Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
36 : Mengatur Jadwal


__ADS_3

“Papah bilang, kalau mainannya ditaruh situ, jadi lebih ringkas dan enggak ribet. Kok sekarang dimasukin ke kontainernya lagi?” tanya Ananda sambil jongkok di hadapan Jason. Ia masih bertahan di tempat tidur.


“Karena Papah takut ke Mamah!” ucap Jason sambil menahan tawanya dan tak berani melirik Malini yang juga tengah membantunya membereskan mainan. Di sebelahnya, Malini yang jadi diam sekaligus sangar, tengah memasukkan setiap mainan ke dalam kotak kontainer.


“Harus dibiasakan tetap rapi. Kalau habis main dirapikan sendiri, jangan suruh-suruh Mbak. Belajar mandiri biar Nanda serba bisa. Kalau Papah belum tahu, Nanda juga harus ingetin, ya! Papahnya dikasih tahu!” lembut Malini sembari sibuk menyusun.


Sadar ada celah untuknya membela diri, berlandaskan kekuatan jiwa jailnya, Jason menatap Ananda. “Iya, kok tadi Nanda enggak ingetin apalagi kasih tahu Papah?”


Mendengar itu, Malini langsung melotot kemudian menatap Jason.


“Kan Papah sudah gede. Papah sudah nikah, jadi harusnya enggak perlu diingatkan apalagi dikasih tahu lagi,” yakin Ananda dengan santainya.


Jason sudah langsung tak berkutik. Lain dengan Malini yang jadi diam-diam mesem dan perlahan menahan tawa.


“Eh ...,” lirih Jason menatap tak percaya Malini.


Tanpa menatap Jason, Malini yang sadar sang suami tengah mengawasinya, berkata, “Jangan mengajari Nanda se*sat. Nanti Papah yang tersesat sendiri, terus diceramahi!”


Bukannya marah, nasehat yang Malini berikan justru membuat Jason tersipu. Yang mana setelah itu, hal yang Jason lakukan justru mendekap mesra Malini dari samping. Ulahnya itu langsung membuat Ananda tertawa kegirangan dan entah kenapa. Namun yang jelas, Ananda terlihat sangat bahagia.


“Itu bocah kenapa?” heran Jason menatap bingung Ananda maupun wajah Malini, silih berganti.


Malini yang merasa tak kalah heran, juga jadi menatap Ananda maupun Jason, silih berganti. Sampai detik ini, Ananda masih tertawa. Hingga Malini merasa, gen ‘clengean’ Jason sudah telanjur menempel ke Ananda lantaran keduanya kerap bahkan terbiasa bersama.

__ADS_1


“Berarti kalau sampai mirip aku, Nanda beneran keren!” ucap Jason dengan bangganya, setelah sang istri mengatakan, bahwa Ananda sudah tert*ular sifat Jason yang tidak jelas sekaligus clengean.


Malini hanya menggeleng tak habis pikir. Sampai detik ini, kedua tangannya masih memasukkan setiap mainan, ke dalam kontainer penampungnya. Kendati demikian, tatapannya aktif bekerja termasuk mengawasi suasana sekitar. Kedua tangan Jason yang baret parah, menjadi tujuan akhirnya lantaran keadaan di sana dirasanya baik-baik saja.


“Itu harusnya kamu enggak banyak gerak, jadi berdarah-darah gitu,” tegur Malini.


Luka-luka di kedua tangan Jason yang harusnya sudah kering, justru ia pergoki basah oleh darah. Malini yakin kenyataan tersebut terjadi lantaran Jason tak mau diam, termasuk itu karena Jason menjaga Ananda.


“Enggak apa-apa. Laki-laki memang harus kuat. Apalagi sekarang aku sudah jadi bapak-bapak,” yakin Jason sudah mulai kembali memasukkan setiap mainan di sana. Lego berukuran mungil membuatnya kewalahan memungutnya.


“Sakit dan luka wajib diobati semua tanpa pandang usia pengidapnya. Karena baik tua maupun muda, yang namanya sakit memang wajib diobati, Pah!” yakin Malini berusaha memberikan perhatiannya. Baru saja, Ananda pamit tidur dan mengaku bisa tidur sendiri.


“Pakai selimut, ya ....” Sampai detik ini, Malini masih sangat lembut. Ia sampai mendongak hanya untuk menatap wajah sang putra.


Jason menyaksikan semua itu. Kenyataan yang juga menyebabkan rasa sayang sekaligus cintanya kepada sang istri makin bertambah.


“Jangan meragukan kemampuan tukang pijat. Tanpa pandang usia sekaligus keadaan mereka, memijat sudah jadi dunia mereka. Jadi ibaratnya, memijat orang beneran bukan masalah buat mereka,” yakin Malini. Namun pada kenyataannya, apa yang Jason katakan benar. Ibu-ibu tukang pijatnya sampai berkeringat parah sekaligus kewalahan. Sementara Jason yang dikeluhkan tubuhnya terlalu keras dan mungkin efek Jason sering olahraga, hanya kegelian.


“Badan suaminya keras banget, Non. Namun otot-otot di kaki sama pinggangnya pating prengkel banget. Apa sih bahasa Indonesianya, ya,” ucap si ibu-ibu tukang pijatnya.


Malini yang sengaja duduk di depan kepala Jason, dan sesekali mengelus sekaligus memijat pelan kepala Jason, menyimak sambil mengangguk-angguk. Sampai detik ini ia masih membagi senyumnya, sementara alasannya bertahan di sana karena Jason yang minta. Jason mengaku, bahwa sebelumnya pemuda itu belum pernah pijat.


“Geli banget!” lirih Jason yang jujur saja, sudah berulang kali meminta tolong kepada Malini. Namun, istrinya itu dengan sabar memintanya untuk bertahan agar tubuh Jason jauh lebih rileks dan yang terkilir khususnya efek jatuh dari motor juga jadi mendingan.

__ADS_1


“Iya, aku memang jadi mendingan. Namun lihat, tuh ... ibu-ibu tukang pijatnya mendadak encok tongkok-tongkok gitu,” ucap Jason turut mengantar tukang pijatnya hingga depan teras depan rumah Tuan Maheza.


Malini yang awalnya tersenyum lembut, menjadi tersenyum miris.


“Habis pijat aku, pasti dia langsung berobat. Enggak ke dokter ya ke tukang pijat juga. Tadi kamu bayar lebih dari biasa, kan?” lirih Jason yang memang jadi cekikikan gara-gara keadaan sekarang. Karena ia yang dipijat memang langsung merasa lebih baik. Namun yang pijat pasti dapat penyakit.


“Ya sudah, sekarang Papah mandi,” ucap Malini sambil mengelus-elus punggung Jason, selain ia yang juga fokus menatap kedua mata sang suami.


“Besok jadwal Mamah apa? Padat?” tanya Jason yang kali ini benar-benar serius.


Malini saja langsung deg-degan, yakin memang ada hal penting bahkan fatal yang akan suaminya sampaikan.


“Besok aku ke kantor sebentar. Paling setelah jam makan siang, aku pulang. Kalau Papah ada acara, enggak apa-apa, Nanda sama oma opanya dulu. Namun ingat, ya. Acaranya jangan main-main. Apalagi sekarang, Papah masih jadi sorotan. Yang kemarin saja, fitnahnya belum beres. Makin pusing kalau Papah sampai kena lagi,” ucap Malini.


“Keluargamu yang dari kampung, kabarnya besok datang? Istrinya mas Akala ...,” balas Jason lantaran tampaknya, sang istri telah melupakan satu hal penting tersebut.


“Oh iya, bener. Namun paling sore atau malam, Pah, sampainya. Kampung kami kan memang jauh,” ucap Malini yang menang telah melupakan jadwal tersebut. Padahal tadi di mobil, jelas-jelas para kakaknya yang mengaku sudah tak lagi muda, ingin segera pensiun dan menyerahkan segala urusan ke anak-anak mereka.


Setelah berpikir sejenak Jason yang masih menyikapi kebersamaan di sana penuh keseriusan, berkata, “Berarti lusa, kita ke rumah orang tuaku.”


Walau sempat terkejut, Malini yang memang langsung tegang, segera mengangguk-angguk. “Bener Pah. Ke rumah orang tua Papah, hasilnya kita serahkan ke yang di atas. Yang penting kita sudah usaha.”


Melihat Malini yang mendadak tegang, gugup, bahkan gelisah, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Jason. Jiwa jailnya meronta-ronta untuk segera mengerjai sang istri. “Jadi gugup, ya?”

__ADS_1


Malini yang sadar Jason akan berulah, buru-buru meninggalkannya.


“M-mah ....” Jason yang terus cengengesan, juga langsung mengejar Malini. Sang istri ia yakini terlalu gugup, dan sampai takut kepadanya.


__ADS_2