
“Cepat sembuh, yah, Pah!” ucap Ananda setelah ia memasang stiker hati warna merah jambu di pipi kiri Jason.
Jason yang kedua kaki dan lengan kirinya lecet parah karena bergesekan dengan aspal, langsung tersenyum takjub membalas Ananda. Awalnya pemuda itu menanggapi ulah Ananda dengan terpejam sambil memegangi dada menggunakan kedua tangan. Namun beberapa detik kemudian, Jason sengaja membuat kedua jemarinya membentuk hati dan itu ditujukan kepada Ananda.
Malini yang tengah merapikan P3K-nya dan memasukannya kembali ke dalam tasnya, langsung tersenyum sambil menggeleng, hanya karena menyaksikan ulah Jason.
“Aku janji aku enggak nakal. Aku akan jadi anak penurut. Aku juga akan jadi anak pintar, asal Papah sayang aku. Asal Papah mau jadi Papah aku. Sumpah, aku beneran janji!” ucap Ananda dan kali ini sambil menunduk murung. Sementara ketika ia mengangkat wajah, pipinya sudah basah karena air matanya. Ia menangis, sungguh kali ini ia tak bisa mengakhirinya.
“Nanda sayang, kenapa kamu menangis?” sergah Jason yang sudah langsung menanggapinya dengan serius. Ia bahkan sudah langsung meraih kemudian memangku Ananda, menatapnya saksama.
Bukannya cerita, Ananda justru tersedu-sedu sambil terus minta maaf. Malini yang menyaksikan itu tak kalah bingung. Termasuk juga Akala yang awalnya tengah sibuk mengetik di laptop tak jauh dari mereka. Akala sampai meninggalkan meja di seberang kemudian menghampiri Ananda. Akala berusaha mengambil alih Ananda dari Jason, tapi Ananda menolak.
“Kenapa Nanda terus minta maaf?” tanya Jason dengan mata yang sudah berkaca-kaca, selain suaranya yang juga mulai sengau. Sebab melihat Ananda sesedih bahkan sekalut sekarang, benar-benar membuatnya tak kalah sedih. Hati Jason seperti dire*mas dan tenggorokannya juga mirip dicek*ik dengan keji.
“Maaf karena mataku sakit, tapi aku janji, aku akan rajin menjalani perawatan. Kakiku pun, ... pokoknya aku akan cepat sembuh, aku janji. Sumpah! Aku bakalan sehat dan jadi anak pintar, jadi aku mohon ... mohon sayangi aku. Aku mohon jangan pernah meninggalkan aku karena aku mau Papah. Aku sayang Papah!” tangis Ananda benar-benar pecah. Kedua tangannya mendekap erat tengkuk Jason.
“Ini bocah kenapa?” lirih Jason yang tak hanya berlinang air mata karena ingusnya juga sampai meler.
__ADS_1
Meski Malini yang juga sudah menangis sekaligus mendadak ingusan refleks menggeleng, ibu muda itu ingat, sebelumnya mereka sempat membahas Devandra dan jejak pria itu dalam kehidupan Ananda.
“Mas ...?” lirih Malini yang kemudian menatap Akala. Maksudnya tentu ingin mengabarkan bahwa apa yang mereka ceritakan tentang Devandra kepada Ananda, sudah langsung berdampak fatal.
“Aduh, kamu kenapa sih? Papah jadi sedih. Nih Papah jadi sedih, nangis gini gara-gara kamu sedih. Ayo, ayo kita keluar buat cari udara segar. Nanda sayang, sekarang Papah memang sudah enggak main basket di sana, tapi bukan berarti Papah enggak main basket lagi. Sekarang Papah mau fokus kerja saja. Papah mau kerja biar Papah bisa beliin Nanda banyak mainan. Biar kita bisa jalan-jalan. Main basketnya kalau sudah pulang kerja saja. Nanti kita main basket bareng.” Terpinca*ng-pinc*ang, Jason mengemban Ananda, membawanya keluar dari kediaman Tuan Maheza yang masih menjadi tempat tinggal Ananda dan Malini.
“Aku enggak mau hadiah. Aku juga enggak apa-apa, enggak jalan-jalan. Asal aku punya Papah. Asal Papah sayang aku sama mamah. Asal kita selalu sama-sama. Aku janji, aku akan jadi anak yang baik. Nanti kalau aku sudah besar, aku juga yang kerja. Biar aku yang kerja, Papah sama Mamah istirahat, biar kalian enggak capek!” Ananda masih tersedu-sedu, sangat memohon.
Akala berangsur memeluk Malini.
“Karena Ananda sudah tahu tentang siapa papahnya, Mas. Aku yakin itu terlebih Nanda sangat cerdas,” ucap Malini yang jadi merasa sangat bersalah. Tatapannya jadi kosong dan sampai detik ini, butiran bening mengalir dari kedua sudut matanya. “Jiwa Nanda terguncang Mas. Untungnya dia enggak minta mas Devandra. Untungnya yang dia minta tetap Jason. Masalahnya ... Jason—”
Detik itu juga Malini tercengang menatap Akala. Pria itu sudah langsung menatapnya penuh keseriusan. “Demi Ananda!”
Ragu, bingung, sekaligus takut, bercampur jadi satu mengaduk-aduk hati Malini. Pernikahan dan segala mimpi bu*ru*nya untuknya, tapi di lain sisi ada Ananda yang sangat membutuhkan Jason.
“Pernikahan untukmu bukan lagi perkara harus dengan orang yang kamu cintai sekaligus sepenuhnya mencintaimu, kan? Karena sekarang, setelah semua yang terjadi, semuanya hanya tentang Nanda? Asal pria itu baik, tanggung jawab, dan pastinya sayang benget ke Nanda, kamu mau menikah?” lirih Akala meyakinkan Malini. “Urusan Jason, itu nanti Mas yang urus. Dia orangnya memang gitu. Perpaduan kak Ojan dan mas Azzam. Namun Mas percaya, Jason orang baik. Bahkan meski dia lebih muda dari kamu. Jason tetap bisa jaga sekaligus mengarahkan Nanda!”
__ADS_1
Ananda—semuanya sungguh serba Ananda. Terlebih ketika Malini melongok ke luar, meski sudah diemban Jason, nyatanya Ananda masih menangis. Bocah itu sibuk minta maaf, menebar janji menjadi anak penurut, asal Jason tidak meninggalkannya. Benar, Ananda sudah telanjur sayang. Ananda sudah telanjur cocok dengan Jason.
Rangkulan hangat yang Akala lakukan dari samping belakang kanan Malini, mengantarkan Malini pada kenyataan. Dunia Malini menjadi berputar lebih lambat lantaran wanita itu tahu apa yang akan Akala lakukan. Namun, Malini tak berniat menahan Akala yang kini baru saja meninggalkannya. Akala akan menemui Jason, meminta pemuda itu untuk menikah dengan Malini—dan Malino benar-benar tahu itu.
“Itu Pakde ... Nanda mau ikut Pakde?” ucap Jason, tapi Nanda yang masih membenamkan wajah di dadanya, berangsur menggeleng sambil tetap memeluknya erat.
“Terus, Nanda mau main basket? Lagi panas banget gini, bentar lagi ya. Nanti kepala Nanda pusing. Nanti kulit Nanda bisa gosong mirip dodol!” lanjut Jason masih berusaha membujuk Ananda.
“Nanda mau, Papah sama Mamah nikah?” ucap Akala sambil merangkul punggung Ananda, selain ia yang juga melongok wajah Ananda.
Detik itu juga Jason bengong, layaknya Ananda yang sudah langsung diam dan perlahan mengangguk.
“Iya ...,” ucap Ananda dengan suaranya yang terdengar sangat sengau.
Jantung Jason seolah langsung berhenti berdekat mendengarnya. Yang mana ia juga sudah langsung melirik sekaligus menatap Malini. Di bibir pintu menuju ruang dalam, Malini berdiri gusar menatapnya penuh kesedihan.
“Aku mau Papah nikah sama Mamah!” mohon Ananda sambil menatap Jason dengan matanya yang benar-benar sembam.
__ADS_1
Tatapan Jason dan Ananda bertemu. Detik itu juga Jason merasa, bahwa dunianya mendadak berhenti berputar.
“Papah ... aku mau Papah ...,” rintih Ananda sangat memohon. Air matanya kembali berlinang, menunggu balasan Jason yang malah terlihat kebingungan.