
“Ini, enggak bisa minta contekan buat ngerjain kerjaan, ya?” tanya Jason kepada Malini yang duduk di sebelahnya. Malini yang kali ini memakai kacamata bening dan tengah mengetik di laptop, sudah langsung menatapnya heran. Walau perlahan, senyum lembut dari wanita itu juga hadir dan perlahan menjadi tawa kecil.
Tanpa menatap Jason lagi, tangan kanan Malini mengelus-elus punggung Jason dan perlahan memijat-mijat di sekitar sana.
Mendapatkan perhatian tersebut, Jason sudah langsung tersipu seiring tatapannya kepada Malini yang menjadi dipenuhi cinta. “Kalau kamu sudah begini, aku jadi pengin dinina boboin sekalian!” bisiknya dan langsung membuat Malini mendelik. Istrinya itu langsung menatap panik ke hadapan mereka. Karena di hadapan mereka, di kursi kerja bos yang ada di hadapan mereka dan sebelumnya ditempati Devandra, Ananda duduk di sana.
“Papah ngantuk, pengin dinina boboin?” lembut Ananda yang mewarisi sikap penyayang sang mamah.
Detik itu juga Malini jadi sibuk menahan tawanya. Lain dengan Jason yang langsung salah tingkah dan berakhir tersenyum tak berdosa.
“Kalau sudah gini, aku baru nyesel kenapa pas dulu sekolah sama kuliah, otakku transmigrasi sementara aku bablas bolos,” ucap Jason lagi yang kali ini sengaja berbisik-bisik tepat di sebelah telinga Malini agar tak lagi terdengar oleh Ananda, mengingat kejeniusan Ananda, membuatnya ada di bawah anak itu.
Malini hanya menertawakan suaminya. Ia menatap Jason kemudian berkata, “Mau sekolah lagi? Nanti bareng Nanda!”
Detik itu juga Jason langsung menatap Malini dengan lirikan penuh arti. Lain dengan Ananda yang langsung bersemangat karena berpikir bisa satu kelas dengan papahnya.
“Ya ampun satu kelas,” lirih Jason sudah langsung keki dan berakhir anteng. Ia memilih untuk fokus mempelajari dokumen berupa laporan keuangan perusahaan yang nantinya akan menjadi salah satu pekerjaannya. Karena seperti rencana, demi masa depan yang lebih baik, Jason setuju bekerja membantu Malini di perusahaan. Mereka bersama-sama mengurus Ananda sekaligus perusahaan.
Sore menjelang petang, kepulangan Malini dan Jason, disambut dengan beberapa mobil yang terparkir di pinggir jalan sekeliling rumah Tuan Maheza. Seperti biasa, Jason memboyong keluarga kecilnya menggunakan motor matic merah miliknya yang di beberapa bagian baret parah akibat kecelakaan. Kecelakaan ketika Jason berusaha menyusul Malini yang menemui coach Adrian.
“Ini pasukan Kurawa sudah pada datang, ya, Mah?” lirih Jason yang kemudian kebingungan lantaran Ananda menanyakan, siapa pasukan Kurawa yang Jason maksud.
Setelah kebingungan, Jason justru tertawa tak berdosa dan jelas sengaja dipaksak*an. “Kamu ini, ya, pinter banget jadi anak!” ucapnya sambil mendekap gemas wajah Ananda yang memang duduk di depannya.
__ADS_1
“Enggak hanya pasukan Kurawa, tapi juga para orang tua. Apalagi, ini posisinya yang dari kampung sudah datang dan ikut kumpul. Jadi, ... ya beneran rame banget, Pah!” ucap Malini.
“Kumpul keluarga rasa demo apa tawuran, ya?” komentar Jason yang kemudian tertawa.
“Ayo masuk, Pah!” ucap Malini sambil menepuk-nepuk pundak Jason. Sesekali, ia membenarkan kacamata bening yang saat ini masih melindungi kedua matanya.
“Ini aku disuruh masuk ke mana, Mah? Aku paling semangat kalau suruh masuk-masuk!” ucap Jason bersemangat.
Detik itu juga, Malini sengaja menggelitiki perut suaminya. Apalagi, sampai detik ini Ananda masih menengadah hanya untuk menatap wajah sekaligus menyimak dengan saksama ucapan Jason.
“Wah ... itu uncle kompak mau main basket, Pah!” heboh Ananda terperangah menatap pemandangan di depan sana. Karena meski baru mata kanannya yang berfungsi, ia yang telanjur menyukai basket setelah Jason mengajarinya, juga ingin menyaksikan sang papah turut main basket bersama para unclenya.
“Gabung loh, Pah. Kamu kangen main basket rame-rame, kan?” lembut Malini sudah langsung mendukung.
Ananda yang langsung cengengesan gara-gara balasan Jason kepada Malini, dengan sangat bersemangat meminta papahnya untuk ikut main basket juga.
“Jangan dulu lah. Takutnya Papah ganggu acara mereka. Malahan, Papah bisa disangka punya sindrom narsis. Nanti orang-orang mikirnya, Papah pengin selalu jadi fokus perhatian!” yakin Jason yang segera melewati garis gerbang rumah yang baru saja dibuka.
“Tapi kalau diajak, ikut saja, ya. Gabung gitu maksudnya. Tetap wajib hati-hati karena kaki sama tangan Papah masih belum sembuh total,” ucap Malini.
“Nanda, sini!” seru Rain dari tengah lapangan sana sambil melambaikan tangan kanan kepada Ananda.
“Itu mereka enggak ada yang enggak ganteng, ya? Bibit unggul semua. Macam mana pula wujud orang tuanya bisa nyetak bibit unggul begitu,” komentar Jason yang hanya membuat istrinya tertawa.
__ADS_1
“Dari semuanya, baru saja yang menikah. Itu, cucunya papah mamah angkatku. Mas Kim. Itu tuh, yang pakai kemeja pendek warna hitam. Anaknya sudah mau setahun,” ucap Malini.
“Oh, sudah ada yang nikah dan sampai punya anak? Aku pikir bujang semua. Tapi seru sih, masih bisa nongkrong. Mah, kalau aku nongkrong gitu, gimana?” balas Jason sudah langsung kepo.
“Nongkrong apaan? Kumpul keluarga dan kalau lagi kumpul gini, banyak yang bantu urus anak,” ucap Malini membantah anggapan sang suami.
“Oalah ... eh, berarti orang tua angkat Mamah, statusnya sudah punya buyut, ya? Keren ih ... masih muda sudah jadi buyut!” sergah Jason makin semringah dan sampai meminta Ananda untuk nikah muda, agar ia dan Malini bisa mengikuti jejak Tuan Maheza dan ibu Aleya.
Malini tak menegur ulah Jason. Meski kenyataan Jason yang sangat berisik, cukup membuatnya bertanya-tanya, mengingat porsinya berkali-lipat dari biasanya. Entah karena Jason terlalu bahagia, atau malah kebalikannya.
“Yuk sini ikut Uncle Rain. Sudah makin lancar belum jalannya? Senang yah, naik motor? Besok kalau sudah besar, kita bikin geng motor bareng terus kebut-kebutan bareng,” ucap Rain sudah langsung mengemban Ananda, mengambilnya dari depan Jason.
Jason terbengong-bengong menatap tak percaya Rain. Pemuda itu benar-benar memboyong Ananda dan Ananda pun sudah langsung pamit berakhir dadah.
“Mah, ternyata tuh anak lebih enggak waras dari aku, ya?” bisik Jason sambil menatap Malini. Namun sekali lagi, Malini malah cekikikan. “Mah, itu Nanda nanti ketularan loh. Aku saja ngomongnya selalu disaring penuh kode.”
“Nanti pasti Nanda langsung ceramah. Biasanya gitu, malah Rain yang belajar dari Nanda. Yuk aku kenalin kamu ke semuanya,” ucap Malini sembari turun dengan hati-hati.
“Aku memang belum kenal mereka, tapi sebagian dari mereka pasti sudah kenal aku!” ucap Jason yang buru-buru turun juga setelah memarkir motornya di tempat parkir khusus motor yang ada di samping depan kediaman Tuan Maheza.
Malini hanya mesem. Ia membiarkan Jason melepas helmnya, meski suaminya itu belum melepas helm di kepalanya sendiri. “Jangan sombong, ya. Harus tetap rendah hati layaknya filosofi padi. Makin berisi sekaligus makin berkualitas, makin menunduk juga kita.”
Jason sudah langsung tersipu. “Siap, Mamah sayang. Biar pun tampangku preman dan gayaku bar-bar, hatiku tetap pink penuh sama kamu dan Nanda!”
__ADS_1
Bersama Jason, Malini merasa kembali menjadi muda. Mereka layaknya ABG yang baru pacaran dan untungnya tak sampai alay.