Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
62 : Maaf dan Terima Kasih


__ADS_3

Sampailah Jason di pemakaman. Meski tidak begitu terik, Jason sengaja memakaikan kacamata hitam miliknya kepada Ananda. Sementara hal yang sama juga ia lakukan kepada Malini. Jason meminta sang istri untuk memakai kacamata hitam agar Malini tidak kesilauan. Padahal Jason sendiri tak sampai memakai.


Meski sampai detik ini masih mengemban Ananda, Jason juga tetap menggandeng sekaligus menuntun Malini.


“Pah ... Jason datang,” batin Jason belum apa-apa sudah berasa sangat sesak.


Dada Jason bergemuruh menahan kesedihan mendalam sekaligus kehancuran, yang juga diselimuti kemenangan. Kemenangan akibat apa yang menimpa pak Renaldy.


“Pah ... mulai detik ini juga, aku memaafkan perceraian kalian. Malahan andai aku tahu mamah sekejam itu ke papah, aku pasti akan meminta papah buat menikahi wanita yang benar-benar papah cintai. Wanita yang juga benar-benar tulus mencintai papah!” Jason yang masih berbicara dalam hati, makin berlinang air mata.


“Tak selamanya perceraian menjadi hal yang buru*k untuk dijalani. Apalagi jika kebersamaan yang dijalani hanya akan terus menyakiti layaknya hubungan kita dan mamah. Meski ini terlalu menyakitkan, setidaknya bagaimanapun kita di masa lalu, kita tetap berhak memiliki kehidupan lebih baik. Kita beneran tetap berhak memiliki sekaligus mendapatkan cinta baru. Cinta yang menerima kita dengan tulus, sama-sama menciptakan bahagia kemudian mewujudkannya dalam hubungan yang bahagia!” batin Jason lagi, ia mulai duduk kemudian meraih kembang dari wadah yang Malini tenteng.


Sembari terus menaburkan kembang atau itu bunga khusus, dalam hatinya, Jason yang tak kuasa menyudahi kesedihan apalagi air matanya, juga terus mengajak sang papah berkomunikasi. “Setelah semua yang terjadi, aku benar-benar menyesal. Kenapa dulu, yang kucari, yang kurindu hanya mamah, padahal yang selalu ada untukku justru papah? Pah ... maaf ya. Maaf banget buat semua kesalahanku. Maaf banget buat semua ketidakbahagiaan kita. Aku sampai bingung bagaimana caranya melakukannya karena aku rasa, aku belum jadi anak yang baik buat papah.”


“Oh iya, Pah. Ini Malini, istriku. Sementara ini Ananda, anak Malini yang juga otomatis menjadi anakku. Sekarang mereka inilah sumber kebahagiaanku. Mereka sumber semangat sekaligus alasanku ingin selalu melakukan yang terbaik.”

__ADS_1


“Belajar dari masa lalu, pah. Belajar dari hubungan kita dengan mamah yang jauh dari kata bahagia. Bersama mereka, aku benar-benar merasakan semua yang selama ini aku dambakan. Malini dan Ananda, juga keluarga besar mereka bikin aku menemukan berlian kebahagiaan nyata di dunia ini yang sebelumnya sangat kejam buat orang tak dicintai layaknya kita.”


“Dan bersama mereka aku janji, aku akan bahagia. Aku akan menjadi orang tua yang lebih baik. Aku akan menjadi suami sekaligus kepala rumah tangga yang baik. Aku juga akan memberi papah banyak cucu. Kelak, aku juga akan menceritakan kepada mereka, bahwa dulu ada pemain basket legendaris dan itu kakek kalian.”


“Semoga Allah kasih tempat terbaik buat papah. Semoga, di kehidupan selanjutnya, kita bisa kembali bersama-sama menjadi keluarga bahagia, bahkan meski tanpa mamah!”


“Sekali lagi, maaf karena selama ini, aku belum bisa jadi anak yang baik untuk papah. Namun aku pastikan, mulai detik ini juga, aku akan menjadi orang yang jauh lebih berguna.”


“Terakhir, sebelum aku kembali kerja, ... terima kasih banyak buat semuanya. Terima kasih banyak karena papah tetap berusaha menjadi papah terbaikku versi Papah. I love you ... i will always love you, Pah!”


“Oh ... ternyata ini makam opaku? Assalamualaikum Opa? Opa apa kabar? Sehat-sehat yah, Opa di Surga. Ini aku Ananda, cucu Opa yang sayang banget ke Papah Jason. Opa, makasih banyak yah, sudah bikin Papah Jason jadi papah terbaik buat aku!” ucap Ananda sambil menatap ceria nisan di hadapan mereka. Seolah, nisan tersebut merupakan wajah sang opa yang sedang ia ajak bicara.


Kemudian, Malini sengaja memberikan air khusus untuk makamnya, kepada Jason. Jason langsung tersenyum hangat di tengah kedua matanya yang sangat sembam.


“Assalamualaikum, Pah. Saya ... Malini, mamahnya Ananda.” Malini berucap lembut, kemudian melirik sang suami yang juga langsung tersipu menatapnya.

__ADS_1


“Saya istrinya Jason, anak Papah yang saya yakini, sudah menjadi anak kebanggaan untuk Papah.” Tiba-tiba saja, Malini merasa sesak. Ia bisa merasakan kesedihan yang begitu besar dari sang suami hanya karena keadaan sekarang.


“Layaknya Ananda, saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih, dan salah satunya, terima kasih karena telah menjadi alasan suamiku ada. Terima kasih karena tetap mencintai suamiku, melakukan yang terbaik, hingga Papah menjadi papah yang sangat suamiku sayangi. Kami semua sangat menyayangi Papah!” lanjut Malini yang kemudian menaburkan sisa kembang di keranjang sebelahnya.


Pulang dari makam, Malini dan Jason memang langsung ke kantor. Keduanya masih mengikutkan Ananda dalam kebersamaan mereka. Selain itu, sampai sekarang mereka juga masih bekerja di ruangan yang sama, di meja berbeda. Jason sudah memiliki meja sendiri, selain Ananda yang tetap anteng dan hanya akan sesekali mengusik orang tuanya yang sibuk bekerja. Karena selain buku belajar, di sana juga ada satu kontainer besar berisi mainan untuk Ananda.


Boleh dibilang, sejak menikah dengan Malini dan satu persatu kasus yang mereka jalani juga berhasil mereka selesaikan, hidup seorang Jason memang makin tertata. Selain itu, Jason juga makin paham dalam dunia bekerja termasuk itu bisnis. Gara-gara ide dari Jason juga, mereka sengaja mengajak pak Ojan bekerja sama mengiklankan air mineral mereka.


***


“Nanti kita bikin iklannya rame-rame gitu, sama keluarga besar. Konsepnya kita jalani aktivitas sehari-hari kita. Dari saat kita lagi olahraga dan itu wajib Kak Ojan sama Jason yang jadi modelnya, terus saat kita kerja kantoran, pas kita kumpul sama keluarga, sama bestie. Kebayang kan? Enggak usah pakai ratadata apalagi prusedur, eh produser. Nanti biar kita en pamili saja yang urus semuanya. Bisalah, mas Adam saja sudah biasa jadi ratadata sama pro-prodeser kak Ojan. Nah, nanti ide adegannya dibahas rame-rame. Jadi, kerja sama harga keluarga, hasil kerjanya luar biasa!” jelas kak Ojan ketika akhirnya mereka bertemu di kediaman Tuan Maheza, keesokan sorenya.


Sore ini merupakan weekend, dan otomatis, Malini dan Jason ke sana, seperti biasa. Termasuk Jason yang sebentar lagi akan menjadi pelatih basket untuk keluarga kecil mereka. Karena itu sudah menjadi salah satu agenda di acara kumpul keluarga besar mereka di setiap weekend.


“Kak Ojan otak bisnisnya luar biasa ya. Pantes, uangnya di mana-mana padahal pendidikan sama wajahnya enggak mendukung,” bisik Jason pada Malini yang masih duduk di sebelahnya. Sementara Anand ayang biasanya tak bisa jauh dari mereka juga sudah sibuk bermain dengan teman sebaya di teras depan.

__ADS_1


“Oh iya ... nanti kalau kalian ke Devandra kasih kabar terbaru Gissel, Kak Ojan ikut ya. Mau nyumbang kentut sama bilang, sookorinnn! Hahahaha!” lanjut kak Ojan yang detik itu juga sukses membuat Malini bahkan Jason tertawa.


__ADS_2