
“Ini sudah begini, ada yang mau disampaikan, atau salam-salam buat yang ada jauh di sana?” Pak Ojan yang masih memandu acara, kali ini sengaja bertanya dengan hati-hati. “Gini contohnya,” lanjutnya menatap saksama pasangan muda di hadapannya. Terlebih, wajah Malini memang wajah-wajah manis yang awet muda, ditambah Malini yang memang murah senyum. Wanita itu tampak lebih muda dari Jason yang memang lebih tua.
“Kamera ... kamera ... ke saya, ke saya,” lanjut pak Ojan mendadak bawel dan ulahnya langsung membuat satu studio di sana menertawakannya. “Nah, begini. Jam-Jam Azzam anaknya pak Kalandra dan ibu Arum yang punya rumah makan di jalan kenangan tanpa mantan karena mereka sudah kompak mop—on!” bawel pak Ojan lagi dan lagi-lagi membuat tawa di sana pecah. “Jam, barusan aku sudah nyebut namamu sekaligus usaha kamu sekeluarga. Jangan lupa bayar kamu karena itu namanya kendorse!” lanjutnya tak segan menabo*k gemas kamera, seolah kamera tersebut memang Azzam besta*inya.
Sebenarnya Malini yang sempat kembali tertawa karena kelakuan pak Ojan, ingin meminta sang suami untuk menyapa nyonya Sheryn. Namun, Malini takut melukai hati suaminya. Malini ingin, semuanya mengalir layaknya air, meski ia juga ingin ibu Sheryn menjadi bagian dari kebahagiaan mereka.
“S-sa ...,” ucap Jason berat, sesaat setelah ia menghela napas dalam sekaligus berat.
Menyaksikan itu, Malini yakin sang suami akan membahas tentang ibu Sheryn.
“Iya, kenapa Jas?” sergah pak Ojan buru-buru meninggalkan salah satu kamera yang awalnya ia pegangi menggunakan kedua tangan agar kamera tersebut dipenuhi wajahnya. Hingga di setiap layar televisi khususnya televisinya Azzam, jadi dipenuhi wajahnya.
“Salam buat mamah papah saja,” singkat Jason.
“Yang mana?” sergah pak Ojan lantaran dari anggota mereka saja, yang harus Jason panggil mamah papah ada beberapa.
“Semuanya, ... biar adil.” Jason tersenyum hangat.
“Iya, bener. Saya pun begitu, biar adil. Soalnya kalau disebut secara detail pun, jadinya aneh.” Pak Ojan tertawa. “Ke orang tua angkat saya saja ... hahahaha. Mami, Papi, sungkem.”
Dalam diamnya, Malini merasa sangat bersyukur. Kenyataan pak Ojan yang tidak bisa diam membuat suasana di sana selalu cair dengan kebahagiaan. Tak ada tegang-tegangnya padahal Malini sudah sempat merasa gugup sekaligus takut.
Acara syuting usai dan ditutup dengan jumpalitan oleh pak Ojan yang kegirangan.
“Encok Pak Gede!” sergah Jason khawatir dan sengaja menghampiri pak Ojan yang sampai ia gendong.
__ADS_1
“Enggak apa-apa, yang penting nanti panen banyak dan acara ini pasti piral! Oh, iya ... di luar pasti banyak wartawan! Kalau kalian kesulitan keluar, nanti bareng Kak Ojan saja,” balas pak Ojan tetap kegirangan meski ia berdalih encok dadakan. Namun karena bayaran yang akan diterima bernilai fantastis, pak Ojan bahagia-bahagia saja. Apalagi sampai detik ini, Jason tetap menggendongnya.
“Lini, lihat. Cocok jadi papah sama anak, kan? Ini kalian beneran enggak mau angkat Kak Ojan jadi anak? Biar Kak Ojan jadi adiknya Ananda?” ucap pak Ojan masih kegirangan di antara serpihan kertas warna-warni yang jatuh menghujani panggung dan bertanda berakhirnya acara.
“Malu sama Jian lah, Pak Gede!” ucap Jason masih kuat menjawab. Lain dengan Malini yang sudah kembali tertawa lemas.
“Oh iya ... Jian. Kalau ke Jian, Kak Ojan enggak hanya malu. Tapi memang takut. Takut enggak diakui sebagai daddy. Hahahaha!” ujar pak Ojan yang menjadi tertawa. Tawa yang juga langsung menular kepada Malini dan Jason. Lain dengan Ananda yang sibuk sendiri.
Ananda masih kegirangan, berusaha menangkap serpihan potongan kertas warna-warni yang masih berjatuhan menghujani sekitar panggung kebersamaan mereka. Jason dan Malini yang menyaksikannya jadi tersenyum gemas.
***
“Aku enggak mau mengusik mamahku. Aku beneran membebaskan dia, apalagi sekarang ini, aku sudah dewasa. Aku sudah menjadi kepala keluarga, dan aku yakin, aku berkali lipat jauh lebih bahagia. Andai dia ingin bersamaku, aku akan dengan sangat bahagia menerimanya. Namun andai dia berusaha melukai kita, aku akan tetap tegas kepadanya.” Jason menatap saksama kedua mata istrinya tak lama setelah mereka sampai apartemen Malini, dan telah menjadi tempat tinggal mereka.
“Nanda belum gosok gigi tapi sudah tidur,” lanjut Malini sambil mengusap wajah sang putra yang menyandar nyaman di bahu Jason.
“Enggak apa-apa, sekali-kali bolos sikat gigi,” ucap Jason yang kemudian tertawa geli lantaran Malini yang sudah lebih dulu melangkah, langsung menoleh kemudian meliriknya dengan galak.
“Menurutmu, apakah semuanya sudah kita bereskan?” tanya Jason yang kemudian menyusul Malini.
Bincang santai dengan pak Ojan memang membuat mereka pulang larut malam. Belum lagi saat keluar dari studio, mereka sudah langsung diserbu awak media. Mereka sampai kewalahan, tapi mereka tetap wajib menyikapi dengan ramah. Saking ramahnya dan menjawab satu persatu pertanyaan yang mereka dapatkan, Ananda sampai ketiduran di dekapan Jason.
“Harusnya sudah beres, ya?” ujar Malini sambil melepas anting maupun kalungnya di depan cermin rias.
Namun, Jason yang membaringkan Ananda dengan hati-hati di tempat tidur mereka, berdalih belum.
__ADS_1
“Belum ...?” lirih Malini yang kemudian terdiam merenung.
“Kita belum tahu kelanjutan nasib Davendra setelah keluar dari penjara. Setidaknya, kabar pernikahannya dengan Gissel.” Jason menghampiri Malini dengan gaya yang benar-benar santai.
Senyum lembut kembali menghiasi wajah Malini. “Aku juga penasaran dengan kabar terbaru Jeslyn.” Ia dapati, sang suami yang jadi berpikir keras.
“Hubungannya sama kita, apa?” balas Jason. Ia berangsur meraih kedua tangan Malini kemudian menggenggamnya.
“Dia kan cinta ke kamu. Dia bahkan merasa memiliki kendali hidup kamu,” yakin Malini balas menggenggam kedua tangan Jason.
“Lah ... lawannya seberat kamu, mana mampu!” balas Jason refleks.
Malini langsung menertawakan balasan refleks suaminya. “Maksudmu, aku gendut, makanya berat?” ucapnya belum bisa menyudahi tawanya.
Jason yang langsung tersipu, buru-buru menggeleng.
“Bohong!” tepis Malini masih cekikikan.
“Sumpah, enggak!” yakin Jason meski ia tetap belum bisa menyudahi tawanya.
“Tapi berat badanku naik tiga kilo loh, Pah!” yakin Malini, dan langsung mendapat tanggapan pura-pura terkejut dari Jason. Tanggapan yang benar-benar membuatnya gemas. Ia sengaja mendekap tengkuk Jason menggunakan kedua tangannya, hingga tubuhnya yang hanya selengan Jason, tergantung lantaran kedua kakinya jadi tak sampai menyentuh lantai.
“Aku juga belum ajak kamu dansa. Aku pengin banget ajak kamu dansa,” ucap Jason.
Malini yang awalnya masih bermanja dan membenamkan wajahnya di leher suaminya, langsung panik. “Aku enggak bisa dansa. Beneran sama sekali enggak bisa!” yakinnya sambil menatap saksama kedua mata sang suami tanpa mengakhiri dekapannya.
__ADS_1