Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
61 : Terasa Seperti Kemenangan


__ADS_3

Apa yang menimpa pak Renaldy tepat ada di sebelah kanan mobil Malini terparkir. Jaraknya dari mobil tak kurang dari lima meter. Malini dan Jason sampai syok karena menyaksikan kejadian mencekam itu secara langsung. Jason juga sengaja membenamkan wajah Ananda ke tubuhnya agar sang putra tak melihat apa yang terjadi.


Ngeri—kata itu sungguh mewakili keadaan kini.


“Di depan juga rame, Pah! Kecelakaan beruntun kayaknya!” ucap Malini karena suara tabrakan beruntun yang berlangsung di depan sekolah memang menimbulkan suara bising yang terdengar sangat menakutkan.


Tak berselang lama, beberapa orang keluar dari sekolah Ananda. Mereka termasuk tukang bangunan yang menyebabkan apa yang menimpa pak Renaldy, sengaja memastikan.


Suasana sudah langsung kacau, tapi semarah-marahnya Malini dan Jason kepada pak Renaldy, keduanya tetap andil mengurus pengobatan pria itu.


Tubuh pak Renaldy diboyong menggunakan ambulans. Begitupun dengan tubuh Rendy dan Gissel yang turut diboyong menggunakan ambulans bersama korban kecelakaan lalu lintas lainnya.


***


“Aku butuh darah untuk anakku!” sergah Gissel kacau setelah mengetahui keadaan putranya.


Berbeda dengan Rendy yang langsung kritis setelah kehabisan banyak darah, Gissel yang tersadar dan duduk di kursi roda, masih bisa memantau jalannya keadaan.


“Ambil darahku ...,” lirih pak Renaldy.


Tak beda dengan Gissel, pak Renaldy juga tengah diboyong menggunakan kursi roda ke ruang IGD. Pria itu memang masih setengah sadar. Namun, mendengar Gissel mengabarkan Rendy kehabisan darah sekaligus kritis sambil menangis, pak Renaldy jadi makin tidak baik-baik. “Rendy satu-satunya anak laki-lakiku. Dia calon penerusku ...,” rintihnya.


Mendengar itu, Gissel yang makin berlinang air mata, menjadi melirik takut pak Renaldy. Tak jauh darinya dan masih di lorong yang sama, pak Renaldy yang masih berlumur pasir dan semen, terus saja menguatkannya.


“Kenapa kamu kelihatan sangat tidak yakin? Memangnya darah Rendy, tidak sama dengan darah papahnya?” sergah Jason yang masih memantau jalannya keadaan di sana. Selain itu, ia jga masih mengemban Ananda. Lain dengan Malini yang sengaja mengurus pendaftaran pasien untuk keluarga kecil pak Renaldy.

__ADS_1


Kenyataan Gissel yang tidak menepis ucapan Jason, seolah membenarkan. Bahwa Rendy tidak memiliki golongan darah yang sama dengan pak Renaldy. Yang dengan kata lain, pak Renaldy juga bukan ayah biologis Rendy.


“Sekarang aku tahu kenapa mamahku tetap enggak bisa kasih kamu keturunan apalagi anak laki-laki. Karena pada kenyataannya, kamu yang bermasalah. Kamu mandul, dan apesnya, kamu ketemu Gissel yang sudah terbiasa jual di*ri!” ucap Jason. Entah kenapa, sakit hatinya kepada pak Renaldy yang telah membuat keluarganya hancu*r jadi sedikit terobati.


Air mata Jason berangsur berlinang seiring rasa lega sekaligus kebahagiaan yang ia rasakan atas kenyataan sekarang. Ia memutuskan pergi kemudian membuatnya berpapasan dengan sang istri di depan pintu masuk rumah sakit. Karena ruang IGD dan tempat pendaftaran di rumah sakit keberadaan mereka memang ada di gedung berbeda.


“Aku mau peluk,” ucap Jason benar-benar memohon kepada Malini.


Malini bergegas melangkah dan segera mendekap pinggang Jason. Tak peduli meski Ananda yang masih Jason emban, sudah lebih dulu melakukannya. Tak peduli, meski di sana banyak lalu-lalang orang dan langsung menjadikan apa yang mereka lakukan, fokus perhatian.


“I love you, Pah! Kamu punya aku. Kamu punya Nanda, dan semua keluargaku sayang sekaligus support kamu! Kamu beneran enggak sendiri karena kamu punya kami!” bisik Malini yang kemudian mengecu*p lembut pipi Jason.


“Ayo kita tutup kisah kita dan mereka. Ayo kita fokus bahagia!” yakin Malini.


“Rendy enggak salah. Dia hanya korban, sama seperti kita. Hanya saja, dia enggak sekuat kita hingga bibit-bibit jahat jauh lebih bisa mengendalikannya,” lembut Malini sembari menatap sang suami penuh cinta.


Sekitar lima menit kemudian, bersama Malini, Jason kembali masuk dan menjadi bagian dari ruang IGD lagi.


“Sus, pasien anak Rendy butuh golongan darah apa? Kebetulan, saya bisa bantu carikan donor,” ucap Jason.


Kini, meski masih di tempat sama, pak Renaldy tak lagi bertegur sapa dengan Gissel. Tak ada lagi kekhawatiran, yang ada hanya kemarahan. Iya, diamnya pak Renaldy karena pria yang kedua matanya sampai terluka itu sangat marah.


Di sebelah pak Renaldy berbaring, Gissel mendadak kesakitan, mengeluhkan kedua kakinya yang terasa sangat ngilu sekaligus sakit.


Malini menatap ngeri keadaan pak Renaldy maupun Gissel. “Setelah begini, apakah mereka mau sadar?” pikirnya yang kemudian mengalihkan tatapannya kepada sang suami yang ada di sebelahnya. Jason sedang menelepon beberapa temannya, meminta beberapa dari mereka untuk datang ke rumah sakit, kemudian menyumbangkan darahnya kepada Rendy.

__ADS_1


“Kita tunggu di luar,” lirih Jason terdengar mesra setelah beres menghubungi temannya.


“Aku pikir, golongan darahnya akan sama dengan golongan darah Devandra. Namun ternyata, beda,” lirih Malini sambil mendekap mesra sebelah lengan Jason.


“Yang penting mamahnya enggak bingung siapa papahnya hanya karena dia sudah terlalu biasa celap-celup sembarangan,” balas Jason dengan entengnya.


Entah kenapa, apa yang terjadi Jason rasa menjadi bagian dari kemenangannya. Bahkan meski nantinya sang mamah tetap berpihak kepada pak Renaldy, keadaan kini sudah membuat Jason ikhlas mengubur dalam-dalam dendamnya.


“Dia telah membuat seorang bocah laki-laki menjadi yatim piatu. Karena meski mamahnya masih ada, bocah itu tetap dibuang. Namun sekarang, Allah kasih dia ganjaran enggak bisa memiliki keturunan sampai kapan pun!” batin Jason seiring ia yang merinding.


Pulang dari rumah sakit, Jason memboyong keluarga kecilnya ke makam sang papah. Kali ini, Jason yang menyetir, sementara Ananda duduk di belakang bersama Malini yang memangkunya. Ananda tertidur pulas di pangkuan sang mamah dan tampaknya memang kecapaian.


“S-sayang, ... kamu oke?” lembut Malini yang berusaha menatap wajah khususnya kedua mata suaminya melalui kaca spion di atas Jason.


Detik berikutnya, Jason berangsur menatap Malini penuh kelembutan. “Kalian yang bikin aku sekuat ini!”


Senyum indah langsung hadir menghiasi wajah cantik Malini. “Semoga, semua yang terjadi dan memang telah kita alami secara langsung, bisa bikin kita jadi lebih baik. Karena kebahagiaan yang dibangun di atas luka-luka pihak lain, juga akan membuat orang lain membangun kebahagiaan yang justru membuat kita terluka.”


Jason yang kembali menatap Malini melalui kaca spion di atasnya, berangsur mengangguk-angguk. “Penasaran, apa kabar Devandra kalau tahu ini?” ucapnya yang refleks tertawa geli.


“Terlepas dari itu, kamu masih mau lanjut proses Gissel ke polisi?” balas Malini kalem.


Detik itu juga Jason terdiam. Jason merenung serius layaknya arahan yang Malini berikan.


“Mending begini. Katakan kepada polisi, bahwa Gissel punya anak. Namun andai Gissel kembali menelantarkannya, mending penjarakan saja,” lembut Malini sengaja memberi solusi.

__ADS_1


__ADS_2