Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
51 : Sidang Devandra


__ADS_3

Setelah sidang Gissel selesai, mereka bersiap untuk mengikuti sidang Devandra.


Rasa lega yang sempat mereka rasakan atas putusan hukuman untuk Gissel, kembali diwarnai ketegangan. Sebagian dari mereka dibuat emosi apalagi di sidang Gissel, Devandra sempat menghalang-halangi jalannya keadilan untuk Ananda.


Pemandangan langka, mereka saksikan ketika kehadiran Devandra di awal persidangan, sudah langsung menuju sekaligus menghampiri keluarga Malini. Devandra yang kedua tangannya diborgol di depan perut, sengaja menghadap Ananda.


Berbeda dari sidang sebelumnya, sidang Devandra kali ini sampai dihadiri ibu Sonya. Membuat semuanya menyadari, saat sidang Gissel, mereka tak melhat perwakilan keluarga apalagi orang tua Gissel. Ibu Sonya yang sempat congak dan sempat mencoba membuat kesepakatan licik dengan ibu Aleya maupun Malini demi membebaskan Devandra, kini tampil bersahaja melebihi keadaan orang yang sangat susah.


Tak ada lagi barang-barang mewah termasuk itu rias tebal dan keangkuhan. Yang ada kini ialah ibu Sonya yang tampak susah layaknya orang sakit.


“Ada apa?” tanya Ananda yang sudah langsung menyikapi keadaan dengan tegas.


Sebagai orang yang menjadi saksi perjuangan mamanya, juga orang yang selalu menyaksikan sandiwara bahagia seorang Malini, padahal diam-diam wanita itu kerap menangis dan sebisa mungkin menyembunyikannya darinya, keadaan tersebut memang membuat Ananda berpikir dewasa lebih dini.


“Tubuhku boleh saja tidak sempurna seperti teman-teman, tapi aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Mamaku. Aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan Mamahku. Apalagi kamu tidak bisa mengembalikan setiap tetes air matanya yang selalu saja jatuh gara-gara kamu!” tegas Ananda yang yakin, pria yang harusnya ia panggil papah, tengah berusaha meminta maaf kepadanya. “Jika kamu ingin minta maaf, paling tidak lakukan itu lebih dulu kepada mamaku. Meski kamu juga tidak berhak memaksa kami untuk memaafkanmu!” lanjut Ananda masih menatap kesal Devandra yang sudah menunduk pasrah di hadapannya.

__ADS_1


“Jika kamu memang menyesal, jalani lah semuanya dengan semestinya. Jangan menghalang-halangi keadilan untuk Ananda maupun proses hukum untukmu. Cukup saat di sidang Gissel saja kamu membuat kebencian Ananda makin berakar pinak kepadamu, tidak setelah ini, setelah kamu hanya menemukan penyesalan sebagai satu-satunya yang tersisa untukmu.” Jason yang masih mengemban Ananda sekaligus mendampingi Malini sengaja angkat suara.


“Ibumu saja tetap enggak ada usaha buat menemuiku sebagai pengganti orang tua Malini, kan? Lima tahun, dan selama itu apa yang kalian lakukan benar-benar kurang aj*ar!” lirih Nina geregetan. Ia benar-benar marah.


Sejauh ini memang tidak ada usaha niat baik memperbaiki hubungan dari pihak Devandra. Padahal, sekelas orang asing saja selalu dirangkul oleh keluarga mereka. Keluarga mereka selalu memperlakukan orang lain dengan baik. Apalagi orang sendiri dan itu berniat untuk hal baik? Alasan tersebut pula yang membuat Nina menutup hatinya untuk memaafkan Devandra dan ibunya. Iya, kakak beda ibu dari Malini itu sungguh tidak bisa melakukannya, bahkan meski dampak dari keputusannya itu dosa. Karena jika ingat Devandra dengan sadar menolak menyumbangkan darahnya padahal saat itu Ananda sedang sekarat, rasanya Nina nyaris meledak.


“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Devandra yang tetap menunduk dalam. Permintaan maaf yang sebenarnya telat hingga keluarga Malini sampai tidak bisa berkomentar. Barulah, di permintaan maaf ke dua yang ia lakukan, ia mendapatkan jawaban dan itu secara langsung dari Malini.


“Tunjukan permintaan maaf sekaligus penyesalanmu melalui bukti nyata. Jadilah manusia yang lebih baik lagi sebagai wujud dari penyesalan sekaligus permintaan maafmu kepada kami,” ucap Malini tetap duduk dengan elegan dan tak mau terkecoh oleh Davendra lagi.


Di belakang mereka, ibu Sonya yang sendirian, memang tak memiliki nyali untuk mendekat apalagi meminta maaf. Wanita itu memilih bungkam apalagi sejauh ini, ibu Sonya mulai sadar bahwa kini, ia sudah bukan siapa-siapa lagi. Ia bukan lagi sultan atau setidaknya memiliki masa depan sultan. Sebab semenjak Malini marah dan memutus semua aset hidup enak termasuk itu pekerjaan mentereng untuk Devandra, kehidupan ibu Sonya dan Devandra benar-benar bukan siapa-siapa.


“Jangan nangis, Bu. Jangan nangis. Nih, saya kasih sapu tangan gambar dolar. Biar bisa kasih nuansa tenangnya. Karena meski semua yang berkaitan dengan uang kerap menjadi set*an, kadang kita membutuhkan banyak uang untuk kebahagiaan sekaligus ketenangan. Dilihat juga, orang di uang dolarnya utu aku. Kim Oh Jan Paojan,” ucap pak Ojan sengaja menyemangati ibu Sonya.


“Semangat yah, Bu. Laki-laki seperti anak Ibu dan harusnya dipanggil bapak memang layak dipenjara karena apa yang dia lakukan sudah mencerminkan sebagai bapak level dakjal. Jadi, kalau Ibu berkenan dan ingin selalu bersama-sama dengan Devandra, Ibu sangat dipersilakan buat ikut dipenjara.” Kali ini pak Ojan sengaja menuntun ibu Sonya. Namun ibu Sonya yang sudah menerima sapu tangan dolarnya segera menggeleng. Ibu Sonya menatap takut pak Ojan yang juga buru-buru meninggalkannya. Pria itu kembali duduk menjadi bagian dari keluarga Malini. Sementara ibu Sonya terperangah dengan gambar orang di uang dolarnya yang memang wajahnya pak Ojan.

__ADS_1


“Kayaknya dia memang artis ya? Oh iya bener. Efek dia pakai kacamata hitam hitu jadi agak sulit dikenali. Dia kan si Ojan itu,” batin ibu Sonya yang kemudian menggunakan sapu tangan dolar pemberian pak Ojan, untuk menghapus air mata sekaligus ingusnya.


Acara sidang berjalan dengan lancar. Seolah ingin membuktikan kesungguhan penyesalannya, Devandra yang kembali meminta maaf sekaligus mengakui kesalahannya telah menelantarkan Ananda, benar-benar tidak mempersulit jalannya persidangan. Devandra nurut-nurut saja dan mengakui semua tuduhan yang diberikan kepadanya. Hingga berbeda dengan sidang Gissel, sidang Devandra berakhir lebih cepat.


Devandra dinyatakan bersalah layaknya tuduhan yang dilayangkan oleh jaksa. Namun layaknya kepada Gissel, putusan tetap hukuman bisa kembali berubah jika pihak terdakwa melakukan banding dan semacamnya.


“Ini sudah lebih dari cukup karena tanpa tanggung jawabnya, kamu masih bisa hidup dengan layak!” ucap ibu Nina yang sudah langsung memeluk Malini.


Namun, diam-diam sebenarnya Malini menyayangkan keadaan kini. Kenapa hubungan mereka yang dimulai dengan baik-baik harus diwarnai sidang di pengadilan bahkan hukuman penjara? Kenapa Devandra memilih mengorbankan hidupnya untuk hal yang tidak berkah bahkan membuat Devandra kehilangan semuanya.


“Biar bagaimanapun dia tetap papah Ananda, dan aku sangat berharap, dia beneran jadi orang lebih baik lagi agar tidak makin membebani Ananda. Ananda sudan sangat terluka hanya karena menjadi bagian darinya. Enggak kebayang jika karena ini, Ananda harus kembali dibul*y oleh teman-temannya,” batin Malini yang sudah langsung memeluk Ananda, ketika ibu Nina mengakhiri pelukan mereka.


***


Buat kalian yang ingin tahu kisah Nina yang juga jadi korban pelece*han sekaligus dijual oleh ibunya Malini dan bapak tiri mereka, kalian wajib baca : Pembalasan Seorang Istri yang Haram Disentuh.

__ADS_1


__ADS_2