Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
52 : Mulai Beraktifitas Normal


__ADS_3

Satu tahap menegangkan sekaligus menguras emosi baru saja mereka lalui. Kebersamaan pun usai karena setelah sidang putusan hukuman selesai, di keesokan harinya, selepas salat isya, rombongan yang dari kampung akhirnya pulang.


Air mata dan perasaan haru mengiringi perpisahan mereka. Malini sampai tersedu-sedu melepas kepulangan kakaknya. Sembari melambaikan tangan kanan, Malini juga mengangguk optimis. Bahwa ke depannya, Malini akan menjadi wanita yang lebih kuat lagi.


Kini, Malini membiarkan tubuhnya dirangkul oleh Laras selaku istri Chalvin yang juga tinggal di sana, di kediaman Tuan Maheza.


“Satu minggu setelah ini, kalian juga balik ke apartemen. Rumah makin sepi,” ucap Laras makin tak bersemangat.


Malini yang masih sibuk menyeka air matanya langsung mesem. “Diusahakan, setiap weekend bakalan sering nginep sini kok, Mbak!” ucapnya meyakinkan kepada wanita yang kerap bersikap layaknya seorang mamah jika itu kepadanya. Terlebih, perbedaan usia mereka yang cukup jauh dan itu ada dua puluh tahunan. Mereka kerap terlihat layaknya anak dan mamah muda, atau malah menyerupai bestie di usia menuju senja.


Di belakang Malini dan Laras, Jason yang masih mengemban Ananda juga sampai dirangkul Chalvin. Chalvin tersenyum hangat dan memang sengaja menguatkan Ananda maupun Jason sendiri.


Lain dengan ibu Aleya dan Tuan Maheza yang membiarkan anak-anak Chalvin dan Laras, menuntun mereka masuk ke dalam rumah. Potret hubungan mereka sungguh melebihi potret keluarga Cemara. Hingga Jason yang terbiasa krisis kasih sayang, merasa sangat nyaman lantaran sudah menjadi bagian di sana.


“Bagaimana perasaan kamu?” tanya Jason kepada Malini yang baru saja mengunci pintu kamar mereka.


Berbeda dari biasanya, kali ini Malini langsung menatapnya penuh kesedihan. “Boleh peluk?” rengeknya.

__ADS_1


Berkaca-kaca Jason menatap Malini sambil mengangguk. Bahkan meski ia tersenyum, ia yang paham mengenai apa yang tengah Malini rasakan, sungguh tidak bisa mengontrol kesedihan apalagi air matanya.


Seiring air matanya yang berjatuhan, Malini merentangkan kedua tangannya kemudian memeluk erat sang suami. Ia meluapkan tangisnya di punggung Jason lantaran di dada Jason, masih ada Ananda yang begitu betah diemban oleh Jason. Hanya saja, Malini mendadak mengoreksi anggapannya. Sebab jangankan Ananda yang memang haus kasih sayang seorang papah, dirinya saja merasa sangat nyaman kepada Jason yang selalu super perhatian.


“Kadang kalau sudah begini, rasanya pengin jadi anak kecil lagi biar sama-sama terus sama mbak Nina. Meski kalau ingat orang tua, aku mendadak berharap aku enggak pernah jadi bagian dari mereka,” ucap Malini masih bertahan mendekap erat punggung kokoh sang suami yang juga ia jadikan untuk bersandar manja. Hanya begitu saja, ia menemukan kenyamanan yang luar biasa.


“Justru aku enggak berharap jadi kecil lagi, terlebih semenjak aku mengenal kamu. Karena semenjak mengenal kamu, aku beneran mendapatkan semua yang aku mau, khususnya kasih sayang sekaligus kebahagiaan. Juga, ... aku enggak akan pernah mengizinkanmu kembali ke masa itu. Karena saat itu, kamu mendapatkan perlakuan yang sampai detik ini masih bikin kamu trauma. Kecuali jika kamu mengajakku dan aku bisa memberi mereka balasan berkali-lipat!” balas Jason yang sungguh dendam kepada ibu Sulastri maupun pak Surat.


Alasan Jason dendam kepada keduanya, tentu karena sebagai ibu kandung Malini, ibu Sulastri tega menyerahkan sekaligus membiarkan Malini kecil diruda*pak*sa pak Surat yang memang bej*at dan tampaknya memiliki kebiasaan menyi*mpang. Terbukti, selain menjadikan hal tersebut kepada Malini sebagai kebiasaan, yang menjadi korba*an bukan hanya Malini. Karena Nina juga merasakannya, bahkan hingga Nina hamil. Bedanya, ketika saat itu Malini yang belum paham sengaja dibohongi, tidak dengan Nina yang sampai diseka*p layaknya buda*k khusus pemua*s naf*su bira*hi pak Surat.


Meski sekitar lima belas tahun lalu, pak Surat mati mengenaskan setelah mengidap banyak penyakit dan salah satunya penyakit kelami*n, bagi semuanya yang mengikuti kasusnya karena pernah sangat viral, apalagi pihak korban, semua hukuman itu belum cukup.


“Papah, jadi tanding basket, kan?” tanya Ananda sengaja menagih sekaligus aji mumpung agar papahnya tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


“L–lah ...?” Jason menatap bingung wajah sang putra sebelum ia melirik Malini penuh arti. Maksudnya meminta tolong, tapi sang istri malah memasang wajah melas yang menandakan, Malini juga ingin Jason tanding.


“Ayo yah, Pah. Pengin lihat Kak Ojan pakai rok sama stoking pink! Kak Ojan bilang, bakalan jadi tim hore, mau joged pargoy!” sergah Ananda bersemangat karena sepanjang kebersamaan bersama keluarga besar, ia memang jadi pendengar sangat baik.

__ADS_1


Berbeda dari sebelumnya, kini, antusias Ananda malah membuat Malini tertawa.


“Masalahnya kalau Papah tanding, ...,” ucap Jason merasa serba salah dan refleks menatap berat Malini. “Mah, takut jadi ribut karena istrinya om Ojan pasti malu. Masa om Ojan mau pakai rok sama stoking pink? Terus, apa kata Rain? Enggak ada nyali lah dia nampakin diri gara-gara kelakuan bapaknya!”


Mendengar itu Malini yang masih kesulitan mengakhiri tawanya, berangsur menggeleng. “Enggak akan, Pah. Soalnya Bu Rere istrinya pak Gede Ojan, asli orangnya sabar banget. Kalau urusan Rain, yang penting ada mas Adam, atau aku. Ya bisa diatur. Pokoknya aku yakin, pertandingan basket nanti bakalan lain dari yang lain. Nanti yang dari kampung pasti dibela-belain balik ke Jakarta buat ikutan juga. Pokoknya, rame-rame. Pecah!” ucap Malini yang benar-benar heboh.


Kehebohan yang terus berlangsung apalagi di sepanjang Jason latihan basket.


“Halo, gaes. Berjumpa lagi dengan saya, Kak Ojan, atau Kim Oh Jan Paojan di chanel yutube kesayangan kita. Nah, ini nih, si pebasket sombong yang memang wajib sombong karena dia sekeren itu. Tuh lihat lagi latihan basket secara mandiri di depan home orang tuanya mami papi aku.” Menggunakan ponsel pribadi, pak Ojan sengaja meliput keadaan di sana. Ia juga sengaja berseru meminta Jason yang sedang menerima sebotol air minum dari Malini, untuk dadah-dadah.


“Konten?” lirih Jason kepada sang istri yang langsung tersenyum pasrah karena ulah pak Ojan yang makin berusia, makin aktif saja. Entah itu dalam urusan bergaul, maupun bisnis demi menambah pundi-pundi.


Berbeda dengan orang tuanya, Ananda yang nyaman-nyaman saja pada kelakuan pak Ojan, memilih agak loncat hanya untuk mengambil alih bola basket dari tangan kiri Jason.


Satu hal yang juga sangat mereka syukuri. Ananda si anak genius yang sempat minder karena keadaan fisik, khususnya kedua matanya yang mengalami katarak, kini sudah kembali bisa berjalan dengan normal. Kedua kaki yang sempat lumpuh akibat ditar*brak Gissel yang lalai dalam berkendara, kini mulai aktif lagi.


“Ayo, Nda. Tendang, Nda. Biar gol, Nda!” semangat pak Ojan yang berakhir ditegur Jian.

__ADS_1


“Daddy, bukan tendang, tapi dribble!” ujar Jian dan sukses membuat sang papah diam. Apalagi dari semuanya, pak Ojan memang akan berkali lipat lebih perhatian jika sudah menyangkut Jian.


__ADS_2