Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
48 : Kekeluargaan yang Sangat Erat


__ADS_3

“Haiii,” lembut Malini sengaja pura-pura, seolah dirinya memang baru datang. Layaknya dirinya, suami dan anaknya juga sudah rapi.


Ananda sudah memakai seragam warna kuning, sementara Jason memakai kemeja lengan pendek warna biru tua. Penampilan Jason kali ini membuat pemuda itu terlihat layaknya pria matang.


“Jian sudah datang nungguin Papah. Fans garis keras kayaknya!” bisik Malini sambil menahan tawanya.


“Nah itu ... orang lain saja sudah jadi fans garis kerasku. Mamah tetap enggak mau lebih?” balas Jason yang kemudian tertawa.


“Loh, bukannya Mamah sudah lebih dari fans garis keras?” balas Malini sengaja menahan tawanya. Kemudian, ia sengaja pamit untuk mengambil kaus atau itu seragam basket Jason yang akan diberikan kepada Jian.


“Si Paojan suruh bayar itu!” semprot pak Azzam sudah langsung ikut heboh karena pertemuan Jian dan Jason, sekarang.


Kebersamaan Jason dan Jian sudah langsung menjadi tontonan keluarga besar. Namun ketika Jian meminta foto berdua dengan Jason, Ananda langsung nangis.


“Jangan ambil Papahku!” isak Ananda sambil mendekap kedua kaki Jason dari samping kanan.


Jason yang menyaksikan itu, langsung takut sekaligus merasa bersalah. Ia yang baru merangkul Jian, buru-buru mengemban Ananda, membawa bocah itu ikut serta dalam foto bersamanya.


“Mbak Lini, ... anakmu kayak istri tua yang menolak keras dimadu!” bisik Rain sudah langsung cekikikan tepat di sebelah telinga kanan Malini.


Malini yang tidak berkomentar tapi jadi refleks tertawa, diam-diam juga berdalih. Karena andai Jason melihat adegan Rain bisik-bisik kepadanya, Jason pasti langsung cemburu berat.

__ADS_1


“Lagi ... lagi. Sebelas kali lagi. Jian anaknya Daddy yang paling ganteng, ayo senyum manisnya yang mengalahkan madu tapi bukan istri muda apalagi pelakhor!” ucap pak Ojan dengan gaya cerianya yang sangat khas.


“Heh, Paojan. Sebelas kali lagi, dari tadi jeprat-jepret, mau bayar berapa, hah?” semprot pak Azzam masih bersedekap di belakang sebelah Ojan.


“Bayarnya pakai terima kasih rasa kekeluargaan, Jam. Atau kalau enggak, nanti Kak Ojan undang kamu ke telak sow Kak Ojan saja, ya Jas!” ujar pak Ojan yang masih sibuk jeprat-jepret karena targetnya memang sebelas kali lagi.


“Jas,” panggil Tuan Maheza yang sudah makin sepuh.


“I—ya, Pah. Gimana?” balas Jason sudah langsung sangat sopan. Terlebih semenjak menjadi bagian dari Malini dan Ananda, sejak itu juga ia merasakan hangatnya keluarga besar.


Termasuk kasih sayang orang tua, Jason juga jadi merasakannya. Padahal, Tuan Maheza dan oma Aleya hanya orang tua angkat Malini. Namun, keduanya begitu menyayangi Malini bahkan Jason layaknya orang tua kandung. Karenanya, Jason begitu menghormati semuanya apalagi Tuan Maheza dan oma Aleya selaku orang tua Malini.


“Jadi, kalau lagi kumpul-kumpul dan jumlahnya sebanyak ini, kita enggak disangka sek*te sesat yang lagi menjalani rit*ual,” ujar Azzam sudah langsung ngakak.


“Idenya Papah boleh juga, Jas. Nanti anak-anak Mas, termasuk Mas juga ikut ya!” ucap Chalvin yang juga disambut hangat oleh yang lain. Tidak ada yang tidak ikut karena para wanita alias ibu-ibu juga tak mau ketinggalan.


“Ya sudah, nanti pada tanding. Aku pembawa acaranya, terus hadiahnya saham. Sekalian aku daftarin mas Adam, ya. Soalnya lagi liburan ke El—ai!” ujar Ojan.


“Sombong banget sumpah si Paojan,” lirih pak Azzam menertawakan pak Ojan sambil menggeleng tak habis pikir.


“Apaan sih, Jam. Prestasi kan wajib dipamerkan, diapresiasi. Anda iri, ayo balas dengan prestasi!” semprot pak Ojan berbisik-bisik.

__ADS_1


Kekeluargaan keluarga Malini sangatlah erat. Selain itu, semuanya juga tampak peduli pada satu sama lain. Jangankan kepada anak sendiri, kepada anak saudara juga seperti ke anak sendiri. Meski khusus Ananda, bocah itu tak mau pisah dengan Jason.


Ananda terlalu takut papahnya yang baru ia temukan, sampai direbut oleh orang lain. Padahal biasanya, Ananda akan ikut dengan siapa pun. Meski dari dulu, mungkin efek kerinduannya yang begitu besar kepada sang papah, Ananda tipikal yang sangat pendiam. Lain dengan sekarang yang memang jadi sangat periang. Apalagi jika sedang dalam formasi lengkap yaitu bersama Jason dan juga Malini sebagai orang tuanya.


Setelah menyaksikan semua itu dan bahkan menjadi bagiannya secara langsung, Jason jadi bertanya-tanya. Kenapa Devandra yang sempat menjadi bagian dari mereka terbilang lama, sampai tidak sedikit pun memiliki keinginan untuk seperti keluarga Malini? Jangankan kepada anggota keluarga Malini, ke anak sendiri saja tega. Iya, Jason tidak akan lupa, saat Devandra menuntut Malini tes DNA, kemudian Devandra juga sampai membuat tubuh Malini terbant*ing. Hingga akhirnya Devandra meminta Malini untuk tidak menghancu*rkan kebahagiaan yang Devandra bangun susah payah dengan Gissel—semua kenyataan itu dirasa Jason sudah bagian dari perencanaan matang. Bahwa Devandra memang tidak ada niat bertanggung jawab kepada Ananda.


Karena semua kemalangan Ananda juga, Jason yang pernah merasakannya bertekad membuat Ananda tak lagi kesepian apalagi kekurangan kasih sayang seorang papah. Jason terus menjadi yang terdepan untuk Ananda, termasuk itu ketika akhirnya Ananda menjalani operasi pergantian lensa untuk mata kirinya.


“Cepat sembuh yah. Biar kita bisa main, belajar, termasuk main basket bareng-bareng yang lain,” ucap Jason sambil mengemban Ananda. Mereka sudah diizinkan pulang, tapi beberapa wartawan terus saja mengikuti mereka.


“Tolong dikasih jalan, ya ....” Jason membiarkan Malini dituntun oleh pak Akala lantaran hari ini, mereka akan menjalani sidangnya Gissel dan Davendra. Jadwal sidang keduanya hanya terpaut lima belas menit. Sementara sesuai rencana, sebagian besar keluarga Malini khususnya kakak-kakak Malini, akan hadir di sana.


“Nanda Oke?” tanya pak Akala yang duduk di sebelah sopir dan tak lain Chalvin.


“Oke ... aku kuat soalnya aku pinter kayak Papah!” ucap Ananda yang masih memakai kacamata khusus. Namun, ia sudah beberapa kali tersenyum.


“Bagus!” sergah pak Akala yang menatap saksama Ananda. Bocah itu masih memilih dipangku Jason, meski sang mamah yaitu Malini, ada di sebelahnya.


“Seharian ini kita beneran jadi orang penting karena kita selalu disetirin sama Pak Direktur!” lanjut pak Akala sengaja bergurau, tapi terdengar sangat manis, termasuk itu di telinganya sendiri.


“Mau gantian, Mas?” tawar Jason sambil menahan tawanya. Terlepas dari semuanya, ia merasa sudah sangat dekat dengan keluarga Malini, terlebih dengan Chalvin karena mereka memang tinggal di rumah yang sama.

__ADS_1


__ADS_2