Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
58 : Masalah yang Dihadapi Ananda


__ADS_3

“Ananda, Jason itu bukan papah kamu. Yang papah kamu yang di penjara!” tegas seorang teman kelas Ananda. Bocah laki-laki yang gayanya sok jagoan itu menghampiri Ananda, menatapnya marah.


“Ya memangnya kenapa? Papah Jason juga papahku karena papah Jason sudah menikah dengan mamahku, selain Papah Jason yang sangat menyayangiku. Lagian, kenapa juga kamu terus ikut campur urusanku? Mulai sekarang kamu enggak usah sibuk bahas papahku. Urus papahmu sendiri saja karena aku saja enggak pernah ganggu kamu maupun siapa pun!” tegas Ananda yang sebenarnya baru akan duduk di kursinya. Karena ia memang baru sampai kelas.


Semua yang di sana hanya jadi penonton. Termasuk ketika bocah laki-laki sok jagoan bernama Rendy, dengan sengaja menin*ju wajah Ananda hingga Ananda berakhir terkapar di meja.


“Kamu pikir kamu siapa marah-marah ke aku? Kamu pikir, caramu sibuk di acara tivi, dan terus jadi pembahasan dengan Jason, kamu lebih hebat dari aku? Ingat, papah aslimu itu penjahat! Makanya dia dipenjara! Bahkan alasannya dipenjara karena dia tidak mau mengakuimu. Papahmu jiji*k kepadamu yang punya penyak*it mata menjij*ikan!” lantang Rendy meledak-ledak tepat di atas wajah Ananda.


Anak-anak di sana makin takut kepada Rendy, meski hadirnya Jason yang sudah langsung menarik seragam bagian punggung Rendy kemudian menjauhkannya dari Ananda, mengubah segalanya.


“Maksud kamu sok jagoan gitu apa? Maksud kamu sibuk urus bahkan mengatur hidup Ananda apa? Telepon Papah kamu. Panggil orang tuamu ke sini!” bentak Jason. Ia bahkan tak peduli meski lawannya bocah berusia enam tahun menuju tujuh tahu. Karena meski dari segi fisik sekaligus usia masih kecil, apa yang Rendy lakukan tidak bisa dibiarkan apalagi dimaafkan begitu saja.


Rendy langsung diam dan melirik Jason dengan lirikan tajam. Sementara kedua tangannya sudah langsung mengepal lantaran Jason sampai teriak-teriak memanggil guru yang harusnya mengawasi di sana.


“Panggil orang tuanya sekarang juga jika kalian tidak mau kasus ini saya bawa ke ranah hukum. Jangan menganggap ini sebagai kenakalan anak hanya karena pelakunya anak-anak! Tadi saya dengar sendiri alasannya sok bossy ke anak saya.” Jason meledak-ledak, dan makin meledak-ledak ketika ia menyadari ada darah yang keluar dari mata kanan Ananda. Itu bekas tinj*u Rendy.


Anak-anak yang di sana selain Rendy, langsung menatap ngeri apa yang menimpa Ananda. Mereka ketakutan kepada Rendy. Beberapa dari mereka memilih mengemasi perlengkapan belajar mereka yang sebelumnya sudah sempat dikeluarkan dari tas. Tak lama kemudian, satu persatu dari mereka memutuskan keluar dari kelas.


“Kita bawa Nanda ke UKS, Pak!” sergah Mis Rinda kepada Jason yang sudah langsung mengemban Ananda.


“Dibawa ke UKS dikiranya hanya memar atau sedikit tergores? Ini berdarah, Miss! Laporkan ini ke pihak sekolah. Kirim salah satu pihak sekolah untuk ikut dengan saya agar kalian tahu proses pengobatan yang Nanda jalani. Jangan lupa, di depan selalu ada wartawan yang akan selalu mengikuti kami!” kesal Jason terlebih sampai detik ini, Ananda hanya diam.

__ADS_1


Sebenarnya, tadi, alasan Jason meminta Ananda untuk masuk ke kelas sendiri lantaran Jason mendapat telepon dari Chalvin. Telepon yang akan mengganggu murid di kelas karena pasti, Chalvin akan membahas pekerjaan. Namun, Jason benar-benar tak percaya ada bocah sok jagoan yang sudah langsung menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang Amanda.


***


Mata kanan Ananda berakhir diperban. Malini yang baru sampai sudah langsung menangis ketakutan. Ia datang bersama seorang pria berseragam sopir dan seorang wanita agak necis yang ternyata bagian dari perwakilan Rendy. Keduanya hanya perwakilan orang tua Rendy karena orang tua Rendy sedang di luar negeri.


“Nyonya dan Tuan menyampaikan penyesalan sekaligus permintaan maafnya melalui kami,” ucap si wanita yang menyanggul moderen sangat rapi rambut kecokelatannya.


“Kami akan tetap menunggu kehadirannya secara langsung. Biarkan kami bicara dengan mereka secara langsung, bersama pihak sekolah juga.” Keputusan Jason sudah bulat. Terlebih di ranjang rawat, Malini yang sudah sampai naik hanya untuk mendekap Ananda, tak hentinya berlinang air mata.


Namun keesokan harinya, Malini dan Jason yang masih di rumah sakit mendapat laporan, bahwa anak-anak yang kemarin pagi menyaksikan ulah Rendy, jadi ketakutan dan tidak mau sekolah. Jadi, pihak sekolah yang awalnya hanya meminta Rendy untuk tidak berangkat ke sekolah, memutuskan untuk mengeluarkannya meski sampai hari ini, orang tua Rendy belum memberi kabar.


“Sepertinya Rendy memang kurang perhatian sekaligus kasih sayang kedua orang tuanya, khususnya papahnya,” lembut Malini sambil menyuapi Ananda yang jadi pendiam.


Jason tak terima anaknya menjadi korban atur bahkan bahan tinju teman kelas dan itu hanya karena yang bersangkutan iri kepada Ananda.


“Pah, jangan memisahkan diri terus dong. Sini. Mending Papah peluk aku,” ucap Malini yang masih bertahan duduk di sebelah Ananda.


Jason yang awalnya berdiri di depan ranjang rawat Ananda, berangsur menghampiri sang istri. Ia memeluk hangat sang istri, kemudian mengikutkan Ananda juga dalam agenda pelukan mereka.


“Papah, aku sayang Papah. Aku sayang banget ke Papah. Dan sampai kapan pun, Papah tetap papah terbaikku!” ucap Ananda yang akhirnya bersuara.

__ADS_1


Mendengar itu, dada Jason apalagi Malini, sudah langsung bergemuruh. Keduanya juga jadi berkaca-kaca, selain Jason yang berangsur memangku Ananda.


“Papah juga sayang banget ke kamu. Dan Papah akan melakukan yang terbaik buat kamu! Semangat, ya! Enggak usah peduli ke orang kayak Rendy. Nanda tetap jadi anak yang baik, pintar, sekaligus sangat penyayang seperti Mamah Lini!” ucap Jason meski ia menempelkan bibirnya di sebelah Ananda.


Tok ... Tok ...


Seseorang mengetuk pintu ruang rawat dari luar. Ketiganya pikir, itu suster atau dokter yang akan melakukan kontrol rutin. Namun ternyata, itu badut Upin yang membawa banyak balon.


“Badut Upin!” Ananda sudah langsung heboh, mesk kini, hanya mata kirinya yang bisa melihat.


Jason segera menurunkan Ananda dari pangkuannya. “Kamu siapa? Kenapa sembarangan masuk ke sini?” sergahnya buru-buru menghampiri badutnya.


“Onde mande, Jasone, ini—” ucap sang badut yang kemudian melepas kostum bagian kepalanya. “Raine. Ini Raine yang kangen Nandane maupun Mamake!” lanjutnya yang berakhir bengek karena tawanya sendiri.


Detik itu juga, Jason melirik Malini. “Enggak anak, enggak bapak, sama saja!”batinnya yang kemudian mengambil semua balon warna warninya dari genggaman tangan Rain.


“Eh, Jasone. Kamu ambil balon-balonku, aku ambil istrimune, ne?” sergah Rain. Niatnya lari menyusul Jason, tapi ia malah berakhir terban*ting karena kostum yang dipakai membuat langkahnya makin sulit.


“Istriku enggak mau ke kamu, Ne?” ucap Jason yang kembali tertawa puas.


Malini juga sudah tertawa lemas. Begitu juga dengan Ananda yang akhirnya kegirangan sembari menerima semua balon yang awalnya Rain bawa.

__ADS_1


“Baguslah ... akhirnya kedatanganku berguna. Gara-gara aku, kalian dapat hiburan jasmani dan rohani, kan?” yakin Rain tetap memilih tiduran di lantai sambil memandangi kebahagiaan keluarga kecil Malini sang bestie rasa istri.


Jadi, siapa sebenarnya orang tua Rendy apalagi bapaknya Rendy?


__ADS_2