Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
46 : Pasukan Kurawa Dan Dorongan Main Basket


__ADS_3

Jason yang sudah langsung membawa tas mereka, termasuk tas sekolah Ananda, mengajak Malini untuk menyusul Ananda. Namun, maksud Jason mengajak Malini menyusul Ananda bukan untuk mengambil bocah itu. Melainkan untuk menyapa para Kurawa yang sedang main basket dan kerap mengumbar tawa.


“Takutnya kalau langsung bablas meski sudah sampai nyapa, takutnya dikira sombong. Hati dan pikiran orang kan mana tahu,” bisik Jason kepada Malini.


Malini yang awalnya sudah tidak membawa apa-apa, sudah langsung tersipu. Ia merengkuh lengan kiri Jason menggunakan kedua tangannya. Meski selanjutnya, usahanya mengambil alih tasnya, tetap tidak Jason izinkan.


“Sudah, enggak apa-apa,” yakin Jason.


“Nah, Jason sudah datang. Kalian sana jadi satu, lawan aku sama Jason, ya?!” seru Rain yang tak segan mengajak saudara-saudaranya taru*an.


“Taruhan? Maksudnya, kamu anaknya Paojan mau ngajak kita-kita jud*i?!” ucap Zayn, si paling nyinyir, anaknya papah Azzam dan mamah Sundari. Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu selalu paling bisa membuat Rain diam. Namun, alasan Rain diam justru karena saking jengkelnya.


“Sudah ... sudah, sekalian ambil sapu sam pengki buat bersih-bersih. Daripada ribut gelud cuma dapat capek, mending lomba bersih-bersih terus yang menang,” ucap Kim bermaksud melerai.


“Yang menang dapat istrinya orang!” ucap Rain yang sudah langsung ngakak, tapi langsung mengkem setelah tangan kanan Ananda, menabo*k mulut Rain.


“Enggak boleh bilang begitu. Enggak sopan. Nanti aku laporin ke kak Ojan, loh!” ucap Ananda yang memang dewasa terlalu dini saking jeniusnya.


“Mana mungkin si Paojan marahin Rain. Pelopornya kan dia! Hahaha!” ucap Zayn dan sudah langsung minggat kabur dengan jurus andalan yaitu lari.


Dengan segera Malini mengambil alih Ananda dari Rain yang menyerahkannya kepadanya. Rain melakukannya dengan sangat buru-buru lantaran pemuda itu buru-buru menyusul Zayn.


“Para kurawa ternyata lebih waras dari yang aku duga, ya?” lirih Jason yang menertawakan kebersamaan di sana.

__ADS_1


Malini langsung mesem dan perlahan menatap kedua mata Jason. “Kami layaknya anak-anak pada umumnya. Meski kami jauh lebih cepat baikan di setiap perselisihan.”


“Gampang ribut, gampang baikan—intinya, ya?” ujar Jason dan sudah langsung membuat Malini tersipu sekaligus mengangguk-angguk.


Kemudian, yang Malini lakukan ialah membantu sang suami kenalan dengan para kurawa yang jumlahnya ada belasan. Karena kebetulan, semuanya sedang berkumpul. Tampak Narendra selaku kembaran Khalisa, dan juga merupakan anak laki-laki tertua dari mas Aidan yang menggandeng Rain maupun Zayn. Pria itu juga yang memisahkan keduanya karena memang, Rain dan Zayn sampai sibuk menggelitiki satu sama lain hingga meringkuk guling-guling di lantai lapangan basket.


“Ini paling tua siapa?” lirih Jason keder pada anggota Kurawa versinya dan beberapa dari mereka wajahnya tergolong mirip.


“Iniii ... ini. Wajahnya paling tua soalnya mirip Paojan daddynya!” ucap Zayn sudah langsung berisik sambil menuntun maju sosok bocah yang memang sangat mirip Ojan.


Ketika Rain langsung mendelik menatap Zayn dan segera merangkul sekaligus melindungi sang adik, tidak dengan Narendra yang sudah langsung menjewer Zayn.


“Yang paling tua itu Kakak kami. Mas Adam. Tapi ya paling dua atau tiga tahun lebih tua dari mas Narendra,” ucap bocah yang mirip Ojan dan malah bersikap tenang layaknya orang dewasa.


“Aku fans-nya kak Jason!” ucapnya.


Membahas basket dan sudah langsung membuat Jason mendadak melow, Jason sempat membeku. Namun pemuda itu segera menuruti keinginan Jian—adik Rain yang mirip Ojan.


“Besok kalau aku ke apartemen, aku kasih kaus basket koleksiku buat kamu, ya. Kamu suka basket juga? Tadi aku lihat, kamu jago dan kaki kamu tinggi ... cocok jadi pemain basket,” ucap Jason sambil menandatangani baju basket bagian punggung Jian. Pemuda itu sudah menyiapkan pulpen dan spidol khusus saking niatnya meminta tanda tangannya.


“Omong-omong basket, kamu sudah tahu kalau kasus yang viral itu, bikin masyarakat luas menandatangani petisi agar kamu balik ke tim basket lagi? Si Adrian sudah langsung diganti karena kasusnya telanjur vira*l,” ucap Kim dengan sangat hati-hati. Sebab pemuda berusia dua puluh lima tahun itu sadar, basket dan segala skandal yang sedang ramai dan itu berkaitan dengan Jason, sangat sensit*f untuk Jason.


“Meski kamu telanjur sakit hati, dunia basket sekaligus negara ini butuh bantuan kamu buat lanjutin pertandingan, Jas!” ucap Narendra.

__ADS_1


“Aku sudah nabung buat beli tiket pertandingan khusus Kakak!” sergah Jian yang mewarisi sifat santun sang mamah. Ia menatap kedua mata Jason dengan sangat memohon sekaligus berkaca-kaca.


“Ini pasti berat buat Jason,” batin Malini ketika para Kurawa keluarga mereka, sepakat meminta sekaligus mendukung Jason untuk maju.


“Masalah kamu kan sama si Adrian, sementara sekarang, pelatihnya sudah diganti. Pemain inti suka kembali dilantik ulang, dan kami dengar, kamu tetap jadi kandidat utama. Coba, Nanda dikasih semangat combo buat Papah. Mbak Malini juga, tolong didukung suaminya!” lanjut Narendra.


“Ketik Reg spasi Bagi Pulsa, kirim ke nomor hapeku. Hahahaha!” berisik Zayn dan langsung dijitak oleh Narendra yang memang jadi pengasuh untuk setiap adiknya, terutama Zayn.


Setelah pertemuan sore tadi dengan para Kurawa yang sampai membahas pertandingan basket, Jason jadi tidak baik-baik saja. Jason jadi gelisah dan sampai tidak bisa tidur.


“Mau, ya?” lirih Malini terkantuk-kantuk dan memang terbangun lantaran Jason tak kunjung tenang apalagi tidur. Di hadapannya, Jason yang masih mendekapnya, langsung kebingungan menatapnya.


“Tadi kan udah, Mah. Apa Mamah mau lagi?” lirih Jason terheran-heran.


“Bukan mau yang itu, tapi mau balik main basket, meski cuma buat pertandingannya,” balas Malini yang jadi menertawakan dirinya sendiri. Terbiasa serba kode untuk urusan kesenangan batin mereka, kini mereka justru tersesat sendiri.


Jason refleks tersipu dan perlahan menempelkan bibirnya yang sebelumnya sengaja ia basahi, ke dahi Malini. “Kamu mau aku main?” lirihnya setelah hampir lima menit lamanya, ia kembali diam.


Malini mengangguk-angguk kemudian mendekap manja pinggang sang suami menggunakan kedua tangannya. Ia yang memaksakan diri untuk menatap kedua mata suaminya, hingga ia mengesampingkan rasa kantuknya berkata, “Enggak hanya aku, tapi juga Nanda ... bahkan semuanya.”


“Tapi aku mau tau pendapat kamu. Tanpa dorongan dari pihak lain, bahkan itu dari Nanda,” ucap Jason lagi yang jujur saja trauma setiap langkahnya kembali dikait-kaitkan dengan Malini, dan lagi-lagi viral hingga istrinya makin banyak beban.


Karena bisa Jason pastikan, kini, setiap langkah mereka sudah akan langsung menjadi pusat perhatian kemudian jadi bahan obrolan hangat di jejaringan sosial.

__ADS_1


__ADS_2