
“Papah nyaman, enggak?” lembut Malini yang perlahan menepikan sekaligus melupakan rasa kantuknya. Ia menatap Jason penuh cinta. “Aku tahu Papah mau. Hanya saja, Papah punya banyak pertimbangan. Enggak apa-apa, lanjut dan jalani saja. Pakai ajian masa bodo Papah. Aku dan Nanda baik-baik saja. Keluargaku saja ingin lihat Papah tanding. Dan, perusahaan pun sudah jadi sponsor.”
Jason masih menyimak dan menatap istrinya penuh cinta. Wanita yang di awal-awal interaksi inten*s mereka mendadak tak percaya diri dan tak membiarkannya melihat tubuh Malini, masih menatapnya penuh kepedulian sekaligus cinta. Jason masih ingat, awal mula interaksi tubuh mereka. Karena walau Malini yang dengan sabar menuntunnya untuk memulai, nyatanya masa lalu membuat Malini tidak percaya diri bahkan jiji*k pada dirinya sendiri. Namun berkat dukungan darinya, Malini yang berpikiran luas mulai terbiasa.
“Aku dan Nanda baik-baik saja. Perusahaan juga baik-baik saja. Papah masih bisa latihan dengan leluasa, sementara untuk urusanku dengan Devandra, kakak-kakakku siap urus. Mereka beneran urus dan minta aku buat terima beres,” ucap Malini lagi. “Papah jangan berpikiran sempit ya. Jangan beranggapan kalau aku cerewet. Memang begini, kan, gunanya pasangan? Papah pun lebih cerewet.”
“Iya. Aku memang lebih cerewet,” ucap Jason yang perlahan tersenyum geli.
Senyum geli yang perlahan menular kepada Malini. “Besok mampir ke apartemen jangan lupa. Soalnya Papah sudah janji ke Jian. Jian tuh enggak beda kayak Nanda loh, Pah. Tipikal yang akan selalu ingat kalau sudah dijanjiin. Lagi pula, anaknya beda. Diam banget dan beneran tipikal yang serba menerima sekaligus mensyukuri keadaan. Jadi bawaannya, kalau lihat dia itu kasihan. Pengin nyayang dia.”
Jason terdiam serius kemudian menggunakan sebelah tangannya untuk menyisir rambut Malini ke belakang. “Kalau ke Jian, kamu bawaannya pengin nyayang. Terus, kalau ke aku, kamu pengin gimana?” Ia berangsur menatap saksama Malini, tapi sang istri yang sempat kebingungan, berangsur tersipu malu. “Biasakan bersikap manis-manis enggak apa-apa. Aku suka kalau kamu ... semuanya beneran suka. Karena jangankan disayang-sayang sama kamu. Ditatap saja rasanya seneng, tenang banget. Ini bukan ngegombal, ini beneran jujur.”
Malini yang masih mendekap manja pinggang Jason menggunakan kedua tangannya, lagi-lagi tersipu dan perlahan membenamkan wajahnya di leher Jason. Jason yang ikut tersipu perlahan mendekap punggung sekaligus kepala Malini.
“Kalau boleh tahu, si Jian enggak kekurangan kasih sayang, kan? Soalnya kalau aku lihat, wajahnya memang wajah sad boy gitu,” lanjut Jason yang kembali membahas pembahasan mereka.
“Harusnya ya enggak Pah. Orang tua sama kakak-kakaknya kompak. Atau, Jian merasa minder apa gimana ya, soalnya dari semuanya, ibaratnya hanya dia yang berbeda,” ucap Malini yang menjadi ragu mengatakannya.
“Aku nyimak, katanya dia mirip Paojan. Paojan itu siapa, sih? Kok si Zayn kayak happy bahkan bangga banget kalau ngehi*na Paojan?” lanjut Jason yang kemudian ingat, tanpa ke apartemen pun, di ranselnya ada beberapa kaus basket dan beberapa di antaranya masih baru.
__ADS_1
“Besok kasih dua buat dia,” ucap Jason masih bertahan memeluk erat Malini.
Keadaan kini membuat Malini menarik kesimpulan, pernah menjadi korba*n di masa lalu dan itu oleh orang tuanya sendiri membuat Jason menjadi sosok yang jauh lebih peka. Hati Jason sudah akan langsung sedih di setiap pemuda itu melihat yang sedih-sedih. Karena kepada Jian yang wajahnya-wajah sedih saja, Jason sudah terngiang-ngiang.
Keesokan harinya, Malini dan Jason dibangunkan oleh Ananda. Senyum bahagia dan tampak terharu menyertai tatapan Ananda pada keduanya. Ananda bahkan sengaja mendekap manja papah mamahnya yang awalnya tengah berpelukan.
“Sudah pagi?” lirih Malini yang langsung memisahkan diri. Lain dengan Jason yang sudah langsung mendekap gemas sekaligus erat tubuh Ananda. Kebiasaan yang akhir-akhir ini menyambut pagi mereka.
“Aku sudah memat*ikan alarm Mamah,” ucap Ananda yang masih tertawa kegirangan karena dipeluk erat oleh Jason. Lebih kegirangannya lagi ketika Jason menaruhnya di kaki, kemudian membuat tubuhnya layaknya pesawat terbang.
“Yaudah, Mamah mandi dulu ya,” pamit Malini dan Jason sudah langsung berdalih jika Malini beres mandi, tinggal dirinya yang akan mandi dengan Ananda.
Malini yang awalnya akan memasak ke dapur untuk menyiakan sarapan maupun bekal, sudah langsung menjadi bahan tujuan pak Ojan.
“Iya, Pak Gede ....” Hingga kini, panggilan yang Malini berikan kepada pak Ojan masih sama—pak gede, walau dulu, Malini diminta untuk memanggil pria itu dengan panggilan kak Ojan. Namun dari semua yang pak Ojan minta untuk memanggil pria itu kak Ojan, ada satu yang sampai saat ini benar-benar melakukannya dan itu Binar, putri sambung dari pak Sepri di novel : Pernikahan Suamiku (Istri yang Dituntut Sempurna).
Seperti yang Malini yakini, Jian sampai tidak bisa tidur hanya karena tak sabar mendapat kaus basket dari Jason. Sang daddy rela mengantarnya pagi-pagi, di tengah kesibukan jadwal syuting yang pak Ojan miliki.
“Bentar yah, Pak Gede. Saya panggil orangnya dulu. Tadi masih beresin PR Nanda. Namun harusnya sudah beres sih,” ucap Malini yang berinisiatif untuk memanggil sang suami sekaligus menyiapkan kaus basket dan kemarin malam sudah sempat ia dan suaminya bahas.
__ADS_1
“Maaf banget ya Ni. Kami memang berbakat ngerepotin!” ucap pak Ojan dengan bangganya dan malah membuat yang diajak bicara, tertawa.
“Papah, besok aku operasi lagi. Andai mataku tetap enggak bisa sembuh, dan aku harus operasi lagi?” lirih Ananda yang diemban Jason. Ia menatap Jason dengan banyak ketakutan sekaligus kesedihan.
Bertepatan dengan itu, Malini yang baru akan memasuki lorong menuju kamarnya juga refleks menghentikan langkahnya. Hati Malini seolah langsung direm*as oleh sosok tak kasat mata, dan Malini merasa sangat terluka.
“Ya enggak apa-apa. Kita jalani apa yang dokter anjurkan. Dan Papah akan selalu jadi mata bahkan kehidupanmu!” yakin Jason sengaja menghentikan langkahnya. “Percayalah Nanda, bukan sebuah kesalahan ketika kamu terlahir berbeda dari yang lainnya. Yang perlu kamu lakukan cukup jalani apa yang bikin kamu lebih baik, selain kamu yang jangan sampai melukai orang lain karena kamu tahu, dilukai itu sakit.” Jason menatap Ananda penuh peringatan.
Ananda mengangguk-angguk sembari menatap patuh sang papah. Lain dengan Malini yang sudah langsung menitikkan air mata.
“Kalau operasi besok tetap membuat kamu menjalani operasi rutin, Papah akan makin giat kerja biar kamu enggak pernah kekurangan apa pun. Supaya Papah tetap bisa biayai pengobatan kamu, dan Papah juga bisa kasih semua yang terbaik buat kamu maupun Mamah. Jadi, Nanda wajib semangat, ya! Jangan sedih-sedih lagi. Optimis saja, andai memang masih harus operasi rutin, ya jalani! Nanda harus kuat karena Nanda laki-laki, dan supaya Mamah juga enggak sedih lagi!”
Jason terus memberikan semangat, sementara Malini yang menyimak malah telanjur tidak bisa menyudahi air matanya.
“Makasih banyak, yah, Pah!” ucap Ananda sambil mendekap tengkuk Jason menggunakan kedua tangannya, selain ia yang sampai menempelkan wajahnya ke wajah Jason. Hal yang sebenarnya juga sangat ingin Malini lakukan, tapi Malini tak mau mengusik momen spesial antara Ananda dan Jason.
❤️❤️❤️❤️
Ini mohon maaf, aku ini nulis buat umum, jadi mohon maklum kalau aku jelasin novel lain yang masih berkaitan. Karena meski kalian sudah tahu, kadang ada yang baru tahu karyaku dari novel tertentu, bukan sesuai urutannya. Dan lebih banyak yang sensitif, nyaci, atur aku harusnya nulisnya gini gitu. Duh, mohon maaf banget ya. PF saja pas yang sebelum ini, kontrak aku buat nulis ya buat semua pembaca, bukan hanya untuk satu orang 🙇🏻♀️🙇🏻♀️.
__ADS_1