
“Bagaimana kabar Malini? Dia sama sekali tidak pernah menghubungi apalagi menemui aku. Kuasa hukumnya, termasuk para saudaranya juga tidak ada yang menghubungiku padahal sidang sudah ada di depan mata,” ucap Devandra kepada ibu Sonya.
Berbeda dari biasanya, kali ini sang mamah tampak bersahaja. Tak ada lagi barang-barang mewah atau setidaknya rias tebal. Rambut panjang yang biasanya digerai dan diikal gantung, kini diikat rapi. Namun setelah Devandra amati, sang mamah bukannya bersahaja, melainkan tampak stre*s sekaligus sakit.
“M-mah ...?” panggil Devandra khawatir.
“Kita salah cari lawan,” ucap ibu Sonya masih belum bisa bersemangat.
Mendengar itu, Devandra langsung bungkam. Pria itu paham, apa maksud mamahnya. Bahwa apa yang menimpa mereka, benar-benar telah menghancurkan kehidupan mereka.
“Rumah kita kamu beli dengan uang perusahaan, dan ... lusa akan disita. Jadi sebagian barang yang boleh dibawa, sudah Mamah pindahkan ke rumah lama. Mamah enggak mau benar-benar jadi gi*la, jadi nurut saja. Apalagi semua yang mereka tuntutkan memang benar,” ucap ibu Sonya. Layaknya keputusannya, suaranya pun terdengar sangat pasrah.
Apa yang baru saja sang mamah sampaikan membuat seorang Devandra merasa tert*ampar. Sefatal itu kah nasib mereka, setelah kebenaran hubungannya dan Malini terkuak?
“Mamah bisa menemukanku dengan Malini?” ucap Devandra yang kali ini memang memohon. Ia tak mau menghabiskan waktunya secara sia-sia, di penjara.
“Sudah lah, Dev ... jangankan sewa pengacara, buat makan sehari-hari saja, Mamah enggak yakin bisa. Belum lagi gara-gara masalah ini, Mamah kena komplikasi. Wajib berobat rutin, sementara andai harus kembali kerja, Mamah mau kerja apa?” ucap ibu Sonya. “Sekarang kamu terima nasib saja. Sudah akui salah biar hukuman yang harus kamu jalani juga lebih ringan. Gissel saja sudah enggak ada kabar, kan? Mana mau wanita seperti dia sama kamu kalau sudah tahu ternyata kamu enggak punya apa-apa.”
__ADS_1
Disinggung Gissel, Devandra juga sudah tidak pernah bertukar kabar lagi. Terlebih semenjak ia tidak memiliki pengacara lantaran pria yang awalnya memberinya perlindungan hukum, malah mengundurkan diri. Ibaratnya, kecelakaan yang Gissel lakukan dan menjadikan Ananda korban, juga keputusan Devandra yang arogan, menolak mendonorkan darahnya kepada Ananda, menjadi kehancuran nyata untuk Devandra dan sekeluarga.
Hingga tampaknya, memang tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain mengikuti hukuman yang sudah ada, terlebih mereka juga sudah tidak memiliki apa-apa.
“Sekarang kamu enggak dapat Gissel, dan kamu pun juga enggak dapat Malini,” pasrah ibu Sonya yang kemudian merebahkan kepalanya di meja kayu panjang yang memisahkan kebersamaan mereka.
Di tempat berbeda, Malini yang tengah Devandra harapkan kehadirannya untuk meringankan hukuman pria itu, baru saja turun di depan sebuah rumah terbilang mewah, meski tak semewah kediaman Tuan Maheza Malini dan Ananda tinggal.
Menurut informasi yang Malini dapatkan dari sang suami, itu merupakan rumah mamahnya Jason. Rumah bergaya Eropa klasik itu berada di salah satu kawasan perumahan elite di Jakarta. Rumah tersebut memiliki halaman cukup luas serta sebuah garasi di sebelahnya. Tampak seorang satpam yang berjaga langsung menghampiri mereka.
“Den Jason sudah ditunggu Nyonya di dalam,” ucap satpam tersebut sambil membungkuk hormat kemudian buru-buru membukakan pintu gerbangnya.
“Nanda Sayang, papahnya diajak ngobrol biar enggak spaneng gitu,” lembut Malini sambil membenarkan posisi kacamata khusus milik Ananda. Tak lupa, ia juga merapikan belaha*n rambut Jason yang kali ini kembali disisir rapi setelah diaplikasikan dengan pelumas rambut secara khusus hingga gaya rambut Jason jadi berkali lipat lebih rapi dari biasanya.
Jason melirik sang istri penuh arti. “Nyaris lupa. Besok, surat nikah kita beres diurus. Terus habis itu langsung urus kartu keluarga saja.”
“Wajib minta kartu keluarga Papah juga buat pecahin, biar Papah enggak ada si kartu keluarga Papah karena Papah sudah jadi kepala keluarga,” balas Malini yang masih menyikapi dengan sangat lembut.
__ADS_1
“Oh, iya ...?” ucap Jason pura-pura terkejut. “Aku beneran baru tahu kalau ada proses begitu dulu.” Di tengah tatapan lurusnya, ia sengaja berkata, “Jadi janda, bahkan wanita yang dipaksa tidak terikat dalam pernikahan dan harus menjadi orang tua tunggal untuk anakmu, benar-benar enggak mudah, ya. Apalagi kalau memikirkan anggapan orang, dan parahnya ... tanggapan mertua. Aku pikir, jadi pria, jadi suami yang belum punya pekerjaan tetap merupakan hal tersulit yang bisa bikin harga diri tercab*ik-cab*ik. Namun ternyata ... ada saja yang lebih.”
“Karena di atas langit masih ada langit. Di atas luka yang kita anggap sudah paling sakit, ada luka orang lain yang lebih sakit, Pah. Bersyukurlah kita, sudah dipertemukan dengan pasangan yang mau ngerti, mau kasih kita kesempatan buat sama-sama belajar. Begini saja sudah sangat alhamdullilah,” balas Malini yang refleks berhenti melangkah.
“Halo, Oma?” Ananda mengulang salamnya sambil menengadah hanya untuk menatap seorang wanita baya yang menatap bengis kedatangan mereka dari balkon atas sana.
“Ya Allah ... sapaannya Ananda enggak dibalas,” batin Malini sudah langsung tegang. Ia sampai menahan napas kemudian memberanikan untuk menengadah. Ia memberikan senyum terbaiknya sambil agak membungkuk, tapi sapaannya itu hanya ditatap dengan tatapan malas sebelum wanita bermata tajam yang menyanggul modern rambutnya itu justru mendadak berlalu.
“Seperti katamu, di atas langit masih ada langit. Karena di atas ibu Sonya yang sudah tergolong kejam bin dakjal, ada mamahku yang memang uyutnya kejam!” lirih Jason dan langsung tidak sengaja mendapati bulu kuduk di kedua tangan sang istri kompak berdiri.
“Enggak usah takut,” lanjut Jason.
Malini langsung tersenyum pasrah sambil menengadah hanya untuk menatap kedua mata Jason. “Dibilang takut, sebenarnya enggak. Tapi dibilang takut, sebenarnya iya. Apa sih bahasanya? Setengah-setengah.”
Tak bermaksud menertawakan balasan sang istri, Jason terlanjur cekikikan. Meski tatapan dari Ananda juga sukses membuatnya terbengong-terbengong.
“Oma marah ya, sama kita, makanya Oma langsung pergi dan enggak balas sapaan aku?” Ananda mengulang pertanyaannya lantaran papah mamahnya tak kunjung merespons.
__ADS_1
“Oma marah gara-gara Papah jarang pulang ke sini,” ucap Malini yang kemudian berkata, “Makanya, nanti Nanda tolong bantuin Papah sama Oma, biar Papah sama Oma bisa baikan ya!”
Detik itu juga, Ananda yang sempat murung, langsung tersenyum ceria sambil mengangguk-angguk. “Baik, Mamah!” Ia tak hanya tersenyum optimis kepada Malini. Karena ia juga membagikan senyumnya kepada sang papah. Baginya, Jason masih sangat tegang. Namun Ananda yang memang cerdas yakin, papahnya begitu karena sedang marahan dengan sang oma, seperti informasi yang ia dapat dari Malini sang mamah.