
“Tadi aku lihat-lihat, kirain karyawan kafe yang statusnya masih magang, seragam hitam putih mirip ta*i cecak. Namun kok ijab kabul di rumah Opa Mahez, padahal nih rumah bukan KUA ... elah bestie rasa istri!” ucap Rain dan sudah langsung membuat Jason melotot.
“Hah? Bestie rasa istri?” lirih Jason makin mendelik lantaran Rain sudah langsung memeluk erat Malini. Pelukan yang juga sampai diguncang ke kanan kemudian ke kiri. Bertanda jika kedua sejoli itu sangat dekat bahkan saling menyayangi. Ditambah lagi, Ananda oke-oke saja mamahnya dibegitukan. Ananda juga sampai menyalami tangan Rain dengan takzim.
“Iya, benar, ini cemburu. Aku cemburu ke cowok tengi*l yang namanya Rain,” batin Jason sambil melepas kancing pergelangan tangan sebelah kirinya. Ia melakukan dengan sangat hati-hati lantaran keputusannya memakai lengan panjang, membuat luka baret di kedua tangannya lengket sekaligus perih.
Malini yang baru keluar dari kamar mandi, dan telah memakai piyama lengan panjang warna kuning, sengaja menghampiri kemudian membantu Malini. Detik itu juga Jason kaget, tapi melihat wajah Malini yang selalu terlihat cantik penuh ketenangan meski tanpa rias yang menyertai, membuatnya teringat saat wanita itu sangat akrab dengan Rain.
“Mungkin karena Malini terlalu baik, hingga semua laki-laki mau muda, mau tua, anak kecil, kecuali si lucknut Davendra, nyaman. Aku saja nyaman banget. Apalagi setelah melihat cara Malini memperlakukan Ananda dan itu penuh sayang, ke aku pun Malini perhatian banget,” pikir Jason yang membiarkan Malini membantunya melepas setiap kaitan kancing kemeja di kedua pergelangan tangannya.
“Bestie rasa istri itu, ... siapa?” tanya Jason tak mau menahan-nahan lagi.
“Hah?” refleks Malini sudah langsung menatap Jason. Ia juga berangsur melepas kancing bagian bawah kerah Jason, setelah sebelumnya minta maaf sekaligus permisi.
“Itu yang tengi*l tadi loh, yang namanya Rain!” ucap Jason lantaran Malini yang terlihat berpikir keras, tak kunjung memberinya jawaban. Namun setelah nama Rain disebut, Malini langsung tersenyum lepas. Tanggapan yang sungguh sangat bertolak belakang dengannya, yang malah lemas. “Anda bahagia, saya lemas!” cibirnya lirih sambil menunduk.
Mendengar itu, Malini refleks kehilangan senyumnya. Ia berusaha menatap wajah pemuda yang kini sudah menjadi suaminya. Yang mana, meski mereka baru menikah secara siri, per hari besok juga mereka akan mengurus agar pernikahan mereka juga segera resmi di mata hukum. Tak lupa, mereka juga akan meminta restu kepada orang tua Jason, selain Malini yang akan tetap menjalani proses kasu*snya.
“Rain memang gitu Pah anaknya. Rame banget, soalnya papahnya saja—kak Ojan—juga rame banget. Itu yang tadi paling heboh, yang pelawak itu, itu papahnya Rain, tapi Rain manggilnya daddy. Semua yang datang beneran saudara, dan kami memang sudah dekat sejak kecil,” jelas Malini.
__ADS_1
Jason langsung kicep padahal Malini sudah sampai membantunya melepas semua kancing kemeja lengan panjang warna putihnya.
“Kenapa, sih?” tanya Malini heran karena tak biasanya, seorang Jason diam. Karena ketika sedang duduk pun, selain kedua tangan maupun kakinya yang tidak bisa diam, bibir Jason pasti akan ngoceh.
“Papah ... maafin aku. Aku janji ... aku mohon, kasihan Mamah Pah. Aku yang salah,” isak Ananda tersedu-sedu di tengah kenyataannya yang masih terpejam.
Setelah sempat terusik menatap Ananda di tengah-tengah tempat tidur sana, Malini dan Jason yang juga sempat bertatapan serius sekaligus khawatir, buru-buru menghampiri Ananda. Namun, berbeda dengan Malini yang bisa melangkah lancar, Jason malah nyaris terjatuh karena kaki kanannya memang masih pinc*ang.
Malini yang sudah naik ke tempat tidur dan langsung menatap Ananda, menatap khawatir Jason. “Bisa?” lirihnya dan Jason yang masih menatapnya berangsur mengangguk-angguk.
Jason menatap miris keadaan Ananda, meski keadaannya sendiri tak kalah miris. Bukan perkara lukanya akibat jatuh dari motor, tapi masa lalunya sekaligus hubungannya dengan orang tuanya.
Mendengar keluhan Jason, Malini juga menjadi menunduk sedih.
“Mirip kamu sih. Coba mirip aku, pasti Ananda enggak akan menyalahkan dirinya karena dia tahu, dia korban!” keluh Jason lagi. “Ingat, yah, Mah. Kalau Nanda bilang, gara-gara dia, semuanya gara-gara dia yang sakit mata. No, marahin enggak apa-apa. Jangan biarkan dia terus menyalahkan dirinya sendiri karena Ananda benar-benar korban!” yakin Jason. “Kamu pun jangan terus-menerus menyalahkan diri kamu. Ini murni ketamakan Devandra. Kecuali kalau dia yang kasih kamu hidup. Lah dia saja numpang hidup ke kamu. Harusnya pas dia sampai berani membatalkan pernikahan, harusnya dia minggat dari kehidupan kamu, khususnya dari perusahaan kamu!”
Menyimak itu, Malini berangsur mengangguk-angguk. “Sekarang aku beneran sudah enggak mau pusing dengan semua yang berkaitan dengan Devandra.”
“Mmm ....” Jason mengangguk-angguk, tapi kemudian ia melirik Malini. “Tapi aku ngeri ke hubungan kamu dan sederet pasukan kurawa good looking, yang kamu bilang, masih saudara kamu!”
__ADS_1
“Pasukan kurawa? good looking?” lirih Malini yang belum paham dengan maksud sang suami.
Jason berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. “Saudara laki-laki kamu. Mereka kan banyak banget, masih muda-muda, good looking semua. Iya, memang belum ada seratus, tapi sebanyak itu ya enggak apa-apa, disebut kurawa!” keluhnya.
Malini yang langsung tertawa kecil karena baginya, kemarahan Jason dan itu karena cemburu sangat lucu, diam-diam membenarkan anggapan Akala sang kakak ipar. Bahwa Jason ibarat sosok yang memiliki sifat sekaligus sifat perpaduan antara Azzam dan Ojan—baca novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan).
“Serius, Pah, Papah cemburu ke mereka?” tanya Malini seiring tawanya yang beranjak reda.
“Masih tanya,” balas Jason yang kali ini merengek sambil melirik sedih Malini.
“Harusnya yang gitu kan aku. Kamu masih muda, kamu biasa ditonton banyak wanita. Kamu bahkan mengaku sudah terbiasa tidur dengan banyak wanita, makanya kamu minta aku buat enggak minder karena yang aku alami di masa lalu murni aku korb*an,” jelas Malini yang perlahan mengakhiri dekapannya kepada Ananda.
Mendengar itu, Jason langsung merasa terta*mpar. Ia berangsur menatap heran Malini. “Kamu beneran enggak cemburu. Sama sekali enggak akan merasa cemburu dengan apa yang aku lakukan?”
“Ya-ya karena aku percaya, setelah menikah kamu akan menjaga semuanya buat aku karena aku juga gitu. Cemburu ya tentu, tapi lihat situasi. Sama-sama jaga lah,” sergah Malini sambil menatap Jason penuh keseriusan sekaligus memohon.
“Ya tentu ... gitu.” Jason mengangguk-angguk pelan. Bingung karena setelahnya mereka kompak diam, ia sengaja mengalihkannya dengan membahas kedua tangannya, tapi Malini dengan hati-hati turun kemudian menghampirinya. Malini kembali mengurusnya.
“Ini memang masih terlalu awal, tapi aku merasa sangat beruntung karena memilikinya,” batin Jason yang diam-diam tersipu memperhatikan wajah Malini. Wajah cantik bermata sendu itu tampak sangat mengkhawatirkan kedua tangan Jason.
__ADS_1