Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
40 : Sepotong Kisah Keluarga Jason


__ADS_3

Suasana kediaman orang tua Jason tak hanya sepi, tapi juga dingin. Bukan perkara karena di sana lantai dan sebagian dindingnya menggunakan marmer, tapi karena mungkin efek di sana minim penghuni. Rumah mewah itu tampak tidak hidup karena penghuni selaku jiwa di sana yang kurang bahagia.


“Coba lah bersikap biasa juga kepada mamah kamu. Rame, santai, tapi tetap sopan. Jujur, itu yang bikin kamu terasa sangat menyenangkan. Baru kenal pun berasa punya kembaran saking care-nya kamu,” lirih Malini. Mereka masih di ruang pertama kediaman di sana, dan tampaknya merupakan ruang tamu.


“Aku enggak bisa dengan sembarang orang. Kalau memang merasa cocok dan orang itu nyambung, aku memang bisa dekat. Namun kalau enggak, ya kayak orang lain. Wajar,” ucap Jason agak sewot dan ia tak menyadarinya.


“Ini kamu marah ke siapa? Kok aku sampai kena semprot?” balas Malini dan seketika membuat Jason minta maaf.


“Oma ...? Halo?” ucap Ananda sudah lebih dulu menyapa meski jarak mereka masih sangat jauh. Ia dan kedua orang tuanya masih di bibir pintu masuk selaku batas antara ruang tamu dengan ruang keluarga keberadaan mamah Jason.


Berbeda dengan ruang tamu yang bernuansa hitam dan emas, di ruang keluarga yang ukurannya empat kali lipat lebih luas, di sana semuanya serba emas sekaligus kaca. Nyonya Sheryn menatap bengis kehadiran Malini dan Jason yang disertai Ananda. Tatapan yang seolah sudah langsung mengusir setiap yang ditatap.


“Oma ... maafin Papah yah. Maaf karena Papah jarang pulang. Maaf juga kalau kami banyak salah,” ucap Ananda.


Detik itu juga tatapan bengis nyonya Sheryn menjadi bergetar. Mata itu perlahan melirik Ananda. Ia pergoki, Ananda yang memaksa turun. Bocah itu tidak bisa berjalan dengan normal. Namun, Ananda dengan sangat bersemangat merangkak, menuju meja dan sofa terdekat untuk berpegangan hanya agar bisa secepatnya sampai di hadapannya.


“Oma enggak usah khawatir. Sebentar lagi aku pasti bisa jalan apalagi Papah Jason selalu melatihku,” ucap Ananda begitu optimis mendekati nyonya Sheryn. Walau yang didekati, malah buru-buru pergi tanpa sedikit pun memberinya kesempatan untuk lebih dekat.


Malini yang sadar kini giliran dirinya yang membantu Jason, sengaja merangkul suaminya itu dari samping belakang. Tak berselang lama, Jason berangsur menatapnya hingga tatapan mereka bertemu. “Susul. Dirayu, disayang-sayang, diperhatikan. Ingat, enggak semua orang bisa menuangkan rasa sayang maupun rasa cintanya dengan lembut apalagi penuh perhatian. Termasuk orang tua, enggak semua orang tua bisa lembut ke anak-anaknya. Kalau kamu yang anaknya saja enggak peduli ke mamah kamu, gimana orang lain?”


“Pelan-pelan dirangkul. Kayak ke sahabat saja, pertama-tama temenan lah. Diajak ngobrol.”

__ADS_1


“Orang tua kamu, termasuk itu mamah kamu, boleh saja gagal jadi orang tua. Namun kamu yang sudah tahu keadaan mereka, jangan sampai kamu gagal jadi anak buat mereka. Karena kalau sama-sama gagal, yang mau kasih arahan siapa?”


“Nanti, cukup tunjukan bagaimana harusnya mamah kamu bersikap ke kamu. Apalagi kan sekarang kamu juga sudah mulai jadi orang tua.”


“Terus, ... untuk sementara kita tinggal di sini juga enggak apa-apa. Andai sampai diusir, ya enggak apa-apa, kita tetap di sini. Soalnya kalau aku lihat, mamah kamu juga ingin itu—bukti. Setidaknya, dengan keadaanku yang enggak sempurna, pasti mamah kamu juga ingin hubungan kita bisa bikin kamu jadi orang yang lebih baik lagi. Paling tidak, ibaratnya ini jadi misi khusus buat aku. Dan sebisa mungkin, aku juga akan meyakinkan mamah kamu bahwa meski kita sudah menikah, aku enggak pernah merebu*t kamu dari mamah kamu. Posisi mamah kamu beneran enggak akan tergantikan.” Malini mengakhiri ucapannya dengan menepuk-nepuk pipi Jason yang sudah sampai ia bingkai menggunakan kedua tangannya.


“Papah, aku juga ikut!” rengek Ananda yang sudah kembai ke mereka sambil merangkak.


“Ya sudah, Nanda boleh ikut, tapi Mamah nanti saja biar Papah tetap bisa punya waktu buat berdua sama Oma.” Malini meraih Ananda kemudian memberikannya kepada Jason yang tampak berat menghadapi kenyataan dan itu mamahnya sendiri. Kendati demikian, Jason terlihat akan berjuang.


Sambil menerima sekaligus mengemban Ananda, Jason mengec*up kuat pipi kiri Malini.


“Aku tunggu di depan,” ucap Malini sengaja pamit.


Hanya saja, sesampainya di lantai atas, kamar Jason dalam keadaan terkunci. Begitu pun dengan kamar lain yang masih tersisa. Tak ada kamar yang bisa mereka tempati termasuk kamar tamu yang ada di bawah. Seolah, nyonya Sheryn memang sengaja menolak kedatangan mereka.


“Enggak apa-apa, kita tunggu saja. Tapi kalau boleh tahu, di sini ada siapa saja?” ucap Malini.


“Di pernikahannya yang sekarang, mamahku enggak dapat anak. Papah sambungku juga hanya punya anak angkat yang usianya sebaya denganku,” ucap Jason yang langsung ditanggapi anggukan paham oleh Malini.


“Ya sudah, selamat berjuang!” ucap Malini sambil mengepalkan tangan kirinya yang tidak menenteng tas dan ia angkat di depan wajah.

__ADS_1


“Tapi kamu jangan oleng ya ke kakak angkatku,” lanjut Jason dan sudah langsung mengusik Malini.


“Maksudnya?” refleks malini sudah langsung menyikapinya dengan serius. “Cowok?”


Mendengar itu, Jason refleks menghela napas dalam. “Cewek ih. Ngeri malah kalau ditaksir cowok dan orangnya masih dekat!”


“Jadi ...?” refleks Malini yang belum apa-apa sudah merasa jantungnya nyaris copot.


“Mamah dan papah sambungku, inginnya aku nikah sama dia, dan kami sama-sama melanjutkan bisnis,” ucap Jason.


“Jadi ...?” lirih Malini menatap Jason penuh keseriusan.


“Enggak lah. Dari dulu, aku dipaks*a-paks*a enggak mau. Apalagi dulu, bagiku basket segalanya. Kalau sekarang kan sudah beda. Bagiku, kamu dan Nanda nomor satu!” enteng Jason.


Malini sudah langsung tersipu mendengarnya. “Namun, dia mau sama kamu?” lembutnya.


“Maulah ... siapa sih yang enggak mau sama aku?” tegas Jason sengaja pamer. Sambil tersenyum malu-malu, ia berkata, “Kamu saja mau!” Detik itu juga istrinya yang sempat terlihat terkejut, menjadi kembali tersipu.


Setelah obrolan singkat mereka yang membuat Malini mengetahui sepotong hubungan Jason dengan keluarganya, Malini memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. Ia duduk di sana setelah meletakan kantong bawaannya yang tak lagi ditenteng Jason, di meja kaca yang ada di sana. Seiring ia yang menghela napas, ia melongok ke dalam. Ia berdoa agar suaminya mendapatkan hasil terbaik dari usaha mereka. Meski hadirnya seorang wanita muda yang teramat cantik, wanita itu baru pulang dan sudah langsung menatapnya penuh perhatian, juga langsung membuat dadanya berdebar kencang.


“Heiii ...?” sapa si wanita bernama Jeslyn, yang tak lain anak angkat dari papah sambung Jason.

__ADS_1


Wanita yang juga diharapkan menjadi jodoh Jason oleh orang tua Jason, agar bersama Jason, wanita cantik yang juga langsung tersenyum riang kepadanya, sama-sama melanjutkan bisnis keluarga.


“Haiii ... salam kenal! Saya Malini!” ucap Malini tak kalah riang sambil mengangsurkan tangan kanannya. Karena meski ia sudah tahu sepotong kisah keluarga Jason, ia tak mau gegabah. Malahan, ia ingin merangkul mereka yang selama ini Jason hindari. Bahkan meski pada akhirnya, ukuran tangan kanannya tidak dibalas oleh wanita yang mengaku bernama Jeslyn. Malini sama sekali tidak masalah.


__ADS_2