebat. Malini masih bisa ramah bahkan tersenyum padahal kedua matanya bengkak karena terlalu sering menangisi keadaan Ananda yang belum bisa hidup normal layaknya anak pada kebanyakan.


“Biayanya lumayan mahal, ya?” ucap Jason lirih sekaligus serius.


Malini yang mendengarnya sudah langsung merasa prihatin. Biaya hidup Ananda bukan lagi lumayan mahal, tapi memang mahal. Hanya saja, sebagai orang tua Malini merasa, seberapa pun sekaligus bagaimanapun keadaan Ananda, itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai orang tua. Malini tidak akan pernah hitung-menghitung kepada Ananda andai nanti putranya itu dewasa. Karena yang terpenting bagi Malini dan selama ini telah menjadi orang tua tunggal untuk Ananda, putranya itu tumbuh sehat sekaligus menjadi orang berguna. Karena andaipun Ananda belum bisa jadi orang sangat sukses seperti para orang tua sekaligus keluarga angkat Malini, setidaknya Ananda wajib menjadi orang yang berguna untuk dirinya sendiri agar Ananda bisa berdiri di atas kakinya dan jangan sampai mirip Davendra.


“Kalau di basket aku enggak bisa dapat uang lagi karena sekarang aku cuma pemain cadangan, aku bakalan mulai cari kerja,” ucap Jason yang mendadak melow.

__ADS_1


Malini sudah langsung tidak tega karena orang yang biasanya clengean, mendadak melow layaknya sekarang.


“Kalau aku ikut mamahku, kepaku bisa jadi jelly karena setiap aku bikin kesalahan bahkan meski bagiku itu enggak salah, kepalaku terus saja ditem*pe*leng. Telingaku bisa kemebul mirip knalpot but*ut, ubun-ubunku bisa buat bakar sate sampai gosong ... hatiku ...,” ucap Jason yang kemudian berangsur melangkah dan sampai detik ini jadi kurang bersemangat.


“Sekali-sekali, coba tolong dengarkan mamah kamu. Coba mulai lihat mamah kamu karena enggak semua orang bisa menyalurkan rasa sayang atau sekadar pedulinya dengan kelembutan. Karena memang banyak yang selalu serba marah-marah, terlebih kalau dengar beberapa cerita dari kamu, sepertinya mamah kamu memang tipikal yang enggak akan bisa lembut,” yakin Malini sembari berusaha mengimbangi langkah Jason.


“Papah sama Mamah, bertengkar?” tanya Ananda yang dari tadi diam dan memang sengaja mengamati, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.


Detik itu juga Malino dan Jason langsung celingukan. Tatapan keduanya refleks bertemu, dan keduanya juga sudah langsung kompak menggeleng sambil berkata, “Enggak ... kami enggak bertengkar.” Sepanjang mereka berucap demikian, mereka juga terus menatap tak percaya satu sama lain.


Ananda yang awalnya sempat berpikir bahwa papah mamahnya sedang bertengkar, jadi tertawa. “Papah sama Mamah lucu banget!” ucapnya dan sudah langsung membuat Malini maupun Jason tersipu.


“Pa-pah?” Suara bariton yang terdengar meragukan apa yang baru saja diucapkan, sudah langsung membuat kehidupan seorang Malini membeku. Kedua kaki Malini refleks berhenti melangkah seiring suara langkah dari sepasang sepatu yang terdengar mendekat, disertai aroma parfum citrus khas pria yang begitu Malini hafal.


Davendra. Orang itu sungguh Davendra yang awalnya ada di belakang mereka, tapi baik Malini maupun Jason tidak yakin, sejak kapan pria itu mengikuti mereka.


“Ananda ...,” ucap Davendra yang kemudian berdiri di depan mereka.

__ADS_1


Ananda menatap serius wajah Davendra. Bocah itu merasa tidak asing pada wajah Devandra. “Om siapa?” Bibir Ananda tidak bisa untuk tidak bertanya lantaran ia telanjur penasaran. Kenapa ia merasa tidak asing kepada Davendra, padahal ia yakin, kini menjadi pertemuan pertama mereka?


__ADS_2