
Pertandingan basket yang dimulai penuh semangat, akhirnya berakhir. Tim Jason memenangkan pertandingan dengan poin yang hanya terpaut sedikit dari tim lawan. Kendati demikian, Jason dan timnya tetap mengharumkan tim sekaligus negara mereka. Sebab selain tetap bisa unggul, mereka juga tetap bermain tanpa balas dengan kecurangan.
“Jam, maju. Kamu yang mimpin yel-yel!” semprot pak Ojan kepada pak Azzam yang duduk di deretan tempat duduk bawahnya.
“Eh, apa-apaan? Sori, ya. Cari aman. Bontotku paling enggak suka kalau aku sampai berulah kayak kamu. Enggak ... enggak. Cukup tepuk tangan saja. Tuh, Jason saja sudah langsung peluk Malini sama Nanda,” balas pak Azzam masih bertahan memangku putri bontotnya dan kiranya baru berusia lima tahun.
Layaknya apa yang pak Azzam katakan, selain Jason sudah langsung menghampiri Malini dan Ananda, Jason juga nekat memboyong Ananda. Jason sengaja membiarkan piagam yang harusnya timnya terima, ke Ananda. Piagam kejuaraan warna emas itu jadi menghiasi dada Ananda. Bocah itu langsung kegirangan sambil melambaikan kedua tangannya ke arah pasukan keluarganya yang tak kunjung joged pargoy.
“Papih Heli ... cepetan lah, aku beneran encok, enggak bisa pimpin joged!” mohon Ojan kepada pak Helios.
“Heh, apaan? Pakai kaus pink gini saja aku risih!” balas pak Helios langsung sinis.
“Ya sudah ... kalau gitu Mami Chole. Mami Chole kan pinter ngedance kaya Er—em sama Jung—kuk bities. Yuk Mami Chole. Tunjukkan pesonamu!” pinta pak Ojan dan langsung dilempar balon tepuk oleh pak Helios.
Pak Helios tidak rela istrinya jogedan atau setidaknya ngedance, meski ibu Chole memang bisa. Ibu Chole langsung ngakak dan kesulitan menghentikannya.
“Sekali-sekali!” yakin pak Ojan masih usaha. “Ya susah, para bapack-bapack ... Mas Aidan, Akala, Mas Chalvin, Broder Excel ... ayo, ada eksis rezeki pun jadi makin manis!” heboh pak Ojan lantaran dangdut koplo andalan joged mereka sudah sampai diputar oleh pihak penyelenggara basket, sementara tim basket Jason yang mereka dukung pada akhirnya menang, meski harus melewati banyak rintangan.
“Ayo semangat. Tim basket kita sudah melalui rintangan sulit melebihi biksu Tong ketika mencari kitab suci. Soalnya tadi meraka harus sabar, kan. Sementara ketika harus sabar, kadang kentut pun wajib ditahan!” yakin pak Ojan lagi yang terlalu panik karena pasukannya selalu malu-malu tanpa arahannya.
__ADS_1
“Eh, Paojan. Omong-omong kentut, mending sekarang kamu kentutin tim lawan. Kentutmu kan bisa jadi wabah bahkan musibah. Biar mereka muntah-muntah bahkan senggak doyan makan selama seminggu. Tipes-tipes alamatnya!” yakin pak Azzam. Saking semangatnya, ia mau-mau saja ketika pak Ojan memintanya untuk menggendong pria itu hingga sampai tim lawan yang masih ada di pinggir lapangan basket.
Tim lawan masih menyaksikan serah terima piala sekaligus piagam kepada tim pemenang dan itu timnya Jason.
“Jam ... Jam. Jangan lupa ke wasitnya juga. Biar aku kasih tahu proses membuat orang sekarat tanpa menyentuh!” bisik pak Ojan sangat bersemangat dan sampai detik ini masih digendong oleh pak Azzam.
“Jadi, sekarang kamu sudah bisa nyante*t orang, Jan?” tanya pak Azzam berbisik-bisik.
“Loh, mereka mau ngapain?” batin Jason sudah langsung terusik pada kehadiran bapak-bapak dan jelas bukan kembar, tapi kelakuannya mirip.
Jason yang sadar, tak sembarang orang boleh memasuki lapangan, sengaja menghampiri pak Azzam yang menggendong pak Ojan. Meski karena keputusan tersebut juga, Jason juga ikut mual bahkan pusing. Akan tetapi, Jason sudah langsung bahagia ketika tim lawan yang pak Ojan incar, mengalami hal yang lebih tragis dari yang ia alami.
“Jam, kok kamu masih lincah, ya?” heran pak Ojan.
“Lah ... aku kan bukan lansia kayak kamu, Jam!” balas pak Azzam sengaja pamer sekaligus menghina.
Kemenangan Jason berikut timnya membuat mereka mendapatkan banyak hadiah maupun tawaran pekerjaan. Jason sampai mendapatkan beberapa penawaran menjadi pelatih basket di beberapa sekolah internasional. Namun, Jason memilih fokus membantu Malini di perusahaan. Jason hanya menjadi pelatih basket untuk keluarga Malini yang juga sudah menjadi keluarganya.
“Jason en pamiliiiiiii! Ayo tepuk tangan yang meriah! Ini beneran perdana loh, pasangan penomenal yang suka bikin kita baper, khususnya kalian yang masih jomvlo alias manusia-manusia suci dari percintaan, tampil di tipi. Ya di mana lagi kalau bukan di Talak Sow Bareng Kim Oh Jan, Paojan!”
__ADS_1
“Ini bukan pengadilan agama, tapi ngeri banget sebutannya. Masa talak?” komentar Jason yang mengakhirinya dengan tertawa pasrah. Malam ini, malam di mana akhirnya dirinya menepati janji kepada pak Ojan untuk tampil di acara pria lucu itu, ia tampil kasual menggunakan nuansa merah muda bersama keluarga kecilnya.
Jason baru menurunkan Ananda yang sedari awal ia emban. Ia membiarkan Ananda digandeng pak Ojan untuk menyalami kru di depan mereka dan menjadi alasan acara di sana berhasil.
Kini tinggal Jason dan Malini yang berdiri di tengah ruangan acara diselenggarakan. Ruangan yang lebih mirip ruang keluarga layaknya acara bincang-bincang pada kebanyakan. Namun dari semua acara bincang-bincang yang ada di negara mereka, acara Ojan selalu menjadi yang paling fenomenal. Sinetron saja kalah pamor meski sinetron tersebut mengusung artis papan atas atau mereka yang sedang naik daun.
Ketika akhirnya tatapan Jason dan Malini bertemu, keduanya langsung tersipu malu. Jason refleks memeluk Malini, dan itu langsung membuat penonton yang memenuhi tempat duduk di studio acara mereka diselenggarakan, merengek baper.
“Inilah yang selama ini Ananda butuhkan. Semua orang menatapnya. Semua orang menganggapnya dan tak ada lagi yang berani menghi*nanya. Ananda pun sudah menjelma menjadi anak yang ceria, tak kalah berisik bahkan jail dari pak Gede Ojan yang Ananda panggil Kakak!” batin Malini balas memeluk suaminya, mesk ia tahu, ulah mereka sukses membuat semua yang ada di sana, khususnya para jomlo, iri setengah mati, layaknya kata Ojan.
“Aduh ... duh duh, duh. Encok lagi, encok lagi!” keluh pak Ojan ketika dirinya memutuskan untuk menggendong Ananda. Namun, keluhannya itu sudah langsung mengundang gelak tawa satu studio termasuk Ananda yang ia emban.
“Ini kalian belum ada rencana buat nambah momongan lagi?” tanya pak Ojan setelah menurunkan Ananda persis di depan Malini dan Jason yang sampai saat ini masih berdiri karena memang belum dipersilakan duduk.
Dengan tegas Jason menggeleng, lain dengan Malini yang hanya tersenyum lembut.
“Nanti tunggu Nanda sudah gede, pengin puasin main sama Nanda. Soalnya kan, Nanda juga pengin jadi pemain basket. Jadi, kami beneran fokus mempersiapkan Nanda!” jelas Jason sambil mengelus penuh sayang jambul kepala Ananda yang mirip jambul nanas.
“Oh, kalau gitu caranya, angkat Kak Ojan jadi anak kalian saja. Ya, yah?” sergah pak Ojan dan langsung membuat seisi studio tertawa termasuk keluarga kecil nan bahagia yang kini menjadi bintang tamu di sana.
__ADS_1