Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
23 : Galau dan Gamang


__ADS_3

“Mau apa lagi?!” ibu Aleya nyaris tidak bisa mengontrol emosinya. Ia menatap kesal ibu Sonya yang seketika berdiri dari sofa hitam wanita itu duduk, di ruang tamu kediaman ibu Aleya.


Berbeda dari biasanya, kali ini ibu Sonya tampak sangat berantakan, selain kedua mata wanita itu yang juga sembam. Ibu Aleya berpikir, kenyataan tersebut terjadi karena penangkapan paks*a Devandra.


Bagi ibu Aleya, ibu Sonya terguncang dan memang jadi tidak baik-baik saja. Terlebih biar bagaimanapun, selain anak semata wayang, Devandra juga ibarat tambang penghasilan ibu Sonya. Ibu Aleya paham kenyataan tersebut karena alasan Malini bisa dekat dan sampai menikah dengan Devandra saja karena ibu Aleya dan ibu Sonya sempat sangat dekat. Mereka awalnya teman arisan dan sempat bersahabat. Karena itu juga mereka sepakat menjodoh-jodohkan Malini dan Devandra yang saat itu langsung cocok. Hingga apa yang menimpa Malini membuat ibu Aleya membenarkan, bahwa anggapan orang terdekat jauh lebih bisa menyakiti bahkan membunu*h kita, memang benar adanya.


“Biarkan saya bertemu Malini sekarang juga!” sergah ibu Sonya tak kuasa mengontrol emosinya meski kali ini, ia berucap lirih.


“Jika memang itu mau kamu, langkahi dulu mayat saya!” sergah ibu Aleya yang sudah langsung membuat lawan bicaranya terdengar. “Setetes darah saja sama sekali tidak kalian berikan kepada Ananda, tapi sekarang kalian dengan tidak tahu diri justru menjadi lintah darat lagi?” Nada suaranya naik drastis.


Detik itu juga, ibu Sonya yang tampak tertantang sekaligus tersulut emosinya sengaja mengangkat dagu sekaligus menatap ibu Aleya dengan sangat marah. “Apa maksud Jeng mengatakan, ‘saya dan Davendra menjadi lintah darat lagi’?!” lirihnya penuh penekanan, tapi di hadapannya, ibu Aleya selaku lawan bicaranya mendadak terkejut. Wanita yang ia ketahu sudah kerap sakit itu tampak sangat syok.


“Kamu amnesia, atau harus diproses dulu biar beneran amnesia? Gini-gini, saya masih kuat loh, buat bant*ing kamu. Sini maju, biar kamu beneran amnesia. Biar otak kamu geser hingga orang-orang maklum saat kamu berlagak tidak tahu apa-apa!” sergah ibu Aleya dan sudah langsung menyingsing lengan panjangnya hingga siku.


“Jeng Aleya!” sergah ibu Sonya.

__ADS_1


Namun ibu Aleya yang telanjur muak segera berkata, “Berani kamu mengganggu hidup Malini dan Ananda lagi, berarti kamu juga siap diamankan polisi! Apa yang kamu lakukan sudah membuat Malini sangat tidak nyaman ... terlalu banyak hal yang sebenarnya bisa saya gunakan untuk membuatmu berurusan dengan polisi termasuk penipuan pernikahan Devandra dan Malini yang ternyata malah dibatalkan. Jadi, meski tes DNA Devandra dan Nanda positif, itu tidak akan mengubah keadaan karena di akte lahir sekaligus kartu keluarga saja, status Ananda murni anak Malini, setelah pembatalan yang Devandra lakukan!”


Mendengar itu, ibu Sonya sudah langsung ketar-ketir. Tubuhnya langsung gemetaran, dan jantungnya juga sudah langsung tidak aman.


Meninggalkan ibu Aleya yang benar-benar siap memban*ting ibu Sonya jika wanita itu masih berani mengganggu Malini dan Ananda, di kamar, Ananda diam-diam merekam Malini yang bengong di kursi kerja sambil berlinang air mata.


“Aku memenjarakan papah biologis anakku. Sebenarnya ini bukan mauku. Karena andai mas Davendra tetap tidak mau mengakui Ananda apalagi bertanggung jawab, aku masih sangat mampu melakukannya terlebih sekarang ada Jason. Masalahnya, mas Devandra sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia melaporkan Ananda bahkan Ananda sampai dijadikan tersangka,” batin Malini. Tentunya, cara Devandra maupun ibu Sonya yang terus mener*ornya, itu juga sangat mengganggu.


Kasus Ananda yang dilaporkan Devandra memang tetap dilanjutkan. Status kasusnya naik, dan Ananda berikut walinya, dijadikan tersangka. Alasan yang juga membuat keluarga Malini tidak terima. Kini semuanya sungguh tengah bahu-membahu mengurusnya. Kabar lanjutan Ananda dan Malini yang dijadikan tersangka juga tengah diviralkan. Malini cukup menunggu hasilnya sambil tetap fokus mengurus Ananda.


Menghela napas dalam kemudian menyeka air matanya, Malini langsung mencari-cari ponselnya. Ia ingin menghubungi mas Aidan karena takutnya, kakaknya itu sudah lebih dulu pergi. Malini ingin wanti-wanti agar tidak sampai ada penahanan kepadanya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.


Di tempat berbeda, Jason yang baru beres latihan basket, refleks mengernyit serius menatap layar ponselnya, hanya karena di sana ada pesan baru dari Malini. Ada kiriman video maupun pesan suara di ruang obrolan mereka yang belum Jason buka.


Jason yang awalnya siap menenggak air minumnya, jadi urung. Pemuda yang kali ini kembali memakai seragam basket warna merah hitam, meletakan botol air mineralnya di tempat duduk sebelahnya, tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. Terengah-engah di tengah bulir keringat yang berjatuhan, Jason membeku menyaksikan video tanpa suara Malini. Di video, Malini yang diam dan tatapannya kosong, tak hentinya menitikkan air mata. Malini terlihat dangat hancur hingga Jason segera mendengar pesan suaranya.

__ADS_1


“Pah, Mamah nangis terus.” Pesan suara tersebut merupakan suara Ananda. Sosok yang Jason yakini telah merekam video Malini sekaligus mengirimkan kepadanya secara diam-diam.


“Ini sebenarnya ada apa lagi? Lagian si mamah ngapain enggak langsung telepon aku saja?” batin Jason sudah langsung pergi ke sana. Ia sengaja memboyong air minumnya dan meminumnya sambil buru-buru pergi dari sana.


Jason tak berniat pamit kepada yang ada di sana karena statusnya yang hanya pemain cadangan, dirasanya tak perlu melakukannya. Padahal tak lama setelah Jason benar-benar tidak ada di sana, pelatih dan semuanya kompak mencari pemuda itu.


“Jason!” Dio yang merupakan berstatus sebagai pemain cadangan, berhasil menemukan Jason yang sudah duduk di atas motor matic merah.


Jason yang sudah memakai helm sekaligus menggendong ranselnya, refleks menoleh. “Kenapa, Bro?”


“Kamu dipanggil pelatih, Jas. Kamu disuruh ke lapangan lagi karena kamu kepilih buat jadi tim inti. Cepat sekarang juga karena pelatih bilang, kalau kamu seenaknya lagi, jangankan jadi tim inti, jadi anggota cadangan saja sudah enggak!” ucap Dio yang terengah-engah dan tampak sangat kelelahan berakhir duduk loyo di lantai tempat parkir yang tentu saja kot*or.


Mendengar itu, Jason refleks mendengkus. Kabar dari Dio sudah langsung membuatnya galau bahkan gamang. Pilihan yang sulit, tapi sebagai laki-laki ia harus tanggung jawab.


“Hah ...?” Dio terbengong-bengong menatap tak percaya kepergian Jason. Bukan perkara Jason yang sudah langsung ngebut. Namun kejadian sebelum itu. Karena setelah ia mengabarkan titah dari pelatih mereka, Jason yang segera menelepon pelatih mereka justru berdalih mengundurkan diri andai kali ini juga, Jason tidak boleh pergi.

__ADS_1


“Baik Coach, saya terima jika Coach mengeluarkan saya!” Dio masih sangat ingat, itu yang tadi Jason katakan sebelum pemuda itu mendadak minggat menggunakan motornya dengan kecepatan set*an.


__ADS_2