
“Kamu tahu pertandingan sudah ada di depan mata, tapi kamu tetap mau pergi?”
“Ada urusan yang benar-benar harus segera saya selesaikan dan urusan ini sangat penting, Coach!”
“Oh ... berarti sekarang memang ada yang lebih penting dari basket yang selama ini sudah jadi hidup sekaligus menghidupi kamu? Janda dan anak katarak yang sedang viral itu?!”
“Maaf, Coach. Coach tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya terlebih yang mengeluarkan saya dari tim inti secara tiba-tiba juga Coach! Permisi!”
“J-JASON ... BERANI KAMU PERGI DAN MENINGGALKAN LATIHAN KALI INI, KE DEPANNYA KAMU TIDAK PERLU LATIHAN LAGI. SAYA AKAN MENGELUARKAN KAMU DAN MEMBUAT NAMAMU ADA DI DALAM DAFTAR HITAM AGAR KAMU TIDAK SEENAKNYA MEMPERMAINKAN JADWAL YANG SUDAH JADI TANGGUNG JAWAB KAMU!”
“Baik Coach, saya terima jika Coach mengeluarkan saya!”
Sepanjang mengendarai motor, Jason yang masih terbawa emosi karena percakapannya dengan sang pelatih melalui telepon sebelum ia minggat terus terngiang-ngiang obrolan terakhir mereka. Obrolan yang sungguh menaikkan pitam seorang Jason, terlebih Jason baru tahu, Malini dan Ananda sudah jadi bahan ol*ok-ol*okan tim basketnya.
***
“Kok kamu di sini?” itulah yang Malini tanyakan ketika Jason tiba-tiba sampai di dapur.
“Lah ... aku kan pengangguran sukses. Saking gampangnya buat sat-set tiba-tiba di sini. Kalian di Arab pun aku akan kejar ke sana.” Jason tersenyum ceria kepada Ananda yang sudah langsung mendongak hanya untuk menatapnya, selain bocah itu yang juga sudah langsung tersenyum ceria.
Malini sedang memanaskan sup dan juga menu lainnya untuk Ananda makan siang. Baginya, sesedih dan seterpuruk apa pun dirinya, Ananda tetap nomor satu. Ia tak boleh mengesampingkan kepentingan apalagi kesehatan Ananda. Namun karena kini Jason sudah ada di sana, Malini sengaja menambah porsinya.
“Dia masih urus Ananda serba sendiri. Padahal selain sedang pusing-pusingnya, di rumah ini pun banyak Mbak. Di sini banyak pekerja dan harusnya bisa dia andalkan andai dia memang niat,” batin Jason yang diam-diam mengawasi Malini. Ia makin mengagumi ketegaran seorang Malini yang masih bisa tampil tenang bahkan ceria jika di depan Ananda.
“Papah juga sekalian makan. Ini latihan basketnya sudah beres?” ucap Malini yang sengaja menyempatkan waktu untuk menatap wajah bahkan kedua mata Ananda dengan saksama sembari menyuguhkan setiap makanan yang ia bawa dari sekitar kompor.
__ADS_1
Membahas latihan basket dan semua yang berkaitan dengan basket, Jason sudah langsung tidak bersemangat. Ia bahkan lebih memilih menyuapi Ananda, kemudian menyuruh Malini untuk memakan jatah makanan miliknya.
“Kamu sok-sokan kasih aku makan padahal kamu saja belum makan, kan? Sudah pokoknya habis kamu makan, kita tamasya! Sekali-kali kita liburan lah, biar kayak orang-orang!” sergah Jason dan sudah langsung membuat Ananda heboh.
“Papah, kita mau liburan ke mana?” tanya Ananda.
“Ya pokoknya, pasti kita senang!” yakin Jason sudah langsung menyuapi Ananda lagi. “Makan yang banyak ya. Biar Nanda kuat. Satu minggu lagi harusnya Nanda bisa operasi lensa mata lagi. Bismilah, ini jadi operasi terakhir dan ke depannya Nanda beneran sembuh. Hahaha ....” Setelah semangat menggebu-gebu, Jason mendadak tertawa. Malini yang menyimak sampai bingung. “Aku bilang bismillah, berasa jadi orang alim, ih!”
Karena Jason masih haha hehe, Malini sengaja menggunakan sendok di tangan kanannya untuk menekan gemas sebelah pipi pemuda itu.
Kepergian Malini kali ini disertai ajudan. Bahkan meski Malini dan Ananda diboyong menggunakan motor matic oleh Jason. Pengawal atau itu ajudan Malini dan Ananda tetap menyusul dengan mobil membawa barang-barang.
“Papah kereeeeennnnnnn!” Ananda tak hentinya kegirangan sekaligus memuji Jason terlebih biar bagaimanapun, ini menjadi kali pertama bocah itu motoran.
Layaknya Jason, Malini dan Ananda juga kompak memakai helm. Bedanya untuk Ananda, helm bocah itu tak ada penutup kacanya dan Ananda sengaja memakai kacamata khususnya.
Seperti biasa, Malini hanya mesem, merasa geli, tapi ia sangat menikmati interaksi penuh kebahagiaan antara Jason dan Ananda. “Motoran begini rasanya plong banget. Berasa lagi muter-muter di jalan kampung.”
Mendengar itu, Jason dengan bersemangat berkata, “OKE! Berarti kita harus muter-muter lebih jauh lagiiiiii!”
“Asyyyyiiiiiiiikkkkk!” heboh Ananda yang masih bertahan duduk di depan Jason. Mirip kak Ojan yang akan selalu buru-buru duduk di depan agar tidak dibonceng di belakang, oleh siapa pun yang membawa.
Motoran keliling Jakarta dan melewati jalan tikus membuat ajudan Malini kerap kehilangan jejak Jason. Malini yang paham kenyataan tersebut akan terjadi sengaja menelepon ajudannya, meminta pria itu untuk langsung menunggu di apartemennya karena niatnya, Jason akan mampir ke apartemennya juga.
Malini pikir begitu. Beres motoran dan membuat beban hidupnya berkurang, ia akan langsung diboyong ke puncak setelah mereka menemani Jason mampir ke apartemen. Namun, tamasya yang Jason maksud justru beres-beres apartemen Jason yang keadaannya lebih berantakan dari beban hidup Malini.
__ADS_1
Pakaian kot*or ada di mana-mana. Sam*p*ah dan segala sisa makanan juga terserak. Mirip apartemen tak dibersihkan bertahun-tahun.
“Memang aku enggak pernah beres-beres, yang penting aku tetap mandi dan ganteng, kan?” balas Jason kepada Malini yang memang langsung sibuk mengomel. Sambil memisahkan mana pakaian ko*t*or sekaligus samp*ah, wanita itu tak hentinya berceramah. Berasa mendengar siraman rohani dari mamah sekaligus istri.
Ananda yang jadi bingung kenapa mereka tak kunjung ke puncak untuk tamasya, bertanya, “Terus, kita tamasyanya kapan, Pah?”
“Ya sekarang! Ini beneran di sini! Bentar, Papah sapu-sapu, terus pel lantainya biar lebih bersih. Habis itu Papah pasang tenda. Tendanya luas kok. Kita bisa tidur bareng bertiga nanti di dalam!” Jason begitu bersemangat menyiapkan segala sesuatunya.
“Jadi kita enggak tamasya di puncak, Pah?” tagih Ananda lagi yang juga mulai ikut memungut setiap bungkus camilan di meja.
“Enggak ... kita di sini saja tamasyanya. Selain irit, yang Mamah butuhkan kalau sedang banyak pikiran kan memang pekerjaan rumah tangga, Nak. Mamah butuh pelampias*an emosi melalui cucian baju. Cucian piring, beberes rumah, kamar mandi, ... IYA KAN, MAH?!”
Mendengar itu, Malini yang masih menggerutu di depan mesin cuci dan mulai memisahkan pakaian kot*ornya, berseru, “Kamu sini, Pah ... siniii!”
Jason yang meski tahu Malini sudah sangat gondok kepadanya, tetap menanggapi dengan sangat santai. “Siiiiaaap, Mamah sayaaaang!”
Ananda yang mendengar sekaligus menyaksikan tanggapan Jason secara langsung, jadi tidak bisa untuk tidak tertawa.
Jason yang masih cengar-cengir layaknya orang tidak punya beban, sungguh langsung menghampiri Malini. Di belakang, Malini sungguh menunggunya dengan tampang sangat galak sementara kedua lengan pakaiannya sudah disingsing hingga siku.
“Siniiii, biar aku kucek sekaligus sikat sekalian biar kamu lebih mikir!” omel Malini sengaja menjaga suaranya agar Ananda tidak dengar.
Bukannya takut, marah, atau setidaknya merasa tertantang, Jason tetap saja cengar-cengir. Ia sengaja menghampiri Malini, memberi wanita itu pelukan. “Ini yang kamu butuhkan. Wajib diluapkan, jangan dipendam. Takutnya malah jadi penyakit hati dan mental. Karena andai iya, yang paling merasakan dampaknya tetap kamu sama orang terdekat kamu bahkan itu Nanda. Menangislah, menangis dan luapkan semuanya agar kamu lega!” lembut Jason.
Diperlakukan begitu, air mata Malini sudah langsung sibuk berjatuhan. Kesedihan Malini seketika membuncah bersama beban pikiran yang juga ia lepaskan melalui tangisan. Memeluk erat tubuh Jason, ia juga sengaja membenamkan wajahnya di dada Jason yang masih basah sekaligus bau keringat bercampur parfum. Ia menangis lepas, tersedu-sedu dengan bebas.
__ADS_1