Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
28 : Mah, Devandra Itu Siapa?


__ADS_3

Terbiasa latihan basket ditambah waktu kompetisi sudah makin dekat, membuat Jason lupa bahwa dirinya sudah dikeluarkan dari tim basket yang telah membesarkan namanya. Karenanya, kini ia dengan santainya memboyong Malini dan Ananda menggunakan motor maticnya.


Seperti biasa, Ananda teramat ceria menikmati perjalanan menggunakan motor. Beberapa kali, bibir mungilnya melemparkan pertanyaan kepada Jason. Sesekali, Malini yang begitu keibuan—anteng duduk di belakangnya tanpa benar-benar mendekap pinggang Jason, akan membantu menjawab. Sampai detik ini, Malini hanya sedikit berpegangan pada ujung jaket jumper hitam Jason.


Barulah ketika Jason melihat gedung lapangan basketnya, pemuda itu ingat bahwa kemarin, di depan gedung itu, melalui sambungan telepon, ia dikeluarkan dengan tidak hormat.


Malini terbengong-bengong menatap gedung keberadaan lapangan basket yang justru Jason tinggalkan, setelah melewatinya begitu saja. “Pah, gedungnya kelewat loh,” ucapnya sengaja mengingatkan.


“Enggak apa-apa. Aku langsung antar kamu ke rumah orang tua kamu saja.” Jason sengaja berseru karena kali ini, ia memang agak ngebut.


“Memangnya enggak telat?” seru Malini.


“Aku lupa kalau aku sudah keluar.” Kali ini Jason mendadak tak bersemangat. Sebab keluar dari tim basket yang sudah ia perjuangkan memang cukup membuatnya sakit hati. Ia kecewa berat karena meski ia andil dalam menciptakan kesalahan, perjuangannya selama ini seolah tak dihargai karena sang pelatih sama sekali tidak memberinya toleransi.


“Ini ... beritanya begini?” lirih Malini antara syok sekaligus sedih ketika akhirnya, mereka sampai di kediaman Tuan Maheza.


Malini baru mengetahui kabar hengkangnya Jason yang sudah sampai diumumkan secara resmi dan telah menjadi berita terhangat di mana-mana. Terlebih biar bagaimanapun, Jason merupakan anggota bahkan awalnya ketua tim basket tingkat nasional.

__ADS_1


Setelah melongok layar ponsel Malini yang disodorkan kepadanya, dengan santainya Jason berkata, “Itu berita sudah digoreng enggak jelas. Sudah lah biarin, risiko orang keren memang begitu.”


Jason memilih mengangkat tubuh Ananda, membuat bocah itu memasukan bola basketnya secara langsung ke ring yang mana Ananda sampai berpegangan pada ring.


“Papah ... aku tingg banget!” heboh Ananda kegirangan.


“Di saat sesemeraut sekarang, dia masih bisa membahagiakan Ananda. Pasti alasannya dikeluarkan gara-gara aku. Gara-gara dia jadi sering cuti. Namun harusnya enggak sering, enggak ada satu minggu. Itu saja awalnya dia sudah sempat dikeluarkan dari tim inti. Sebelumnya pun sempat ikut latihan, dan Jason juga santai-santai saja, serius latihan. Namun kemarin, Jason memang pulang lebih awal. Apa gara-gara kemarin, ya?” pikir Malini yang memang langsung melakukan cocok logi. Ia berangsur menghampiri Jason sambil membuka ruang obrolan WA-nya karena di beberapa kesempatan, Ananda akan mengirimi Jason WA. Benar saja, ia menemukan jejak alasan Jason kemarin mendadak datang, dan itu WA dari Ananda.


“Jadi, ceritanya bagaimana?” tanya Malini lembut sambil menatap Jason dari samping kanan.


“Ceritalah, enggak apa-apa. Kamu bisa percaya aku. Aku yakin, aku bisa diandalkan.” Malini sengaja memegang bahu kanan Jason yang perlahan loyo, menandakan pemuda itu tidak baik-baik saja.


Jason sudah langsung tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Hatinya terenyuh, sementara air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya berjatuhan mengiringi kesedihannya yang akhirnya turut meluap. Malini yang sadar Jason membutuhkan dukungan sekaligus pelukan, segera memeluk Jason. Meski kenyataan Jason yang menangis, membuat Nanda yang jadi didepan Jason, kebingungan. Jason sungguh tidak menurunkan Ananda begitu saja.


Dalam diamnya Jason bersumpah, dirinya tidak akan pernah lupa. Bahwa dalam hidupnya, ada seorang wanita bernama Malini yang memperlakukannya penuh kelembutan, bahkan ketika ia ada di titik terenda*h.


***

__ADS_1


“Lihat, aku langsung dapat banyak tawaran. Dari Malaysia ... Filipin ...,” ucap Jason tak lama setelah mereka mengambil waktu untuk istirahat sekaligus makan siang.


“Jangan digubris. Nanti yang ada justru jadi bola api buat kamu sendiri. Sekarang kamu cukup fokus istirahat saja. Tenangin pikiran kamu,” ucap Malini sambil menyiapkan setiap lauk ke piring yang juga sudah dihiasi nasi merah.


Detik itu juga Jason sudah langsung bengong. Terlebih biar bagaimanapun, basket memang sudah menjadi sebagian dari nyawanya. Tak peduli siapa pun yang ia bela, asal ia masih bermain basket. Namun, siraman rohani yang ia dapatkan dari Malini dirasanya ada benarnya.


“Ya sudahlah Mah, aku nurut. Mungkin sekarang aku memang harus fokus ke kasus kamu sama Ananda sambil menyiapkan nyawa buat menemui mamah aku,” ucap Jason benar-benar pasrah.


Melihat Jason seperti sekarang, Malini jadi makin tidak tega. “Coba nanti aku minta bantuan Kim buat urus. Kim kan kenal beberapa orang dalam di sana. Apa, aku langsung pergi ke tempat latihan? Andai iya aku ke tempat latihan, wajib didampingi mas Chalvin apa mas Aidan sih. Eh, mas Chalvin sama mas Aidan kan sibuknya pake banget. Kalau gitu, besok aku ke sana sama mas Akala saja. Mumpung mas Akala masih di sini,” batin Malini.


Seperti niat Malini, keesokan harinya, ia sengaja membawa Ananda pergi ke tempat Jason biasa latihan. Akala sudah menemaninya dan siaga untuk membantu. Akala yang kini memang tak muda karena usia Akala sudah nyaris kepala lima, sengaja mengemban Ananda.


“Lusa, mbak Nina sama anak-anak datang. Bismillah, semuanya segera terselesaikan. Mamah sama papah juga ikut, pengin nabo*k kepala Davendra pakai taflon katanya,” cerita Akala.


Mendengar itu, hati Malini sudah langsung melow, termasuk kedua matanya juga sudah langsung basah.


“Enggak apa-apa, Dek. Badai pasti akan berlalu,” lembut Akala yang kemudian mengangguk-angguk menatap sedih Malini yang ia harapkan tetap semangat.

__ADS_1


“Aku lupa bilang, kalau kemarin, mamahnya Davendra sempat telepon, ngajak barter gitu. Katanya dia mau cabut laporan, asal aku juga cabut laporan ke Devandra, Mas,” cerita Malini. Karena mereka sudah sampai di depan pintu masuk, Malini sudah langsung membuat janji melalui satpam yang bertugas di sana.


“Mah, Devandra itu siapa? Dari kemarin, sejak aku sakit, aku jadi sering banget dengar nama Devandra,” tanya Ananda benar-benar penasaran. Menggunakan mata kananya yang sudah bisa melihat dengan sempurna, ia menatap wajah Malini maupun wajah Akala, silih berganti. Namun, keduanya kompak memberikan ekspresi wajah sama—bingung. Membuat Ananda yakin, Devandra memang orang penting dalam hidup mereka.


__ADS_2