
“Semua mata akan melihat papahku yang keren tanding basket!” ucap Ananda menatap bangga sang papah.
Jason yang sudah beres pamit, hendak meninggalkan tempat duduk penonton. Pemuda itu tepat ada di hadapan Ananda. Sampai detik ini, Ananda masih menatap Jason penuh rasa kagum. Bocah yang tak lagi memakai kacamata, dan penampilannya jadi mengikuti gaya Jason—baik dari segi kostum maupun gaya rambut—tak hentinya menengadah hanya untuk menatap bangga wajah sang papah.
Diperlakukan layaknya kini oleh sang putra yang begitu membanggakannya, Jason tak hanya bahagia. Sebab pemuda itu juga merasa bangga karena cara Ananda maupun keluarga besarnya, begitu menghargainya. Apalagi, sebelumnya Jason belum pernah mendapatkan perhatian sekaligus cinta setulus sekarang.
Sekali lagi, Jason yang harusnya sudah turun lapangan untuk bersiap menjalani pertandingan, sengaja jongkok kemudian mengemban Ananda. Dari semua pemain basket termasuk mereka yang akan jadi lawan tim basket Jason, hanya Jason yang masih pecicilan dengan bebas. Malahan kini, Jason yang agak menimang-nimang Ananda, sengaja menuntun Ananda untuk melambaikan tangan pada setiap kamera di sekitar sana. Sebab semenjak kabar mereka viral, apa pun yang mereka lakukan memang akan selalu menjadi pusat perhatian layaknya sekarang.
“Dulu, kamu selalu kesulitan melihat apalagi melihat dunia, Ananda. Namun kini, berkat papah kesayanganmu, justru dunia yang melihat kamu. Selamat yah Sayang!” batin Malini merasa sangat terharu pada kebahagiaan putranya yang begitu membanggakan Jason.
Kini, Ananda memiliki kehidupan yang terbilang sempurna. Kedua mata bocah itu sudah bisa melihat dengan normal meski kemungkinan Ananda harus menjalani operasi pergantian lensa mata, masih tetap ada. Selain itu, kedua kaki Ananda juga sudah bisa melangkah lebih jauh dan itu masih berkat keuletan Jason melakukan terapi mandiri kepada Ananda. Tentunya, formasi orang tua lengkap khususnya adanya papah yang begitu perhatian, menjadi alasan kehidupan Ananda benar-benar sempurna.
“Papah, kalau bisa, Papah harus menang, ya!” ucap Ananda merayu sang papah.
“Siiiap! Papah pasti menang!” yakin Jason sudah langsung optimis.
“Namun andai enggak, ya enggak apa-apa. Karena aku yakin, Papah pasti sudah melakukan yang terbaik!” lanjut Ananda.
__ADS_1
“Papah pasti menang! Papah janji, Papah akan menang buat Nanda!” yakin Jason yang kemudian mengec*up kedua pipi kemudian kening Ananda.
Malini yang meraih kemudian mengelus-elus bahu Jason, berkata, “Ya sudah, Pah. Itu sudah mulai kumpul. Semangat, ya!” Setelah mengatakan itu, Malini juga mendapatkan apa yang Ananda dapatkan yaitu kecupa*n. Bedanya untuk Malini, Jason sampai melakukannya di bibir istrinya itu.
Kemudian kehebohan mendadak terjadi. Ketika kak Ojan yang masih paling rempong, sengaja menuntun Jason ke lapangan, tapi saat hendak berpisah, kak Ojan yang berdandan layaknya perempuan ABG di tim sorak, tak segan merangkul sekaligus cip*ika-cipik*i.
Jason langsung bengong karena terlalu syok. Namun ketika ia menoleh sekaligus menatap sang istri, Malini bahkan Ananda malah menertawakannya.
“Ini bawa yah, Jas! Ji*mat kemenangan!” sergah Ojan setelah menarik ke bawah, tanktop crop-nya dan mengeluarkan masing-masing sebuah butiran pink yang sempat Azzam sibuk pencet. Ia memberikannya kepada Jason yang belum apa-apa malah jadi linglung.
“Memang boleh, yah, sengeri ini? Aku enggak perlu jim*at gituan lah, Kak Ojan. Aku cukup doa dari istri dan anakku saja. Sama dukungan keluarga dan fans juga!” yakin Jason, tapi Ojan terus memaksa dan memintanya untuk mengantongi kedua butiran agak oval berwarna pink yang kalau dipencet akan bunyi.
Mendengar itu Rere hanya tersenyum geli. “Yang namanya jodoh, mau seperti apa kata tetangga, kalau sudah nyaman ya lanjut saja kan, Mas?” ucapnya yang kemudian menatap Sundari selaku istri Azzam. “Gitu-gitu, dokter Sundari juga sabar banget loh bisa mengimbangi Mas Azzam. Soalnya, pada kenyataanya, Mas Azzam dan daddynya anak-anak kan hampir mirip dan hanya sedikit beda versi saja.” Ia dapati, Sundari yang sudah langsung tertawa dan itu menertawakan Azzam, sebelum wanita itu justru mendekapnya dari samping.
“Tapi tetap ganteng dan keren aku lah yah,” sergah Azzam. Meski dalam hatinya ia mengakui, kerennya setiap orang itu beda. Layaknya kesuksesan seseorang. Baik itu yang sekelas dirinya, Ojan, atau malah Jason. Setiap orang akan memiliki cara untuk bersinar. Sewajarnya orang yang mikir, pasti akan berusaha memperbaiki diri sekaligus mendapatkan kehidupan lebih baik lagi. Azzam yakin itu. Buktinya, Ojan yang dianggap kurang waras, mampu meraih kesuksesan dan sampai membuat anak-anaknya mengeyam pendidikan tinggi sekaligus kehidupan mewah, melalui kekonyolannya. Termasuk juga Jason yang mampu bangkit berkat dukungan Malini dan Ananda maupun keluarga besar mereka.
“Semangat Pah! Tunjukan kalau kamu memang layak. Tunjukan bahwa kamu hebat biar mereka yang sempat menca*ci, g*igit jari!” batin Malini tak segan menempelkan kedua jemari tangannya ke pipi membentuk hati ketika Jason yang bersiap tanding, menoleh kemudian menatapnya sambil tersenyum hangat. “Semoga setelah ini, hati mamah kamu bisa terbuka untuk menatap sekaligus mencintai kamu tanpa syarat!” batin Malini masih tersenyum manis dan terus ia tujukan kepada sang suami.
__ADS_1
“Semangat Pah, semangat! Papah bisa! Papah yang paling keren. Papah yang paling hebat!” heboh Ananda sambil menepuk-nepukkan balon tepuk warna pink bertuliskan : Jason, pemberian kak Ojan. Karena memang sekomplit itu perlengkapan dukungan mereka untuk Jason.
“Dijamin, Jason pasti menang. Soalnya sudah aku kasih jim*at ciet!” yakin pak Ojan begitu semringah. Tak peduli meski karena ulahnya, yang lain justru menertawakannya.
“Pokoknya nanti semuanya wajib joged pargoy ngikutin aku di setiap Jason dan timnya menang, ya!” semangat kak Ojan lagi.
“Hei, Rain. Kamu enggak malu, punya bapak kayak gitu? Masih mau tuker tambah bapak?” ucap Zayn berbisik-bisik kepada Rain yang duduk di sebelahnya.
“Mohon maap, setelah aku pikirkan matang-matang, enggak ada ruginya juga punya bapak Kim Oh Jan Paojan. Apalagi kan wajahnya seganteng ini, dan berkat kerja kerasnya, aku juga sekolah tinggi terus hidup pun rasa sultan. Asli sih, malah jadi bangga karena bapakku seorang kak Ojan. Yang meski sudah lansia, jiwanya tetap remaja!” ucap Rain dengan bangganya sambil tetap bersedekap.
“Sue kamu Rain ... masa ngatain bapak sendiri lansia. Padahal sudah dipuji setinggi langit. Eh, diban*ting lagi dan apesnya malah kena ta*i!” lirih Zayn terbahak-bahak dan langsung nyaris jantungan gara-gara lemparan bola dari jarak jauh yang Jason masukkan sudah langsung masuk, dan kak Ojan sudah langsung teriak sangat kencang.
Detik itu juga Jason menarik ke atas seragam basketnya, yang maba di sana ada kaus basket lain bersablon foto keluarga kecilnya. Hati Malini apalagi Ananda langsung meleyot menyaksikan semua itu.
Zayn menggunakan kedua tangannya untuk menahan dada. Jantung dan hatinya seolah rontok gara-gara kaget. Ia menatap tak habis pikir Rain yang malah menertawakannya.
“Lihat kan, Zayn ... hebatnya bapakku, meski dia bukan malaikat kematian, tapi dia bisa membantu malaikat izrail mempercepat pencabutan nyawa!” ujar Rain terbahak-bahak.
__ADS_1
Seperti arahan Ojan sebelumnya. Karena Jason sukses menyumbang lemparan bola, mereka pun kompak berdiri mengikuti joged pargoy arahan Ojan. Suasana sudah langsung heboh bahkan pecah karenanya.