
“Kenapa harus dia? Kenapa dari semua wanita yang ada, justru dia yang kamu pilih?” tanya nyonya Sheryn.
Nyonya Sheryn berdiri bersedekap sembari menatap kecewa kepada Jason yang sampai detik ini masih mengemban Ananda. Bahkan meski kedua tangan putranya itu masih penuh luka yang tampak mulai kering, Jason tampak nyaman-nyaman saja mengemban Ananda.
“Nyaman. Memangnya Mamah enggak bisa lihat, betapa aku merasa sangat nyaman saat bersamanya maupun Ananda?” ucap Jason lirih tapi terdengar emosi bahkan di telinganya sendiri. Tak beda dengan suaranya, tatapannya kepada sang mamah yang tetap saja menatapnya kecewa setelah semua yang terjadi, juga tak kalah kecewa sekaligus emosi.
“Dari segi fisik, dia sangat cantik, bahkan meski dia sedang diam, atau malah baru bangun tidur. Dari segi cera berpikir sekaligus pendidikan, dia wanita terpelajar dan paham asam garam kehidupan. Dia wanita tangguh, meski dia dikelilingi banyak orang hebat.”
“Dia memberiku apa yang selama ini aku cari. Dia memperlakukanku layaknya anak, layaknya sahabat, suami, dan kadang dia akan sangat bergantung kepadaku.” Jason masih berbicara.
“Bersamanya, aku mendapatkan kebahagiaan yang dari dulu, dari aku kecil dan saat itu aku hanya kalian marahi bahkan pukul*i, aku impi-impikan.”
“Dia memang kor*ban saat dia masih kecil, tanpa harus aku sebutkan apa itu. Dia korban keegoisan sekaligus kejahatan demit berwujud manusia, persis seperti apa yang pernah aku lakukan. Bedanya, orang tuanya lebih enggak punya hati.”
“Namun layaknya aku pula, andai bisa memilih, aku juga tidak pernah mau dilahirkan oleh seorang ibu sepertimu. Andai bisa memilih, aku ingin dilahirkan oleh ibu sepertinya yang penuh kasih dan tetap mencintai anaknya tanpa jeda sesulit apa pun badai kehidupan yang menerjang.”
“Kesamaan kalian ialah, ... kalian sama-sama memiliki suami beja*t. Bedanya, suami pertamanya jauh lebih jahat karena dia sampai menghapus pernikahan mereka hingga anak ini, terlahir tanpa ayah bahkan sekadar untuk di akta.”
__ADS_1
“Dan bersamanya aku jadi paham, ... di atas langit masih ada langit. Di atas luka masih ada luka yang lebih. Di dunia ini benar-benar bukan hanya kamu yang terluka. Di dunia ini bukan hanya kamu yang menderita, Mah.”
“Sekarang aku datang dengan baik-baik, meski saat meninggalkan rumah ini, aku tidak melakukannya dengan baik-baik. Dan ....” Setelah sempat menatap sang mamah penuh kecewa sekaligus marah, Jason mendadak menunduk. “Aku minta maaf untuk itu ....”
Setelah berulang kali merasa tert*ampar atas pengakuan sang putra, permintaan maaf dari Jason sudah langsung membuat kedua matanya berkaca-kaca.
“Aku benar-benar minta maaf. ... maaf karena selama ini, aku belum bisa menjadi anak seperti yang kamu inginkan.” Walau berat, Jason berangsur menatap sang mamah. Air matanya jatuh di beberapa detik kemudian. “Mulai sekarang aku juga akan berusaha memaafkan kamu. Aku akan memaafkan Mamah karena selama ini ... Mamah tetap tidak bisa menjadi mamah yang aku harapkan.”
“Karena belajar dari semua yang sudah terjadi, ... aku boleh saja gagal menjadi seorang anak. Aku bahkan gagal memiliki keluarga sekaligus sekadar mamah impian. Namun, aku tidak boleh membuat anak-anakku mengalami kegagalan yang aku alami. Cukup aku saja yang merasakannya karena aku akan menjadi orang tua yang baik agar anak-anakku bahagia, agar anakku bangga memiliki aku sebagai orang tua!” ucap Jason makin berat seiring air matanya yang makin sibuk berjatuhan.
“Basket yang menjadi salah satu alasanmu pergi dari sini, juga tidak lebih berharga lagi?” tanya nyonya Sheryn sembari tersenyum sinis, meski kedua matanya yang basah juga mulai menjadi berwarna merah.
Namun sampai detik ini, nyonya Sheryn tetap memberinya senyum sinis. Senyum yang juga menjadi membuat wanita itu tampak jelas menyepelekan Jason.
“Sudah? Hanya itu yang ingin kamu katakan? Jika memang iya, kamu boleh pergi. Masih ingat letak pintu tanpa harus membuatku mengantarmu, kan?” ucap nyonya Sheryn, tapi di hadapannya, Jason yang menjadi tersenyum, berangsur menggeleng.
“Aku ... kami sudah menikah.” Jason menatap berat sang mamah. Dari cara wanita itu menatapnya, nyonya Sheryn tampak sangat terkejut. “Nanda sayang, ayo salim ke Oma. Kalau Oma tetap enggak mau, tab*ok saja!” Ia menuntun Ananda untuk menyalami tangan nyonya Sheryn. Namun karena Nyonya Sheryn tetap diam, ia sengaja menyalamkan kedua tangan Ananda ke tangan kanan nyonya Sheryn.
__ADS_1
Sementara itu, anggapan Malini bahwa penghuni rumah di sana tidak bahagia hingga rumah terasa tidak hidup, Malini kuatkan dengan sikap Jeslyn maupun nyonya Sheryn. Diajak salaman untuk formalitas saja, Jeslyn tidak mau.
“Ke sininya bareng siapa?” tanya Jeslyn.
“Sama suami dan anak,” lembut Malini sambil tersenyum manis. Seberapa pun marah, bahkan kecewanya dirinya, Malini merasa, bersikap manis sekaligus elegan, akan lebih membuat lawannya kesal sendiri.
Balasan Malini sudah langsung membuat Jeslyn memberinya tanggapan kurang nyaman. Dahi Jeslyn jadi dihiasi tumpukan kerut tipis, selain wanita necis itu yang menjadi terlihat gelisah karena kekesalan yang ditahan.
“Jason sudah cerita sedikit mengenai hubungan kalian. Termasuk kamu yang Jason bilang menyukai Jason, apalagi kalian dijodohkan. Jangan dipaksa, ya. Kasihan Jason bahkan kamu. Apalagi hubungan orang tuanya sudah membuat Jason sangat menderita,” ucap Malini masih sangat lembut penuh pengertian.
“Bukan urusanmu!” kesal Jeslyn yang detik itu juga langsung meninggalkan Malini. Jeslyn buru-buru masuk ke dalam.
Namun dengan cepat, Malini berkata, “Tentu urusanku karena aku istri Jason. Sebagai istri Jason, aku wajib memastikan bahwa suamiku bahagia, dan tak ada sedikit pun yang membuatnya tidak nyaman termasuk kamu!”
“Oma ... maafin Papah ya. Oma pun harus minta maaf ke Papah. Apalagi andai bukan Papah, apa lagi yang Oma punya? Oma opaku yang di rumah, mereka selalu bilang, anak dan cucu nomor satu. Mereka bahkan rela kehilangan semuanya. Layaknya Mamah Lini, yang rela melakukan apa pun asal aku bahagia,” mohon Ananda.
Jeslyn yang akhirnya sampai di sana, berangsur menghentikan langkahnya. Jelsyn menatap khawatir suasana di sana. Pertemuan yang berlangsung di ruang tamu samping setelah ruang keluarga dan tentu saja ruang tamu utama ia bertemu dengan Malini.
__ADS_1
Hanya saja, di luar dugaan Jeslyn, ternyata Malini juga sampai menyusul. Malahan, wanita itu terus maju bahkan melewatinya begitu saja. Bisa Jeslyn pastikan, Malini akan menghadap nyonya Sheryn.