
“Mah—” Malini ingin menyalami tangan ibu Sheryn, tapi wanita itu tetap bersedekap, tak mengizinkan Malini menyalaminya.
“Jaga jarak, Mah. Aku enggak mau kamu terluka,” ucap Jason sembari meraih tangan kanan Malini. Ia menuntun sang istri untuk mundur, jauh-jauh dari ibu Sheryn.
Ulah Jason sudah langsung mengusik nyonya Sheryn maupun Jeslyn yang ada di belakang sana. Setelah refleks menyaksikan secara saksama perhatian Jason yang benar-benar manis kepada Malini, tatapan nyonya Sheryn dan Jeslyn berangsur bertemu. Melalui tatapan mereka yang diwarnai keterkejutan sekaligus ketidakpercayaan, keduanya masih sulit percaya, sekelas Jason yang tidak pernah bisa lembut, bisa begitu lembut kepada Malini. Selain itu, kedekatan Jason dengan Ananda juga dirasa mereka tak ubahnya keajaiban dunia. Jason yang selama ini tidak pernah terlihat dekat dengan anak kecil manapun, kini benar-benar mereka saksikan terus mengemban Ananda. Padahal meski berita Jason, Malini, sekaligus Ananda sudah viral dan sampai mereka ketahui, mereka pikir, itu hanya bagian dari sandiwara untuk karier basket Jason.
Malini yang mengikuti tuntunan Jason, berangsur merangkul punggung Jason kemudian mengelus-elus di sana. “Mah, ... kalau boleh tahu, ... sebenarnya apa yang Mamah mau? Sebelum dan sesudahnya saya minta maaf. Bukan bermaksud lancang apalagi tidak sopan dan tidak bisa menghargai Mamah. Namun, memangnya Mamah enggak cape? Aku yang lihat saja kasihan. Bukan hanya Jason yang terluka, tapi juga Mamah.”
“Karena semakin Mamah mendesak, mengikat Jason dengan banyak peraturan yang makin melukai Jason dan Mamah anggap itu yang terbaik, ... itu hanya akan membuat Mamah makin melukai diri Mamah. Itu hanya akan membuat Jason makin meninggalkan Mamah.”
“Aku sudah minta Jason buat minta maaf ke Mamah. Bagaimana? Sudah? Salah satu dari kalian harus mau mengalah. Sampai kapan dan buat apa?”
“Hidup ini hanya sekali. Apa salahnya jika kita nikmati? Yang kita cari dalam hidup ini bahagia, kan? Ngapain cari yang ribet bahkan menyakitkan, kalau yang mudah saja ada?” Setelah berbicara panjang lebar sambil sesekali mengelus punggung Jason, fokus tatapan Malini, teralih sekaligus tertuju kepada Jason. “Papah minta maaf dong Pah.”
“Sudah,” yakin Jason yang jujur saja, gengsi.
Setelah menghela napas dalam, Malini sengaja berkata, “Lagi ...!”
“Tapi kayaknya yang Oma mau bukan permintaan maaf dari Papah deh, Mah,” ucap Ananda yang dari tadi sudah menjadi pendengar sekaligus pengamat yang sangat baik.
__ADS_1
Detik selanjutnya, semua fokus tatapan sudah langsung tertuju kepada Ananda.
“Apa?” lirih Malini sembari menatap teduh Ananda, meski sesekali, ia juga akan melirik nyonya Sheryn.
“Bayi,” ucap Ananda ragu-ragu cenderung takut, apalagi sang Mamah langsung melotot kemudian menatap Jason.
“B-bukan aku yang ngajarin,” ucap Jason sengaja buru-buru membela diri.
“Tapi memang Papah yang bilang. Papah bilang, ini rahasia,” yakin Ananda dan sudah langsung membuat Jason tak kuasa mengelak.
Lain dengan Jason, Malini sudah langsung memberi Jason lirikan penuh peringatan.
Malini yang awalnya memasang wajah marah kepada Jason, sudah langsung tersenyum haru menatap wajah Suaminya. Ia benar-benar bangga kepada Jason, yang meski sangat terluka, masih mau berusaha memperbaiki keadaan. Jason mau mengikuti arahannya, padahal Malini yakin, disakiti oleh orang terdekat bahkan itu oleh seorang mamah yang harusnya menjadi sumber kebahagiaan, sangat menyakitkan. Ada luka batin sekaligus mental yang tak jarang membuat seorang anak trauma dengan perlakuan kasar orang tuanya.
“Jangan gitu dong. Mamah kan capek dan pastinya mau istirahat juga. Gimana kalau kita makan di luar?” ujar Malini masih lembut. Malahan jika itu di depan nyonya Sheryn maupun Jeslyn, ia sengaja jauh lebih lembut sekaligus manis. Karena melalui sikapnya itu, ia ingin keduanya bersikap lebih manusiawi lagi.
“S-sayang, ... kamu jangan gitu dong. Aku kan belum kerja. Kamu ini, masa apa-apa serba kamu! Aku kan masih pengangguran sukses!” tegur Jason berbisik-bisik berakhir cekikikan, tapi masih bisa didengar jelas oleh nyonya Sheryn maupun Jeslyn.
Jeslyn yang tidak tahan, memilih mundur dan perlahan putar balik. Ia melewati anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas.
__ADS_1
Ibu Sheryn yang menatap tidak tega kenyataan Jeslyn sengaja berdeham. “Jika kalian sudah tidak ada kepentingan, silakan pergi segera!”
Mendengar itu, Jason sudah menatap kecewa sang mamah yang jujur saja sudah langsung membuatnya muak. Ia nyaris mema*ki mamahnya sendiri andai Malini tidak lebih dulu bersuara.
“Sampai kapan pun, meski kami tidak mungkin tinggal di sini, tempat ini akan tetap penting bagi kami karena Mamah ada di sini,” ucap Malini.
“Aku sayang Oma. Aku ingin Oma senyum. Ayo Oma, jangan marah-marah terus. Nanti Oma cepat tua loh. Papah pun kangen banget ke Oma. Papah bilang, Papah ingin dipeluk Oma juga, seperti aku yang sering banget dipeluk Mamah. Papah bilang, Papah juga kangen masakan Oma,” sambung Ananda sengaja bersuara. Kemudian, ia sengaja menggunakan kedua jemarinya untuk ditempelkan ke kedua sisi wajah Jason.
“Ya sudah, Pah, Nanda ... Oma pasti capek. Biar Oma istirahat dulu, ya. Jangan dipaksa-paksa. Pelan-pelan saja,” ucap Malini.
Sambil menatap sang mamah penuh keseriusan cenderung marah, Jason berkata. “Malam ini kita menginap di sini. Andai kita tetap enggak dibukain pintu kamar, kita bisa tidur di sofa atau numpang ke tetangga.”
Diam-diam, Malini melirik prihatin tatapan sang suami kepada nyonya Sheryn. “Ya sudah yah, Mah. Disambung nanti ya.”
“Oma beneran enggak mau main sama aku dulu?” tawar Ananda masih berusaha mengambil hati nyonya Sheryn dan sudah langsung ia anggap sebagai omanya.
Namun pada akhirnya, meski Jason dan Malini sudah membawa Ananda pergi kemudian menunggu di ruang tamu, Ananda yang melangkahnya masih harus berpegangan ke sekitar, atau malah merangkak layaknya bayi, sengaja mencari nyonya Sheryn. Jason dan Malini mengetahui itu, tapi Malini sengaja menahan Jason agar tidak menghalang-halangi usaha Ananda.
“Enggak apa-apa, Pah. Kita harus kasih Ananda kesempatan. Ananda bisa kok, apalagi kalau aku lihat, bukan hanya Ananda yang sudah langsung sayang ke mamah. Karena Mamah juga kelihatan tertarik,” yakin Malini yang kemudian melangkah ke dalam, berusaha mengawasi sang putra dari kejauhan. Di dalam sana, Jason sengaja merangkak hanya untuk mengikuti nyonya Sheryn yang malah meninggalkan Ananda. Ananda sengaja merangkak cepat menyusul nyonya Sheryn. Yang membuat Malini bangga, bocah itu sudah langsung tersenyum semangat ketika akhirnya tatapan mereka bertemu.
__ADS_1
Ananda menunggu di depan pintu sambil duduk lantaran tampaknya, nyonya Sheryn sampai sengaja mengunci pintu kamarnya agar Ananda tidak ikut masuk.