
Kemah di dalam apartemen ternyata menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Ananda yang tak hentinya tertawa sembari merangkak ke sana kemari menghindari kejaran Jason. Bocah itu makin cepat dalam merangkaknya layaknya bayi yang belum bisa berjalan.
“Kemari! Belajar jalan sama Papah!” ucap Jason sudah langsung menuntun Ananda untuk berdiri. Bocah itu tampak ragu bahkan takut, tapi ia juga tidak pernah lelah meyakinkannya.
“Nanda bisa. Pelan-pelan dibiasakan, jangan hanya merangkak!” yakin Jason lagi sambil mengacak pelan kepala Nanda hingga rambut tebal kecokelatan bocah itu jadi agak berantakan.
Malini yang baru kembali sambil membawa panci terbilang besar berisi ramen yang baru selesai ia masak di dapur, langsung terbengong-bengong memandangi pemandangan di depan televisi. Jason tampak sangat sungguh-sungguh mengurus Ananda. Pemuda itu benar-benar menjalankan terapi mandiri seperti arahan Tuan Maheza yang pernah menerapi mandiri Chole sang putri.
“Tumbuhlah menjadi orang yang serba bisa agar kamu nggak direme*hkan seenaknya, yah, Nanda sayang! Kedua tangan Papah akan siap membantumu! Pelan-pelan, berdiri sendiri, lepas tangan Papah secara perlahan. Begini ibarat terapi yang enggak bisa sembarang orang jalani,” ucap Jason perlahan meninggalkan Ananda. “Nah ... nah, om malaikat barusan bilang, katanya bentar lagi Nanda bisa jalan! Asyyiiik, ayo semangat!”
“Iya, Pah! Aku semangat banget, Pah! Aku pasti sembuh, Pah!” Ananda langsung semangat menggebu-gebu.
“Iya, begitu. Kamu harus semangat. Kamu jangan pernah takut pada apa pun terlebih kamu punya Papah! Tangan Papah beneran akan selalu ada buat kamu. Berdiri lama dan perlahan gerakan kaki kamu. Mau kaki kanan, apa kiri dulu?” ucap Jason lagi yang juga sudah langsung sigap menangkap kedua tangan Ananda lantaran di percobaan langkah pertama, Ananda langsung jatuh.
“Aku bisa, Papah!” yakin Ananda lantaran Jason sampai buru-buru berlutut kemudian mendekapnya erat.
“Ya Tuhan, jantungku nyaris copot! Sesayang ini aku ke Nanda!” batin Jason ketakutan, meski di balik ketakutannya itu, ia tetap berusaha kuat sekaligus ceria. Ia bahkan berkata, “Iya, tentu. Nanda kan memang keren! Kita ini orang keren dan kita wajib serba bisa. Nanti kalau Nanda sudah bisa jalan, Nanda bisa gendong mamah keliling Monas!” yakin Jason sudah langsung membantu Ananda kembali berdiri dengan benar.
“Sambil makan yaaa,” ucap Malini berusaha ceria, meski adegan Ananda langsung jatuh ketika belajar melangkah tadi, nyaris membuat jantungnya copot.
__ADS_1
“Ramen enaknya makan panas-panas. Berarti kita makan dulu!” sergah Jason bersemangat dan sengaja membuat Ananda untuk heboh juga.
Beberapa saat kemudian, mereka sengaja duduk di lantai dan menaruh panci berisi ramennya di tengah-tengah mereka. Kenyataan kedua kaki Ananda yang bisa diatur dalam posisi sila, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka.
“Papah sama Mamah mau nikah kapan? Kita sudah boleh bobo bareng, kan?”
Pertanyaan ajaib yang terlontar dari bibir Ananda sudah langsung membuat Malini bahkan Jason mendelik. Dengan mulut tengah melahap mi ramen melalui sumpit, keduanya refleks saling lirik.
“Secepatnya!” ucap Jason refleks meski sebenarnya, ia juga mendadak linglung. Namun, tatapannya masih tertuju kepada kedua mata Malini. “Habisin ramennya, Mah!” sergahnya jadi agak sewot.
Waktu mendadak berlalu dengan sangat cepat hanya karena kebingungan yang Jason rasakan. Menikah dan pekerjaan, dirasanya menjadi hal yang sangat Malini apalagi Ananda butuhkan.
Malini yang juga duduk dan tengah melepas kacamata khusus sang putra juga berangsur menatap kedua mata Jason. “Ikut urus usahaku saja. Yang awalnya dikuasai Devandra selama lima tahun terakhir.” Setelah mengatakan itu, Malini mendadak merasa sangat bersalah. “Apakah saran sekaligus permintaanku barusan, ... melukai perasaanmu sebagai laki-laki?” Di hadapannya, untuk pertama kalinya seorang Jason yang mendadak terlihat sangat serius, tak langsung menjawab. Pemuda itu juga sampai mengakhiri tatapannya dan memilih menunduk. Jason tampak merenung serius, membuatnya menunggu cukup lama.
“Kamu maunya bagaimana?” lanjut Malini sabar. “Aku juga belum punya orang yang bisa bantu aku. Karena kakak-kakakku juga sudah fokus dengan usaha mereka,” ucap Malini. “Kamu enggak baik-baik saja, ya? Sebenarnya kamu ada masalah?”
Jason menghela napas pelan sekaligus dalam, seiring ia yang akhirnya menatap Malini. “Kalau dalam waktu dekat aku belum dapat pekerjaan juga, aku ikut saranmu.”
“Kamu yakin, mau berhenti main basket?” tanya Malini yang baru menanyakannya saja sudah merasa sangat sedih.
__ADS_1
“Kata siapa?” balas Jason yang kemudian nyengir sekaligus melirik Malini.
“Ya kataku. Kan memang tadi aku yang bilang,” balas Malini. Karena Jason kembali diam, ia sengaja berkata, “Terus, ....”
“Apa?” sergah Jason lantaran Malini justru tampak berat melanjutkan ucapan yang terdengar pertanyaan. “Kamu enggak yakin, aku akan menikahimu?”
Mendengar itu, Malini refleks menangguk kemudian menatap Jason. “Kamu bahkan belum mengenalkan aku ke mamahmu. Soalnya, sekeras dan segalak apa pun beliau, beliau tetap mamah kamu. Tentunya kamu juga jangan lupa, ... enggak semua orang bisa menerima niat baik kita. Selain enggak semua orang bisa bersikap lembut dalam memberikan perhatiannya.” Berkata seperti itu, ia malah menjadi ditatap lelah oleh Jason yang sampai mendengkus.
“Mamah kamu selalu menuntut kamu jadi yang terbaik versi beliau, kan?” lanjut Malini, dan lagi-lagi Jason hanya menatapnya malas.
“Itu lumrah. Manusiawi. Orang tua memang maunya begitu. Karena alasan mereka berjuang, sebisa mungkin merawat, mendidik sekaligus menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, ya agar anak-anaknya selalu sukses. Ini beneran manusiawi loh Pah. Sekarang kan kamu juga mulai belajar jadi orang tua, ... coba katakan kepadaku—itu juga kan yang kamu inginkan ke Ananda. Kamu ingin, Ananda menjadi orang yang serba bisa agar Ananda enggak direme*hkan seenaknya oleh orang lain.”
“Mamah kamu atau orang tua kamu, aku, kamu, memang orang biasa yang selalu ingin anaknya jadi sekaligus dapat yang terbaik. Cuman, ... enggak semua orang bisa menyalurkan perhatiannya dengan kasih sayang apalagi cinta. Kadang, bahkan memang banyak di luar sana yang terbiasa teriak hanya untuk membuat anak-anak mereka paham. Malahan tak jarang, teriak versi mereka beneran sudah cara paling lembut sebelum mereka benar-benar merasa gil*a karena beban hidup mereka yang di atas rata-rata.”
“Mungkin ini yang dinamakan balada orang tua dan anak-anak. Orang tua selalu merasa cara didiknya itu yang paling benar, yang terbaik untuk anak-anaknya, agar anak-anaknya sukses. Tanpa peduli pada perasaan anak-anak bahwa sebenarnya mereka justru merasa tersakiti. Apalagi sejauh aku mengawasi, mental anak sekarang sama anak dulu, beneran beda.”
“Jason, aku ngomong panjang lebar loh. Didiemin gini. Beneran mau nikah, enggak?” rengek Malini yang detik itu juga langsung mendapat balasan dari Jason. Pemuda itu tampak sangat dendam kepada mamahnya.
“Kamu merasa sakit hati dengan perlakuan mamah kamu?” lanjut Malini perlahan berkaca-kaca bahkan menitikkan air mata. Sebab membahas cara didik seorang mamah, sudah langsung membuatnya ingat. Bahwa sewaktu masih kecil, ia justru dikorbankan oleh wanita yang telah mengandung sekaligus melahirkannya. Karena dulu, ibunya yaitu ibu Sulastri, dengan sadar dan tak sedang dalam pengaruh alk*o*hol apalagi kesuru*pan, membolehkan ayah tirinya untuk menyetub*uh*inya berulang kali! Alasan yang juga membuatnya sudah tidak peraw*an dan sudah langsung ditalak Devandra, di malam pertama mereka.
__ADS_1
“Sekarang siapa yang lebih keji? Siapa yang lebih menderita? Pertanyaannya, ... ada, perubahan yang akan terjadi andai kita terus merasa paling jadi korban? Ada yang akan berubah andai kita tetap dendam? Enggak, kan ...? Cukup jadi orang tua lebih baik saja. Pastikan anak-anak kita enggak mengalami!” ucap Malini yang menjadi tersedu-sedu hanya karena ia menceritakan masa lalunya dan itu dikor*bankan oleh mamahnya sendiri—baca novel : Pembalasan Istri yang Haram Disentuh.