
Kenyataan Ananda yang terus diabaikan, berjam-jam, hingga hampir dua jam lamanya membuat Malini bertanya-tanya. Ada apa gerangan? Kenapa seorang wanita, sekelas nyonya Sheryn yang sudah memakan banyak asam garam kehidupan, bahkan Malini dan Jason sudah memberikan banyak arahan, tetap keras kepala melebihi batu?
Malini yang turut berdiri mengawasi sang putra dari kejauhan jadi tidak tega. Kedua kakinya saja terasa sakit, apa kabar kedua kaki Ananda yang memang sakit? Kemudian, ketika Malini melongok Jason, suaminya itu sampai ketiduran di sofa. Namun karena bagi Malini suasana sudah sangat tidak memungkinkan, ia sengaja membangunkannya. Tentu saja Malini melakukannya dengan sangat lembut bahkan sopan—alasan utama yang membuat Jason dan nota bene korban broken home sekaligus KDRT orang tuanya, merasa begitu nyaman.
“Aku mau tanya,” lirih Malini dengan kedua tangan masih membingkai wajah suaminya.
Jason yang awalnya masih terkantuk-kantuk, tampak berusaha serius. Kedua matanya berangsur terbuka dengan sempurna menatap Malini, meski Malini yakin, pria itu melakukannya karena terpaksa.
“Ini rumah siapa?” lanjut Malini dan sudah langsung membuat Jason kebingungan.
“Pah ...?” tagih Malini lantaran Jason malah kebingungan.
“Aku enggak amnesia loh, Mah,” balas Jason yang kemudian mengerjap, membenarkan posisi duduknya dan berakhir berdeham di tengah keseriusannya menatap Malini.
“Bukan itu maksudnya. Aku hanya ingin tahu, memastikan, ini rumah murni punya papah kamu, ... papah sambung maksudnya, apa rumah mamah kamu, apa rumah bersama, apa rumah bersama tapi hanya sedikit dari pihak mamah papah kamu? Maksudnya, pemilik yang mendominan siapa?” lembut Malini lagi. Ia tak lagi membingkai wajah Jason menggunakan kedua tangannya, tapi kedua tangannya itu berangsur merapikan rambut juga kemeja Jason yang agak berantakan.
Jason tidak menjawab dan malah mendadak diam. Pria itu tampak merenung dengan sangat serius. Namun, dengan sabar sekaligus setia Malini menanti. Malini sampai duduk karena Jason membuatnya merenung lebih dari lima menit.
__ADS_1
“Papah sambungku. Mamah hanya berkontribusi sedikit. Namun aku pernah tinggal di sini sebelum akhirnya balik ke apartemen dan ternyata sebelahnya itu punya kamu,” ucap Jason.
“Jadi ...?” lanjut Malini ingin mengetahui lebih lagi. “Aku ingin tahu dan harus tahu agar aku bisa lebih paham, kenapa kok begini?”
Detik berikutnya Jason langsung menepis tatapan Malini. “Sebenarnya aku malu kalau harus cerita ini.”
“Enggak apa-apa. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Ngapain harus malu? Kamu saja sudah tahu semua tentang aku. Kamu yang mendukungku buat enggak merasa minder dan semacamnya, kab?” balas Malini. Di sebelahnya, Jason yang masih serius dan memang tampak menahan malu, hanya sesekali menatapnya.
Dari cara Jason menyikapinya, Malini berpikir, ada hal fatal yang telah terjadi dan itu membuat Jason malu sekaligus terbebani.
“Pernikahan mamah dengan papahku enggak bikin mamah bahagia. Mereka sering bertengkar, mamah sering dapat KDRT sebelum melampi*askannya kepadaku. Papah sambungku ini dulunya mantan mamah sewaktu SMA. Lama-lama akhirnya mamah ketahuan selingkuh dengan papah sambungku. Mereka akhirnya berpisah meski aku sempat memohon agar mereka tak melakukannya. Setelah perpisahan itu mamah dan papah sambungku akhirnya menikah. Namun saat itu, Mamah tidak membawaku. Jadi, aku dibelikan satu unit apartemen yaitu yang di sebelahmu. Yang aku tahu, uang itu patungan dari papah kandungku dan manah. Selama itu juga, aku hidup bersama seorang pengasuh perempuan. Saat itu usiaku masih enam tahun, dan hanya papah yang sesekali mengunjungiku.”
“Sementara alasanku tidak tinggal di sini lagi karena aku terus bermain basket sementara mamah dan papah sambungku ingin aku fokus kuliah agar aku bisa melanjutkan bisnis keluarga. Terakhir, sekitar dua tahun lalu ketika usiaku genap dua puluh enam tahun, pesta ulang tahun yang mamah papah siapkan ternyata juga untuk acara pertunanganku dengan Jeslyn. Sejak itu juga aku membatasi hubungan kami.”
Bukan hanya Jason yang menangis. Karena Malini yang mendengarnya pun sudah sampai sesenggukan. Terlebih selain pernah menjadi korban kekeja*man orang tua, tumbuh di tengah orang-orang baik yang juga berhati lembut, membuat hati Malini tak kalah lembut.
“Sudah, sekarang aku tahu. Keadaan enggak mungkin dipaksa lagi. Sekarang, yang penting kita sudah kasih kabar. Selebihnya, terserah mamah kamu. Kita beneran enggak bisa memaksanya berubah karena ini keputusannya. Biarkan mamah menjalani hal yang menurutnya merupakan kebahagiaannya. Yang terpenting kita juga bilang ke mamah, bahwa kapan pun dia butuh, kita bakalan ada!” lembut Malini sambil menghapus tuntas air matanya, meski air matanya sendiri juga sibuk berlinang.
__ADS_1
Pada akhirnya, Jason dan Malini undur dari sana. Tentu saja selain membawa serta Ananda yang awalnya ingin membantu mereka membujuk nyonya Sheryn, mereka juga sengaja pamit.
“Kapan pun Mamah butuh, kami ada buat Mamah.” Jason mengakhiri ucapannya dengan berat. Kedua matanya masih sembam, selain cairan hangat bening yang tak hentinya mengalir dari kedua sudut matanya.
Karena situasi tidak memungkinkan, Malini sengaja membawa Jason dan Ananda ke apartemennya. Ia sudah mendapat izin secara khusus dari ibu Aleya, tapi karena keluarga dari kampung masih di Jakarta, Malini berencana untuk pulang ke rumah orang tua angkatnya keesokan harinya.
Sebenarnya, alasan Malini sengaja membawa keluarga kecilnya tinggal di apartemen, tak semata karena emosi sekaligus kesedihan Jason yang mendadak kembali diungkit. Namun, Malini juga menjaga perasaan Jason yang masih merasa menjadi suami tidak berguna karena belum juga bekerja.
“Apartemen kalian rapi banget. Bersih, bahkan tetap wangi meski enggak dihuni” ucap Jason sambil mengawasi suasana apartemen Malini yang memang sangat rapi.
Malini yang tengah membuka jendela kamarnya berkata, “Ya iya ... yang nempatin kan manusia. Otomatis ya pake hati. Harus gimana biar tetap rapi.”
Mendengar itu, Jason yang menurunkan Ananda sudah langsung melotot syok. Namun perlahan, ia berakhir tersipu dan bahkan tertawa.
“Dikiranya aku bukan manusia, kalau gitu, kenapa kamu mau nikah sama aku?” protes Jason di sela tawanya.
Ananda yang masih berpegangan ke ranjang tidurnya berkata, “Papah kan Papahnya aku!”
__ADS_1
“Oh iya ...!” Apa yang Ananda katakan sudah langsung membuat Jason sangat bahagia. Kebahagiaan yang membuatnya bergegas mengemban Ananda lagi, meski ia baru menurunkannya.
Bersama Ananda dan Malini, Jason selalu merasa sangat bahagia. Karena saat bersama keduanya, Jason merasa sangat dihargai. Malini dan Ananda sekaligus keluarga besar keduanya membuat Jason merasa dibutuhkan.