
Sampai kamar, Malini langsung disambut dengan pemandangan Jason tengah melatih Ananda jalan. Kedua tangan Jason memegangi kedua tangan Ananda yang melangkah dengan sangat pelan sekaligus ragu.
Keadaan kamar benar-benar rapi. Malini sampai heran karena tak biasanya begitu, apalagi tadi di salah satu video yang Jason berikan kepadanya, Ananda sempat sibuk main lego. Jika keadaannya sudah rapi layaknya sekarang, berarti Jason sudah sangat bekerja keras dalam menjadi bapak rumah tangga yang baik—pikir Malini yang detik itu juga refleks mesem.
“Mamah!” seru Ananda sudah langsung heboh.
Padahal Malini sudah sangat hati-hati dan sebisa mungkin tak menimbulkan suara berlebihan. Namun pada kenyataannya, Ananda memang tipikal yang bisa menyadari kehadiran seseorang hanya dari aroma tubuh terlebih parfum.
Jason yang baru menyadari kehadiran Malini, sudah langsung kikuk. Untuk ke sekian kalinya, lagi-lagi malah ia yang gugup, dan Jason mengakui dirinya kalah dari sang istri. Terlebih, Malini memang istri idaman. Baru datang sudah langsung menghampiri Ananda. Malini sengaja jongkok hanya untuk mengajak Ananda mengobrol agar wajah mereka sejajar. Kedua tangan Malini juga tidak mau diam. Jika tidak mengelus wajah, pasti kepala Ananda yang akan jadi bahan sasaran. Terakhir, Malini mengecu*p kening Ananda, sebelum akhirnya wanita itu berdiri. Sepanjang itu juga, Jason memperhatikan gelagat Malini yang penuh kelembutan. Kini, Malini sudah langsung meraih tangan kanannya kemudian menyalaminya dengan takzim.
Sadar, awalnya tangan kanan Jason masih menggandeng tangan kiri Ananda, Malini sengaja buru-buru mengakhiri salamannya. Namun sambil menatap Ananda penuh senyuman, Malini sengaja mendekap lengan kanan Jason menggunakan kedua tangannya.
“Oleng ... oleng kalau kayak gini caranya!” batin Jason sampai tidak berani bernapas sembarangan. Ia sungguh menahan napasnya, seiring tangan kanannya yang kembali menggenggam tangan Ananda. Namun, keceriaan Ananda yang pecah sambil memandangi wajah Jason maupun Malini, menjadi kebahagiaan tersendiri juga untuk Jason.
“Aku jadi curiga, ini jangan-jangan sebenarnya kamu ngefans berat ke aku, terus kamu minta bantuan Ananda, biar kamu nikah sama aku,” celetuk Jason yang memberanikan diri menatap Malini. Di sebelahnya dan sudah ia tatap sempurna, Malini langsung melotot syok seiring senyumnya yang benar-benar lepas.
“Apaan? Sebelumnya, aku beneran enggak kenal kamu meski ternyata, kamu pemain basket andalan dan beberapa dari saudaraku sampai ada yang ngefans ke kamu!” ucap Malini di tengah senyumnya dan perlahan tersipu lantaran Jason juga menatapnya dengan senyum yang perlahan membuat pemuda itu tersipu.
“Masa ...?” balas Jason dengan santainya tanpa bisa menghentikan senyumnya hingga ia tak kuasa menatap Malini lama-lama.
Interaksi kikuk antara Malini dan Jason tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Ananda. Ananda sampai ngakak dan kenyataan itu sudah langsung membuat kedua orang dewasa di sana amat sangat gugup.
__ADS_1
“Mamah ganti baju dulu,” pamit Malini sengaja mengakhiri kegugupannya.
“Ayo latihan jalan lagi. Habis itu kita main basket. Tapi bentar, di luar panas banget. Terus, habis ini mau ngapain?” ucap Jason kepada Ananda.
“Kita main sama mamah saja, Pah!” yakin Ananda setelah ia berpikir keras.
“Memangnya, Mamah enggak sibuk?” ucap Jason yang kemudian menoleh ke belakang. Ia pergoki, pintu kamar mandi yang baru saja tertutup dan itu oleh Malini yang berdalih akan ganti pakaian.
“Yang Papah tahu, ... Mamah lagi sibuk banget,” ucap Jason sembari kembali menatap Ananda. Bocah itu tak langsung merespons dan lagi-lagi berpikir keras.
“Mamah masih sibuk?” tanya Ananda dengan nada sedih ketika akhirnya Malini keluar dari kamar mandi.
Malini yang memakai kaus pendek warna putih dipadukan dengan celana kulot warna moka, sudah langsung terdiam bingung kemudian melirik Jason. “Istirahat, yuk? Nanda sudah tidur siang, belum?” Ia menghampiri Ananda dan tak segan mengembannya.
Ananda yang sudah berhasil duduk di tempat tidur, langsung menengadah hanya untuk menatap wajah Malini. Ia mengumbar senyuman kemudian mengangguk-angguk. “Senang banget, Mah! Tadi di sekolah pun seru juga!”
Menyimak itu, Malini berangsur duduk di depan Ananda, apalagi di seberang, Jason juga sudah duduk sambil terus memperhatikannya. Namun, baru juga duduk, Malini sudah refleks loncat lantaran ada bunyi “cit” ketika wanita itu duduk di sebelah Ananda. Dan karena loncatan refleks tersebut juga, Malini berakhir jatuh ke lantai, hingga tanpa sengaja, kedua mata Malini justru memergoki seabreg mainan Ananda yang berantakan di bawah ranjang tempat tidur.
Bergegas Malini bangun, membuka selimut yang menutupi tempat tidur, dan lagi-lagi membuatnya jantungan. Karena di balik selimut, selain ada mainan anak bebek warna kuning dan Malini yakini yang sempat bunyi ketika ia duduki, di sana juga banyak mainan serangga, bahkan ular.
“O ... oh ... aku lupa taruh semua itu ke bawah tempat tidur seperti perintah Papah, Pah. Sori!” ucap Ananda sembari membekap mulutnya menggunakan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Malini menggeleng tak habis pikir. Ia pergoki, bulu kuduk di kedua tangannya yang kompak berdiri. Detik selanjutnya ia memergoki Jason sudah kalang kabut mengambil setiap mainan serangga maupun ular dari atas tempat tidur mereka.
“Itu mainan dari mana, sih?” tanya Malini yang memang sangat takut ke ular meski itu hanya ular mainan.
“Semua ini baru datang. Aku sengaja memesannya karena Ananda takut laba-laba dan ular. Jadi, aku melatihnya agar dia terbiasa,” balas Jason.
“Tapi aku juga takut banget, Pah!” sebal Malini.
Mendengar itu, Jason justru berubah pikiran. “Oh iya ...?” Senyumnya merekah, yang mana detik itu juga, ia buru-buru menghampiri Malini. Maksudnya ingin menakuti sang istri, tapi Jason yang masih pinc*ang justru terbanting setelah lompat dari tempat tidur.
Malini yang sudah histeris ketakutan, refleks tertawa dan sampai terpingkal-pingkal. Namun Jason yang dasarnya sangat jail, tak tinggal diam dan sengaja melempar setiap mainan ularnya ke Malini. Jerit suara Malini yang benar-benar heboh, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Jason.
Untuk pertama kalinya, Ananda malah sibuk tertawa tanpa berniat mambantu Malini maupun Jason yang masih meringkuk di lantai hadapannya.
“Mamah sama Papah lucu banget!” ucap Ananda di sela tawanya.
Detik itu juga Malini dan Jason bertatapan.
“Baikan, yuk?” ajak Jason lirih pada Malini yang duduk pasrah di belakang pintu.
Malini yang menjadi menatap galak Jason, refleks menggerakkan dagunya ke kolong tempat tidur. Sementara Jason yang tidak merasa berdosa, langsung dengan santainya memastikan. Meski tak lama setelah itu, Jason benar-benar syok menyaksikan satu kontainer besar mainan milik Ananda yang ia sembunyikan di sana, justru terlihat sangat mencolok jika dilihat dari lantai sambil duduk, layaknya apa yang tengah ia dan Malini lakukan.
__ADS_1
“Pah ...?” panggil Malini lembut, meski itu memang kode keras.
Jason yang langsung tersenyum tak berdosa menatap Malini sambil berkata, “Ajian ringkas, Mah!”