
Ananda sempat terbangun dan turut menyaksikan pengobatan yang Malini lakukan pada luka di tangan, wajah, maupun kaki Jason. Namun tiba saatnya tidur, yang Ananda lakukan ialah buru-buru mendekap sekaligus mengelo*ni Jason. Jadi, posisi Ananda benar-benar tidur di antara Malini dan Jason.
“Papah, kenapa serigala jahat? Dia selalu jahat di setiap dongeng. Di dongeng yang Mamah ceritakan ke aku pun, Serigala tetap jahat,” ucap Ananda.
“Karena selama menjadi bagian dari cerita, serigala memang jahat dan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya dengan cara licik. Ya ... sebelas dua belas sama Devandra. Bedanya, kalau di cerita si serigala dibilangnya ‘serigala berbulu domba’. Nah si Devandra, justru ‘serigala berbulu rumput atau malah semak-semak.’ Yang kayak Devandra ini yang lebih bahaya karena kelihatannya orang baik dan pintar bersandiwara, tapi aslinya jahat banget macam dakjal yang sedang menjelma menjadi manusia!” ucap Jason mendadak menggebu-gebu. Adegan mendongengi Ananda dan itu berkaitan dengan serigala dan segala kelicikan sekaligus kejahatannya, nyatanya malah membuatnya teringat Devandra.
Jason dapati, di seberang sana, Malini yang ia yakini sudah tidur malah sampai agak bangun kemudian menatapnya khawatir sambil menggeleng. Jason paham, Malini melarangnya berkata seperti tadi bahkan meski itu kebenaran mengenai Devandra yang lebih licik sekaligus jahat melebihi serigala. Namun, Jason tidak peduli dan memilih tetap mendekap hangat Ananda meski ia harus melakukannya dengan hati-hati mengingat kedua tangannya masih penuh obat merah.
“Bicara jujur sejujur-jujurnya ke anak-anak apalagi Nanda juga perlu, Mah. Sangat perlu malah karena pada kenyataannya, hidup ini bukan negeri dongeng yang cukup abracadabra, bisa langsung berubah. Apalagi kalau kenyataannya, Devandra malah begitu. Ya sangat berbahaya. Soalnya kalau kita enggak mulai kasih tahu arahan benar dari sekarang, takutnya pas Nanda enggak sengaja ketemu Devandra dan orangnya, Nanda malah dirac*uni hal-hal yang enggak jelas. Memang Ananda pintar, masalahnya itu tetap enggak menjamin semuanya akan baik-baik saja andai Nanda sampai kemakan ucapan mereka. Awas saja kalau mereka beneran berani macam-macam, aku bakalan ngamuk melebihi emak-emak yang selalu terdepan sekaligus tidak pernah mau disalahkan!” ucap Jason dengan suara lirih tak lama setelah ia memergoki Ananda tidur.
Malini yang berangsur benar-benar duduk selonjor, tak langsung menjawab. Wanita itu tampak merenung serius sebelum akhirnya mendukung keputusan sekaligus arahan Jason.
“Ya sudah gimana?” tanya Jason meminta kepastian.
Malini berangsur menatap Jason. “Ya yang seperti tadi Papah katakan.”
Kali ini justru jadi Jason yang terdiam sekaligus tampak merenung serius. Namun tak lama berselang, Jason berangsur mengangguk-angguk.
__ADS_1
Mendapati kenyataan tersebut, Malini refleks menghela napas lega. “Nanda sudah tidur lagi kan?” lirihnya memastikan. Di hadapannya, Jason yang ia pergoki tengah menatap wajah Ananda dengan saksama, sengaja mengangkat sebelah tangan Nanda. “Menurut yang lagi viral begini, kalau tangannya enggak turun, berarti beneran tidur.”
Malini mesem sambil menggeleng tak habis pikir menanggapi ulah suami barunya. “Kalau Nanda sudah tidur, Papah mau, enggak? Kalau enggak ya aku juga mau langsung tidur.”
Mendengar apa yang baru saja Malini katakan, Jason benar-benar terkejut. Matanya langsung menatap heran Malini. “Lah, aku saja masih pengangguran sukses, masa mau berharap jatah rutin. Enggak ... enggak. Jangan samakan aku dengan Devandra. Nanti saja kalau aku sudah kerja dan kasih Mamah jatah materi tetap!” yakinnya, tapi Malini malah jadi sibuk menahan tawa.
“Ih kok malah diketawain?” protes Jason masih berbisik-bisik.
Malini berangsur menggeleng sekaligus mencoba mengakhiri tawanya. “Ini beneran enggak mau?”
“Harusnya tadi enggak usah disinggung. Harusnya aman-aman saja karena otakku enggak mikir macam-macam apalagi traveling. Tiket buat masuk ke yang benar-benar surga dunia beneran enggak ada diskon. Kalau belum kasih nafkah lahir, jangan harap minta yang batin apalagi masuk surga. Buat senang-senang di luar saja wajib bayar, apalagi sama istri,” ucap Jason yang kali ini melirik jengkel Malini. Hanya saja, wanita itu malah kembali sibuk menahan tawa, dan Jason yakin, tawa Malini masih berkaitan dengan jawabannya.
“Asli aku jadi tegang gini, aku saja bingung. Malahan, kenapa kamu enggak ada tegang-tegangnya, Mah?” protes Jason meski ia masih melakukannya dengan suara lirih.
Malini yang masih susah payah menahan tawanya, jadi tidak jadi kembali merebahkan tubuh. “Maunya gimana?”
“Aku baru sadar loh, dari tadi Malini sibuk senyum bahkan ketawa. Secantik itu, semanis itu jadinya. Lah, Devandra carinya yang kayak apa? Beneran hanya karena sudah enggak per*awan? Ayo coba kita lihat ke depannya. Ayo coba, kita ubah sedikit gaya Malini biar lebih elegan bahkan menggo*da. Nangis darah, nangis darah kamu Dev! Tunggu saja, ya. Aku beneran bakalan jadiin hal ini, sebagai misi,” batin Jason.
__ADS_1
Setelah semalaman tidak bisa tidur gara-gara keputusannya yang menolak menyentuh Malini sebelum ia memiliki pekerjaan sekaligus memberi Malini maupun Ananda nafkah lahir, Jason menjadi orang yang bangun paling akhir. Aroma segar sudah menyapanya dari kamar mandi yang terbuka sempurna dan lampunya masih dibiarkan menyala. Bisa Jason pastikan, anak istrinya sudah mandi dan tinggal merapikan penampilan saja.
“Papah!” seru Ananda yang segera berpegangan asal ke sekitar hanya untuk menghampiri Jason. Ananda tetap memegangi botol berisi susu cokelatnya.
“Pagi, Pah?” sapa Malini yang buru-buru membuka handuk dari kepalanya. Ia segera menyalakan hair dryer di meja riasnya dan segera mengeringkan rambutnya.
“Astaghfirullah si Malini niat banget tebat pesona menggod*a gitu. Sekarang saja kepalaku masih seberat ini. Rasanya nih kepala mendadak ada lima! Namun sekarang kamu malah ... ayolah hati, mata, tangan, sama yang di bawah enggak bisa dibohongi kamu itu istriku dan aku berhak memilikimu lebih dari apa pun,” batin Jason, masih tetap bisa tersenyum kepada Ananda. Ia sengaja turun dari tempat tidur kemudian mengemban Ananda yang segera ia pangku.
“Papah masih sakit? Mamah bilang, Papah wajib pijat biar badannya enggak pegal dan Papah segera sehat,” ucap Ananda. Sambil menatap kedua mata papahnya, ia juga lanjut menghabiskan susu cokelatnya.
Jason yang sudah langsung menyikapi Ananda dengan senyum hangat, mengangguk-angguk. “Iya, nanti Papah pijat ke mamah saja.”
Ananda langsung mengangguk-angguk, kemudian mengabarkannya kepada sang mamah sambil berseru mengingat suara hair dryer yang memang sangat berisik. “Mamah, Papah bilang, nanti Papah mau pijat ke Mamah saja!”
Malini yang tidak begitu mendengar ucapan Ananda meski bocah itu ia yakini sampai berteriak-teriak, sudah langsung tersenyum sambil mengangguk-angguk, menatap Ananda yang dipangku Jason, penuh cinta.
“Enggak tahu kenapa, pernikahan kami membuat beban hidupku langsung berkurang,” batin Malini yang kemudian juga membagi senyumnya kepada Jason.
__ADS_1
“Ya Tuhan ... baru kali ini aku merasa kalah dan itu hanya karena senyum istriku sendiri,” batin Jason jadi tak yakin, dirinya bisa tahan untuk tetap tidak menyentuh Malini seperti niat sekaligus tekadnya.