
“Nanda ... demi kamu dan mamah, Papah beneran akan melakukan semuanya. Papah akan tunjukkan ke semuanya, bahwa Papah makin keren semenjak Papah punya kalian!” batin Jason yang baru saja melakukan selebrasi lagi dengan memamerkan foto keluarganya di seragam kedua yang ia pakai.
“Emang boleh, yah, sesweet itu? Anak dan istri nomor satu, dipamerin terus ke dunia!” lembut Binar jadi baper sendiri. Apalagi jika ia melihat interaksi Malini, Ananda, dengan Jason. Ketiganya menggambarkan keluarga kecil yang sangat manis. Di tempat duduk depannya, Malini balas melakukan gerakan hati dengan menempelkan jemari kedua tangan ke kedua sisi wajah.
Mendengar itu, Rain yang duduk di tempat duduk atas Binar duduk, bersama anggota keluarga yang lain sengaja berkata, “Itu belum apa-apa, Bi. Soalnya kalau kamu mau sama aku—AA Rain, pasti bakalan kasih yang lebih manis! Karena rencananya, aku mau bikin perusahaan manisan. Ada manisan janda, ada manisan duda, ada manisan mantan yang dulu mirip drakula, pokoknya semua manisan ada termasuk manisan dengan rasa yang pernah ada!”
Namun, Zayn yang sampai detik ini masih memilih duduk di sebelah Rain berkata, “Eh, bukannya kamu ada rencana buat jadi pengusaha batu nisan sekaligus jual tanah makan, ya?” Ia berangsur berdiri setelah berhasil membuat Rain menatapnya dengan jengkel.
Pak Ojan kembali mengajak joged pargoy guna merayakan apa yang baru saja Jason lakukan. Pemuda yang menjadi alasan mereka di sana sungguh bekerja keras dan bisa dipastikan akan membawa tim basket negara mereka, menjadi juara.
Musik dangdut koplo sudah disetel bahkan oleh pihak penyelenggara. Yang mana berbeda dari sebelum-sebelumnya, kini mereka yang mendukung tim Indonesia, termasuk para pejabat penting yang ada di sana, siap mengikuti tuntunan joged pargoy Ojan. Sekelas Ananda yang tepanjur kegirangan juga tak mau kalah. Ananda mengajak sang mamah berdiri untuk ikut serta merayakan keberhasilan sang papah.
“Serame ini! Heboh banget!” Dari lapangan, Jason terkesima melihat kehebohan yang seketika terjadi. Tatapannya yang sempat mengawasi sekitar, tertuju pada Ananda dan Malini. Terdengar suara pak Ojan yang masih memadu joged pargoy termasuk itu ketika pada akhirnya, pak Ojan mengeluhkan terkena sera*ngan encok.
“Dibilangin kalau Daddy sudah lansia, enggak percaya!” omel Rain. Lain dengan Adam yang kini telah menjelma menjadi pria dewasa dan tak segan menggendong Ojan.
“Jangan bawa Daddy ke rumah sakit kalau rumah sakitnya belum sediain infus dengan isi ulang berbagai rasa yah, Mas. Sekarang Daddy sudah kaya, jadi enggak akan bingung meski nginep di rumah sakit bahkan di kasih ruang rawat pipiaipi sekalipun!” ucap pak Ojan layaknya bocah. Ia menempel pada punggung putra sambungnya, dan memang mengurusnya penuh kasih. Tak kalah dari kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, meski kedekatan mereka tak sampai dihiasi hubungan darah.
__ADS_1
Karenanya, Jason yang mengetahui kisah pak Ojan dan Adam yang hanya sebatas hubungan anak dan ayah sambung dari Malini yakin, kelak, pemandangan layaknya kini juga yang akan mewarnai hubungannya dan Ananda. Asal Jason tetap menjadi papah yang baik untuk Ananda, pasti Ananda tidak kalah penyayang dari Adam kepada pak Ojan. Terlebih masih dari Malini juga, meski pal Ojan tipikal tidak bisa diam dan cenderung sering rusuh, kepada anak-anak bahkan anak sambung, pak Ojan sangat tanggung jawab sekaligus sangat sayang.
“Bismillah lah, ya. Semoga, aku juga bisa jadi papah tanggung jawab seperti pak Ojan, bahkan bila bisa lebih!” batin Jason. Kini, ia kembali fokus ke pertandingan apalagi kesibukannya memasukkan bola membuat lawan tak segan langsung menyerang*nya.
Ada adegan tubuh Jason terpental dan berakhir duduk spontan, tapi kenyataan tersebut tidak dianggap sebagai pelanggaran oleh wasit yang di sana. Sempat berusaha menerima dan Jason juga sudah langsung bangkit, permainan kas*ar dari pihak lawan juga menjatuhkan anggota tim yang lain, sebelum beberapa bola dari lawan dapat menembus ring basket tim Jason.
Pertandingan sudah mulai tidak sehat dan sebagian tim juga sudah tersulut emosi. Pelatih dari tim Jason yang tak segan teriak meluapkan kekecewaannya. Pelatih yang bukan lagi pak Adrian. Tiga macam foul, atau itu pelanggaran yang bisa membuat seseorang dikeluarkan dari lapangan, langsung diteriakkan oleh sang wasit dengan sangat tegas.
“Sabar-sabar. Hal semacam ini sudah biasa. Kalem saja, yang penting kita jebol ring mereka. Sudah, enggak apa-apa. Kita main dengan benar saja layaknya manusia. Lagian, enggak sehat juga andai menang tapi curang,” ucap Jason dan sudah langsung mengejutkan anggotanya.
“Semangat Sayang!” teriak Malini.
“Semangat Papah!” Ananda tak mau kalah sambil melambai-lambaikan kedua balon tepuk yang masih ada di kedua tangannya.
Sementara yang lain kompak berniat menandai wasitnya.
“Tuh wasit kan bukan orang Indonesia. Dan sepertinya dia belum tahu kalau di Indonesia bisa bikin orang koid tanpa menyentuh!” komentar pak Ojan yang sudah duduk dengan anteng di antara Adam dan ibu Rere.
__ADS_1
“Lihat saja mau sampai kapan,” komentar Adam masih fokus menatap ke depan.
“Setelah ini kita ajak dia jalan-jalan ke rumah. Jak makan yang kenyang biar dia tahu bagaimana memperlakukan orang bahkan lawan,” komentar Tuan Maheza.
Pak Ojan yang tak mau keluarga sekaligus pendukung tim Jason kecewa atau setidaknya loyo, sengaja berseru sambil menepuk-nepuk balon tepuknya lagi dengan sangat bersemangat.
“Kamu tetap keren Pah. Asli padahal sebelumnya aku sudah takut banget kamu emosi dan balas lawan kamu dengan kasar, tapi alhamdullilah. Bismillah ayo kamu bisa Pah!” batin Malini yang sungguh berdoa untuk keselamatan sekaligus kemenangan sang suami beserta tim.
Pertandingan kembali dilanjutkan. Permainan kas*ar dan harusnya pelanggaran, masih mewarnai dari tim lawan. Sesekali tim Jason membalas dengan hal serupa, tapi mereka kembali melanjutkan permainan mengandalkan kemampuan.
“Harusnya kamu yang maju, Pri! Kamu kan punya jurus banti*ng legendaris di novel : Pernikahan Suamiku (Istri yang Dituntut Sempurna)!” protes pak Ojan.
Dengan sabar, pak Sepri yang tetap menatap lurus ke depan menyaksikan pertandingan dengan skor tim Jason yang nyaris terkejar berkata, “Biar nanti aku jadi pelatih banti*ng-membant*ing secara khusus!”
Mendengar itu, pak Ojan yang kadang menyukai hal kebat*ilan, langsung bersemangat. “Bantin*g wasitnya, kamu berani enggak, Pri?”
“Berani bayar berapa kamu, berani suruh aku banti*ng orang enggak berguna begitu?” balas pak Sepri dengan santainya sambil menatap pak Ojan. Tapi lawan bicaranya itu malah ngakak.
__ADS_1