
Malini meringkuk pelan menghadap sang suami yang tidur di seberang. “Ini, ... masih tetap enggak mau?” lirihnya bertanya dengan hati-hati.
“Sebenarnya mau, tapi tekadku sudah bulat,” ucap Jason yang kemudian menoleh ke ke Malini hingga tatapan mereka bertemu.
“Besok kerjanya di perusahaan aku saja. Karena aku juga masih butuh karyawan. Nanti pelan-pelan belajar,” ucap Malini masih berucap lembut.
“Ini berarti, aku bakalan jadi Devandra kedua?” balas Jason mendadak sedih.
“Maksudnya?” balas Malini yang kemudian berkata, “Kamu jangan mikir macam-macam ya. Aku enggak bermaksud bikin kamu seperti Devandra.”
“Ya maksudnya, Devandra kan ibarat mokondo. Sementara aku, ... ya apa bedanya aku, kalau aku saja belum bekerja dan biaya hidup masih kamu yang urus. Aku bahkan tinggalnya masih tergolong definisi menumpang,” ucap Jason.
Mendengar itu, Malini berangsur duduk. Ia meraih air minum kemudian menuang satu gelas juga di gelas berbeda. Ia menghampiri Jason, memberikan air minum itu kepada Jason, yang awalnya kebingungan. Namun, Jason berangsur duduk kemudian menerima segelas air minu.nya, dan menghabiskannya hingga tuntas.
Setelah mengambil gelas bekas Jason minum, kemudian menaruhnya di meja nakas sebelah, Malini berdeham. Ia menghela napas dalam, kemudian berkata, “Jadi kamu tipikal pria yang akan merasa harga dirinya terluka, ketika istri yang dominan termasuk kerja? Bukankah semuanya lebih baik jika serba kerja sama?”
“Banyak kan, yang begini. Laki-laki dikasih wanita yang lebih, merasa minder dan malah memilih selingkuh sama yang enggak lebih baik dari yang ada. Namun kalau dikasih yang biasa, menghinanya enggak karuan,” lanjut Malini.
“Kalau sudah rumah tangga, beneran enggak boleh gitu. Enggak ada yang lebih depan atau harus ada di belakang. Kita harus selalu saling berdampingan. Harus serba kerja sama. Harus bisa mengisi kekurangan satu sama lain. Kita bisa menjadikan lingkungan kita sebagai contoh. Baik lingkungan masa lalu, maupun yang sedang kita alami.” Malini menjelaskan sejelas-jelasnya.
__ADS_1
“Coba sekarang katakan kepadaku, kamu maunya kerja yang seperti apa,” lanjut Malini yang kali ini sengaja meraih kedua tangan Jason. Dengan sabar ia menatap dalam kedua mata sang suami. Untuk kali ini, Jason tampak tak berdaya. Jason seolah ingin menunjukkan kegagalan sekaligus keterbatasan pria itu. Baik masa lalunya sebagai broken home yang mana Jason pernah menjadi korban KDRT. Serta, karier basket Jason yang malah berakhir hancur.
“Sebenarnya mamahku juga sudah berulang kali memaksaku untuk bekerja di perusahaan. Mamah ingin aku menggantikannya,” ucap Jason tak bersemangat.
“Namun kamu khawatir, mamahmu akan mengungkit-ungkit semua jasanya karena mamahmu tipikal yang begitu? Karenanya, kamu lebih ingin berdiri sendiri. Membangun semuanya dari nol? Bahkan ke aku saja, kamu takut begitu?” ucap Malini menebak-nebak. Ia dapati, sang suami yang sudah langsung tidak berani menatapnya, menegaskan bahwa semua tebakannya benar.
“Mau usaha apa? Sementara aku sama mamah kamu, juga butuh kamu? Kamu enggak mau, satu kantor sama aku? Kita di rumah dan di tempat kerja bareng, seru-seruan bareng ... apa, kamu tipikal yang mudah bosen? Atau, ... kamu enggak mau sama mamah kamu, pelan-pelan arahin sekaligus kasih pencerahan biar cara pikirnya bisa lebih luas?” lanjut Malini.
“Mah, jadi laki-laki, suami, beneran enggak semudah materi yang dibayangkan kebanyakan,” yakin Jason.
“Sama. Jadi wanita juga enggak seenak yang kaum laki-laki pikirkan. Contohnya enggak usah jauh-jauh, di depan kamu, aku. Aku dan masa laluku. Sempat jadi korban ayah tiriku, aku berakhir ditalak oleh Devandra. Kalau laki-laki kan enak, bikin, puas, masa bodo meski dia sudah jebolin dan ninggalin benih. Andai kalau laki-laki yang begitu juga bisa hamil. Andai yang hamil enggak hanya wanitanya. Coba, sekarang kamu mau jawab apa?” Setelah sempat serius, Malini jadi sibuk menahan senyum.
“Ini aku beneran dipaksa?” balas Jadon yang berakhir tersipu.
Jason langsung bengong dan perlahan merenung.
“Ya sudah, ini sudah malam. Besok setelah antar Ananda ke sekolah, aku mau langsung ke kantor. Kamu mau ikut?” lanjut Malini.
“Nanti pasti langsung jadi bahan gosip karyawanmu. Mereka pasti bakalan bilang begini, ‘Oh, itu mokondo pengganti pak Devandra. Ya ampun ibu Malini, kerjaanmu menampung mokondo!’ Pasti mereka bilang gitu!” yakin Jason seyakin-yakinnya. Namun, Malini malah terkikik menertawakannya.
__ADS_1
“Ngapain Papah khawatir bahkan takut, kalau Papah saja, juragan nyiyir?” balas Malini di sela tawanya.
“Hah?” Jason benar-benar syok dikatai juragan nyinyir. “Kok juragan nyinyir sih, Mah?”
“Sekarang aku tanya, ... sudah terarahkan belum? Masih minder dan berasa jadi mokondo?” balas Malini kali ini sudah kembali serius.
Kali ini, lagi-laki Jason tidak bisa menjawab. Pemuda itu menunduk dalam.
“Harus sampai ada kejadian yang bikin kamu merasa kehilangan, baru kamu bisa menerima kenyataan? Jangan sampai, ya. Pelan-pelan, ... yang namanya rumah tangga itu saling kerja sama, bukan siapa yang paling mendominan.” Malini mengakhiri ucapan lembutnya dengan menghela napas pelan kemudian tersenyum lembut. Tak lupa, sebelum ia benar-benar pergi, ia sengaja melayangkan kec*upan singkat di pipi kiri Jason.
Dunia Jason seolah langsung berhenti berputar gara-gara apa yang Malini lakukan. Bahkan setelah akhirnya Malini pergi, Jason merasa dunianya hanya berisi istrinya itu.
Mengenai rumah tangga, Jason setuju bahwa rumah tangga harus diisi dengan kerja sama dari suami dan istri yang menjalani. Baginya, semua yang Malini katakan memang benar. Namun sebagai laki-laki, Jason tetap merasa minder, Jason tetap merasa tidak berguna jika dirinya tidak bisa lebih aktif sekaligus memiliki penghasilan lebih dari istrinya.
“Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Jason benar-benar meminta pendapat sang istri.
Malini yang baru akan berbaring, refleks menatap Jason. Dalam hatinya, ia berpikir, sang suami masih belum bisa menekan egonya. “Enggak apa-apa, pelan-pelan, Pah. Aku pernah ada di posisi seperti kamu. Saat itu, aku bahkan enggak lebih baik dari kamu. Insya Allah, tinggal di lingkungan positif seperti keluargaku, lama-lama kamu pasti punya cara pikir yang berbeda dari sekarang. Duh gimana, ya ....” Malini memutuskan untuk kembali menghampiri Jason.
Tanpa kembali berkomentar apalagi permisi meminta izin, Malini memeluk Jason erat menggunakan kedua tangannya, selain ia yang juga menyandarkan wajahnya di kepala suaminya itu. Sangat lama ia melakukannya, seiring kecu*pannya yang sesekali mendarat di kepala Jason.
__ADS_1
“I love you ... apa pun itu, aku yakin kamu sudah melakukan yang terbaik. Intinya, yang namanya rumah tangga harus selalu kerja sama. Kita punya banyak waktu buat saling ngobrol. Papah sayang Ananda, kan? Sayang aku juga enggak? Kalau iya, cukup tatap wajah orang yang Papah sayangi, pasti semua masalah dan beban yang Papah anggap berat, rasanya jadi jauh lebih ringan,” lembut Malini.
Detik itu juga Jason menengadah. Pemuda itu sengaja menatap dalam kedua mata Malini, dan baginya sudah cukup menjadi balasan apa yang baru saja wanita itu bisikkan. Bahwa Jason tengah mencoba meringankan bebannya dengan cara menatap orang yang dia sayangi dan salah satunya Malini.