
“Apa maumu? Kamu mau membu*nuh darah daging kamu sendiri?” lirih Malini yang kemudian tersenyum pedih menatap Devandra. “Kamu sakit! Kamu enggak baik-baik saja! Tolong, jangan pernah mengganggu kami lagi. Jangan pernah menghancu*rkna kebahagiaan yang susah payah kami bangun!”
“Berbahagialah tanpa harus melukai orang lain. Bahagialah tanpa harus menjadi parasit!”
“Gissel yang menabrak. Dia mengemudi dengan lalai karena sambil teleponan dan itu dengan kamu makanya meski dia sudah memasuki area sekolah dan sudah ada aturan khusus untuk mengemudi lebih pelan, ... dia tidak melakukannya!”
“Kamu boleh saja keji, tapi bukan berarti kamu boleh menghabi*si darah daging kamu sendiri!”
Sampai detik ini, Malini masih berbicara lirih sekaligus emosional. “Wajarnya, ... orang tua akan sangat sedih jika sampai tidak dikenali oleh darah dagingnya sendiri. Orang tua ibarat kulit ari, lapisan terluar dari kehidupan seorang anak. Orang tua akan menjadi orang pertama yang terluka ketika anak terluka. Bukan malah sumber luka anak dan dengan sengaja melukai bahkan menghabis ... si ...!” Malini menggeleng tak habis pikir, ia sampai gemetaran hebat karena amarah yang susah payah ia tahan. Namun beberapa detik kemudian, ia membiarkan tubuhnya dirangkul sekaligus dibawa pergi dari sana oleh Jason.
“Malini, ayo kita menikah!” sergah Davendra tak mau melepaskan Malini sekaligus kesempatan yang ada, begitu saja.
Detik itu juga, Jason langsung bengong, tapi Jason merasa ada yang lepas bahkan jatuh. Iya, apa yang baru saja Devandra tegaskan dan itu mengajak Malini menikah, sukses membuat jantung Jason seolah lepas sekaligus jatuh dengan tragis.
Detik itu juga Malini berhenti melangkah kemudian balik badan. Jason benar-benar langsung ketakutan karena berpikir, Malini akan menerima ajakan menikah dari Davensra.
“LEBIH BAIK AKU TIDAK PERNAH MENIKAH, DARIPADA AKU HARUS MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI LI*CIK SEPERTIMU!” Air mata Malini berlinang hebat lantaran kini, ia teringat semua luka yang ia dapatkan dari Davendra. Dari awal mula Malini ditalak, kemudian dilanjutkan dengan kabar kehamilan Malini yang Devandra balas dengan pembatalan pernikahan, juga sederet hal menyakitkan lainnya setelah Ananda menjadi korba*n tabrak Gissel. Semua itu terlebih yang menyangkut nyawa Ananda benar-benar menyakitkan. Jantungnya terasa sangat panas hingga dadanya bergemuruh hebat.
__ADS_1
Namun karena pertemuan mereka juga, Ananda yang memang anak genius, menjadi menerka-nerka. Terlebih bagi Ananda, mustahil Devandra bukan siapa-siapa, sementara saat berhadapan sekaligus mengobrol dengan Davendra, Malini jadi sangat emoional.
“Sepertinya, om itu memang jah*at, makanya mamah enggak mau nikah sama dia. Iya, om itu pasti jahat apalagi papah juga jadi langsung kelihatan marah,” pikir Ananda yang kemudian menatap sang mamah yang sudah lelap. Ia berangsur menggunakan kedua tangannya untuk membingkai wajah Malini gang memang masih meringkuk kearahnya. Sebuah kecu*pan manis ia daratkan di dahi Malini.
Tak lama setelah Ananda akhirnya memejamkan kedua matanya, giliran Malini yang membuka mata kemudian termangu memandangi wajah Ananda.
Sementara itu, di tempat berbeda, Devandra sungguh tidak baik-baik saja. Pria itu terus mondar-mandir diiringi kicauan pedas dari bibir sang mamah.
“Harusnya kamu enggak usah nolongin Gissel! Harusnya ya sudah, dibiarin saja, biar kamu enggak berurusan sama Malini yang punya banyak pasukan. Harusnya ... harusnya kamu lepasin Gissel karena kamu pasti bisa dapat yang lebih baik dari Gissel!”
Harusnya, benar-benar masih kata yang sama ketika keesokan paginya, Devandra yang beberapa kali mangkir dari panggilan pihak kepolisian, akhirnya dijemput paksa oleh polisi.
“Harusnya Malini melek. Apa-apaan dia? Dia mau memenjarakan papah dari darah dagingnya sendiri? Otaknya transmigrasi apa bagaimana itu si Malini? Dia lupa, tanpa Devandra, perusahaannya enggak sejaya sekarang?!” gerutu ibu Sonya yang benar-benar emosi. Kedua tangannya sampai refleks menam*par pipinya sendiri karena ia memang sudah tidak tahan dan sangat ingin melampi*a*skan emosinya.
Di kediaman Tuan Maheza yang megah, Malini berdiri gelisah sambil menatap punggung mas Aidan. Kedua tangan Malini begitu sibuk saling rem*as di tengah napas wanita itu yang memburu, sementara matanya yang memerah, perlahan basah.
“Baik, Pak. Terima kasih banyak untuk kerja samanya. Selamat siang!” ucap Mas Aidan yang kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1
“M-mas ...,” ucap Malini seiring air matanya yang berlinang. Ia sungguh tidak baik-baik saja. Namun bukan karena kabar penangkapan Devandra, melainkan ia yang terlalu takut, pihak Devandra mengambil Ananda darinya. Bahkan karena itu juga, setelah semalaman terjaga, pagi-pagi sekali ia sengaja menghubungi Mas Aidan. Malini meminta mas Aidan untuk mendesak polisi agar segera melakukan penangkapan kepada Devandra. Terlebih selain selalu mangkir dari panggilan polisi, Devandra juga terus mengganggu Malini, melakukan sejumlah ter*or. Dari pesan, telepon, bahkan pertemuan.
“Kamu tenang!” yakin mas Aidan sambil menahan kedua lengan Malini, menatapnya dengan saksama.
Malini mengangguk-angguk kaku tanpa bisa mengakhiri air mata sekaligus emosi yang telanjur menyatu dengan rasa takut. “Ini aku juga tenang, Mas. Tapi aku takut ... aku takut mereka ambil Nanda dari aku. Aku takut Nanda terluka karena ini. Aku—”
“Nggak! Nggak akan! Ananda pintar, dan dia bisa menilai!” tegas mas Aidan yang sampai membentak Malini. Ia sengaja melakukannya agar Malini tak ketakutan layaknya sekarang.
“Sembilan bulan lebih Ananda di dalam perut ... aku melewati semuanya layaknya wanita sekaligus mamah lainnya. Sendiri, meski ini keputusanku, terakhir pun dia tetap menyebut Nanda hanya anakku. Aku marah Mas, aku enggak terima andai dia beneran memanfaatkan Nanda untuk kepentingannya!” Malini meledak-ledak.
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Tarik napas Lini. Ambil wudu, sana salat, terus tatap wajah Nanda biar kamu bisa tenang. Jangan begini ... begini hanya akan membuatmu melukai diri kamu sendiri. Kamu bahkan bisa melukai Nanda. Percayalah ... yang paling Nanda butuhkan kamu dan selamanya akan begitu!”
Mendengar ucapan mas Aidan, Malini yang telanjur ketakutan, takut Davendra mengambil Ananda. Karena setelah adanya tes DNA untuk pembuktian laporan dari pihak Malini bahwa Devandra telah menelantarkan Ananda pasti, akan terbukti bahwa Devandra merupakan ayah biologis Ananda. Malini yang langsung sibuk mengangguk-angguk berangsur meninggalkan mas Aidan. Namun, seorang ART datang dan mengabarkan, ada ibu-ibu mengaku bernama Sonya sekaligus mamah dari Devandra, marah-marah di luar gerbang mencari Malini.
Malini tahu itu mamahnya Devandra. Alasan yang juga membuat tatapan takutnya berhenti pada kedua mata mas Aidan.
“Masuk ke kamar, Lini! Biar Mamah yang menemui ibu Sonya!” tegas ibu Aleya yang datang sambil menuntun Ananda.
__ADS_1
Malini sudah langsung menghampiri Ananda kemudian mengembannya. Tanpa mengatakan apa pun bahkan sekadar basa-basi, Malini buru-buru menaiki anak tangga menuju lantai atas.