Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
38 : Mendapat Ilham


__ADS_3

“Ini aku boleh berubah pikiran sekaligus berubah keputusan, enggak?” lirih Jason masih menengadah hanya untuk Malini yang masih bertahan berdiri sambil mendekapnya.


“Maksudnya ...?” balas Malini dengan suara lebih lirih dari sebelumnya.


“Melihatmu seperti ini beneran ngaruh. Rasanya, ... beban hidupku jadi agak berkurang,” lirih Jason seiring tatapannya kepada Malini yang menjadi memohon.


Malini yang langsung menghubungkan ucapan Jason dengan ucapannya, refleks tersipu. Karena dengan kata lain, Jason mengakui bahwa pemuda itu juga menyayanginya.


“Aku berubah pikiran sekaligus keputusan,” ucap Jason lebih lirih dari sebelumnya. Tangan kanannya meraih punggung kepala Malini seiring tatapannya yang menjadi lebih intens.


Apa yang Jason katakan sudah langsung membuat dada Malini berdebar. Terlebih ketika pemuda itu makin membuat wajah mereka tak berjarak, hingga mereka bisa merasakan hangatnya napas satu sama lain. Terakhir, Malini langsung membuka bibirnya, membalas bibir Jason, ketika pada akhirnya sang suami menyapanya melalui ci*uman yang sangat lembut.


Malini merasa, apa yang terjadi dengan mereka terlalu cepat. Namun jika ia mengingat-ingat lagi, kebersamaan mereka terbilang dramastis. Jason tak ubahnya pangeran berkuda putih dengan gaya sekaligus ciri khas tersendiri. Jason hadir di saat Malini benar-benar butuh tempat untuk bersandar sekaligus berlindung.


“Ibaratnya, kecelakaan yang Nanda alami tetap memiliki hikmah. Tak semata aku yang akhirnya bisa melihat wajah asli Devandra maupun mamahnya hingga aku berhenti berharap kepada mereka. Karena kasus tersebut, kami mengenal Jason, dan kini kami menjadi keluarga kecil yang bahagia,” batin Malini yang untuk pertama kalinya, merasa sangat dicintai karena Jason sama sekali tidak mempermasalahkan keperaw*anan sebagai harga mati seorang wanita layak dicintai.

__ADS_1


Mereka baru saja melangsungkan percintaan pertama mereka sebagai suami istri. Yang membuat Malini kikuk bahkan malu, Jason tak segan membantunya membersihkan cairan hasil percintaan mereka yang suaminya itu keluarkan di sekitar perutnya. Jason yang tak memakai pengaman sengaja mengeluarkannya di luar lantaran belum mau memberi Ananda adik. Jason ingin memanjakan Ananda, memberi kenangan indah bocah itu sebagai anak kecil yang disayangi oleh orang tuanya dengan lengkap.


“Dulu, Nanda lahir normal?” tanya Jason masih terengah-engah sambil memberikan pakaian Malini yang ia ambilkan.


Ditanya begitu, Malini jadi merasa bingung. “Memangnya kenapa?”


“Aku enggak nemu bekas di perut kamu, ... tapi asli, tadi beneran sempit banget!” ucap Jason yang kemudian langsung cekikikan lantaran Malini sudah langsung mencubit perutnya. “Iya aku sampai bingung. Ini Ananda dilahirin lewat mana? Di perut enggak ada bekasnya, di sini sesempit ini. Masa iya dari punggung, istriku kan Malini, bukan Suketi si sundel! Dan enggak mungkin juga disemburin begitu saja melalui mulut kan?”


Jason makin cekikikan karena ulahnya yang mengutarakan rasa penasarannya ditanggapi dengan kegugupan luar biasa oleh sang istri. Namun, ia sangat bahagia lantaran tanggapan sekaligus cara Malini menyikapinya sangatlah manis. Istrinya itu mendekapnya dari samping belakang tanpa berani bersuara. Namun Malini mau-mau saja diajak ke kamar mandi untuk sama-sama membersihkan diri. Layaknya bocah yang akan antre mandi, mereka yang benar-benar tak berbu*sana melangkah saling melempar canda tawa memasuki kamar mandi. Canda tawa yang selalu dimulai oleh Jason dan selalu sukses membuat Malini menahan tawa hingga lemas.


Kebersamaan malam Malini dan Jason dilanjutkan dengan obrolan lirih di tengah kenyataan keduanya yang tidur sambil berpelukan.


“Iya, aku paham. Aku sudah lebih jauh bisa tenang sekaligus berdamai dengan kenyataan. Kamu sudah tidur?” lirih Jason membalas Malini.


“Hampir,” ucap Malini tetap berusaha membalas.

__ADS_1


“Hampir kok masih saja jawab,” balas Jason yang kemudian menertawakan Malini. Ia membenamkan wajahnya di wajah Malini tanpa bisa untuk tidak tertawa.


Malini yang tersipu meski kedua matanya tetap terpejam, menggunakan kedua tangannya untuk mencubit gemas kedua pipi suaminya. “Begini, yah, rasanya dicintai? Rasanya, semuanya benar-benar mudah. Indah. Terlebih, Jason juga perhatian banget ke Nanda,” batin Malini. Karena kini, meski Jason tetap mendekapnya, pemuda itu tetap menenangkan Nanda, mengelus-elus kepala Nanda yang tengah merengek nyaris menangis.


Keesokan harinya, setelah kemarin malam mendapatkan ilham dadakan, Jason memutuskan untuk membantu Malini mengurus perusahaan. Namun sebelum itu, mereka sama-sama mengantar Ananda ke sekolah. Barulah setelah Ananda beres sekolah, mereka kembali kompak menghindari wartawan sambil terus bergandengan, sementara Jason sengaja tetap mengemban Ananda.


“Dev, harusnya begini yang kamu lakukan. Namun kamu justru mengambil langkah yang berbeda dan kamu bahkan memilih melukai Nanda,” batin Malini sudah langsung masuk ke tempat duduk penumpang, setelah Jason yang awalnya terus menggandengnya, membukakan pintu untuknya. Jason melakukannya sendiri meski di sana ada sang sopir yang mengantar jemput mereka.


Jadwal mereka hari ini benar-benar sibuk, dan diakhiri dengan air mata haru ketika keluarga Malini yang dari kampung, menyambut kepulangan mereka. Semuanya khususnya para wanita, tidak ada yang tidak menangisi Malini apalagi Ananda. Jason yang menjadi bagian di sana jadi ikut merasa sesak sekaligus berkaca-kaca.


“Mbak, Bu, Pak, ini Jason ... papah barunya Ananda.” Sambil menyeka air matanya menggunakan jemari tangannya, Malini merangkul punggung Jason, menuntun suaminya itu untuk mengenal anggota keluarganya lebih dalam.


“Ini Mbak Nina istrinya mas Akala, Pah. Ini papah mamahnya mas Akala, ini Mbak Mbi istrinya mas Aidan. Ini ....” Malini mengenalkan semuanya. Keluarganya yang dari kampung, datang dengan formasi lengkap termasuk anak-anak. Namun keluarganya hanya berisi dari pihak Akala yang memang sudah memperlakukannya layaknya anak, meski status Malini hanya adik tiri dari Nina yang menjadi menantu di keluarga Akala—Baca novel : Pembalasan Istri yang Haram Disentuh.


Berbeda dari biasanya, kali ini Jason tampak malu-malu—jaim. Kendati demikian, Jason yang terus mengemban atau malah memangku Ananda yang tak mau jauh-jauh darinya, terlihat berusaha menyatu dengan keluarga Malini.

__ADS_1


“Kalian masuk tivi, loh,” ucap mbak Nina, yang sampai detik ini masih duduk di sebelah Malini, selain ia yang juga masih menggenggam erat kedua tangan Malini. Rasanya, ia sungguh merasa sangat bersalah setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa selama lima tahun setelah adiknya itu menikah, Malini dengan sengaja menyimpan masalah, beban, sekaligus luka seorang diri.


“Andai kita punya orang tua yang berhati manusia, yah, Dek. Andai mereka enggak melakukan ini ke kita, pasti kami enggak akan menyimpan luka ini sebegitu rapat. Namun, melihat kamu dan Jason begitu kompak bersama Nanda, rasanya ini seolah menjadi alasan kenapa Allah sengaja membuat Devandra jauh dari kamu dan Nanda. Alhamdullilah,” batin mbak Nina sembari melepas kepergian Malini dan Jason yang menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ketiganya yang memang baru pulang, sengaja pamit untuk mandi sekaligus siap-siap salat maghrib lebih dulu.


__ADS_2