Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
50 : Putusan


__ADS_3

Tudingan jika rekaman suara yang diputar merupakan bagian dari teknologi AI, ditepis oleh saksi ahli yang didatangkan secara khusus. Saksi ahli IT itu menjelaskan semuanya berdasarkan bukti yaitu ponsel Gissel.


Tersenyum lepas, pada kenyataannya pak Lupus melakukannya karena ia terlalu bingung lantaran ibaratnya, ia ikut dikuliti atas bukti sekaligus keterangan dari saksi ahli.


“Astaga ...,” batin Gissel sembari menunduk dalam. Ia sungguh sudah pasrah dengan hukuman yang akan ia dapatkan.


Setelah acara sempat kembali ramai oleh sorak penonton yang masih menyaksikan secara langsung, dan ditujukan kepada kub*u Gissel, kini giliran Devandra yang diminta memberikan saksi untuk terakhir kalinya. Karena dari tadi, keterangan yang Devandra berikan selalu saja sama. Jika bukan “kurang paham Yang Mulia”, Devandra akan mengatakan, “Kurang tahu Yang Mulia”.


“Mohon izin Yang Mulia, sebelum saksi Devandra dimintai keterangan, saya sebagai pengacara sekaligus saudara yang ibaratnya sudah seperti orang tua Ananda, ... saya ingin memberikan kata-kata terakhir saya sebagai orang tua Ananda, sebelum saya kembali ada di sini sebagai penasehat hukum untuk Ananda.” Berbeda dari sebelumnya yang kelewat santai dan tak segan melede*k Gissel maupun pengacaranya, kali ini mas Aidan menjadi emosional. Ia sampai berdiri setelah sang hakim memberinya kesempatan untuk berbicara kepada Devandra.


Mendapati itu, pak Lupus langsung berkata, “Mohon izin Yang Mulia. Bukankah ini yang dinamakan berat sebelah. Dari tadi pihak Ananda selalu mohon izin, dan Yang Mulia langsung mengabulkannya.”


“Dari tadi Pak Lupus selalu menyudutkan anak saya, memangnya Pak Lupus enggak punya anak? Mohon maaf ini, Pak. Sebelum ada di titik ini, Anda juga seorang anak-anak. Anda memang berhak membela klien Anda, tapi bukan berarti Anda menutup mata bahkan hati Anda untuk sebuah kebenaran yang jelas-jelas sudah terpampang nyata!” lantang Malini emosi. Ia berdiri dan menatap marah Pak Lupus yang sedari tadi clengean membela Gissel, seolah pria itu memang kurang waras atau malah memang berhati ibl*is.

__ADS_1


“Dari tadi saya diam, saya menghargai Anda. Anda orang berpendidikan tapi kalah sama orang awam!”


“Ingat, Pak. Harta, tahta, dan semua rasa hormat tidak akan pernah mengembalikan sebuah nyawa atau setidaknya trauma!”


“Satu lagi, ... coba sebutkan apa prestasi klien Anda, hingga Anda menyebut pihak kami ingin mendompleng ketenaran dari klien Anda. Jika sampai tidak ada, semua mata di dunia ini, bahkan dunia lain akan mengawasi Anda!”


“Klien Anda telah lalai. Tak ada maaf, dari awal yang dibahas hanya ganti rugi, ganti rugi, dan hanya begitu. Mohon maaf, calon suami kamu saja saya yang menghidupi! Rumahnya sudah disita perusahaan saya karena terbukti menggunakan uang perusahaan tanpa seizin saya yang punya perusahaan.”


“Yang Mulia, apa yang ingin saya sampaikan, sudah diwakilkan oleh ibu Malini. Namun, saya sungguh ingin menekankan, mengingatkan kepada saksi Devandra yang sepertinya, otaknya memang sedang transmigrasi karena dia selalu bilang kurang tahu, tidak tahu, sementara kepada anak yang sudah ia ketahui darah dagingnya saja, dia setega itu. Karena setelah menolak mengakui bahkan menolak menyumbangkan darahnya padahal dia tahu, Ananda yang menjadi korba*an calon istrinya sedang kritis, saksi Devandra juga sempat melaporkan Ananda dan ibunya ke polisi. Ibu Malini sudah sempat ditetapkan sebagai tersangka, tapi tadi kita dengar sendiri jawaban yang dia berikan sangatlah ajaib!” ucap mas Aidan yang sudah langsung disusul sorakan dari para penonton dan ditujukan kepada Devandra.


Pasal 229 ayat (4), yang menjabarkan pelanggaran mengenai kelalaian dalam berkendara yang membuat kecelakaan lalulintas dan korban berat, selaku pasal yang dijatuhkan kepada Gissel, memang hanya membuat wanita itu terancam pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun, dan atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). Hukuman yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kesakitan yang harus Ananda maupun Malini rasa, terlebih saat itu, Ananda sampai kritis. Namun, vonis bersalah yang hakim jatuhkan lengkap dengan hukuman komplit, membuat Malini dan pembelanya, sujud syukur. Iya, Malini yang tersedu-sedu sampai sujud syukur.


“Papah ... iya, kamu Devandra. Andai aku bisa memilih, aku enggak mau punya papah seperti kamu. Apalagi setelah semua yang terjadi, ... aku benar-benar malu kenapa aku sampai punya Papah seperti kamu.” Ananda yang berucap lantang, menatap Davendra penuh kebencian.

__ADS_1


Davendra yang memang sudah langsung menoleh sekaligus menatap Ananda ketika bocah itu memanggil “Papah”, langsung menunduk dalam.


“Kamu bahkan tetap tidak mau minta maaf ke mamahku? Dari dulu aku menunggumu, aku yakin kamu super hero. Aku bahkan sempat yakin kamu lebih keren dari super hero seperti yang selalu mamah ceritakan. Namun ternyata, kamu tidak lebih dari penjaha*t.”


“Namun aku sama sekali tidak merasa rugi karena aku punya papah Jason. Malahan aku ingin bilang terima kasih ke kamu. Terima kasih karena kamu sudah membuang kami yang terlalu berharga menjadi bagian dari kamu!” Ananda mengakhiri ucapannya sambil menyeka sekitar matanya, sesaat setelah ia melepas kacamata khususnya.


Ananda sadar, semua perhatian sudah langsung tertuju sekaligus mengawasinya. Beberapa dari mereka khususnya keluarganya sudah langsung menangis. Namun, kebanyakan dari mereka cenderung tak percaya, bocah seusianya bisa berbicara seperti tadi.


“Itu beneran keluh kesahku selama ini. Selama ini aku menunggunya, berharap dia secepatnya datang mirip super hero. Namun, datangnya justru menjadi penjahat untuk aku dan Mamah. Untung, ada papah Jason. Untung, ada oma opa dan semuanya. Mamah, makasih banyak. Maaf juga karena selama ini, semuanya benar-benar karena aku. Namun aku yakin, bersama papah Jason, kita akan bahagia. Bersama Papah Jason, kita bisa seperti keluarga yang lainnya. Dan aku janji, aku akan jadi anak yang hebat. Aku akan jadi orang keren lebih dari papah mamah!” batin Ananda. Ia yang masih diemban Jason, sengaja menggunakan kedua jemari tangannya untuk menyeka air mata Malini.


Malini sudah berdiri di hadapan Ananda, dan Ananda yang terus berlinang air mata, berangsur memeluk kepala Malini menggunakan kedua tangannya.


“Mamah, i love you. Maaf juga buat semuanya. Aku janji, aku bakalan jadi anak yang kuat. Aku akan selalu nurut. Aku bakalan jadi orang keren melebihi papah Jason!” janji Ananda yang jadi tersedu-sedu. Ketika ia menoleh ke Devandra, ia memergoki ternyata pria itu tengah memperhatikannya. Devandra memperhatikannya sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2