
Ada yang viral, tapi bukan lagi kasus Malini apa lagi Ananda. Ini mengenai ucapan Coach Adrian yang sampai menyebut Jason ‘samp*ah’.
“Langit dan bumi menjadi saksi, bahwa tanpa orang tidak bertanggung jawab seperti Jason, melalui tangan dingin saya, tim basket negeri ini akan berhasil! Karena memang sudah sepantasnya, samp*ah-samp*ah seperti dia(Jason), ditiadakan dalam kehidupan ini!”
Ucapan itu telah Akala rekam kemudian ditulis menjadi artikel yang disebar luaskan dan memang langsung viral. Dan dari semua ucapan coach Adrian, ucapan tersebut menjadi ucapan paling menohok. Di jejaringan sosial sampai mendadak ada hastag #LangitBumiBersaksi. Atau malah #CoachSampa*h. Kedua hastag tadi benar-benar ramai menjadi bahan pembicaraan.
Dunia basket di negara mereka langsung tidak baik-baik saja dan itu sangat berdampak buru*k untuk pada Coach Adrian maupun kelanjutan pertandingan yang sudah ada di depan mata. Apa yang Akala lakukan memang sangat berisiko, tapi tanpa begitu, orang seperti coach Adrian akan makin besar kepala sekaligus gembar-gembor seenaknya.
Hari ini juga, Akala sudah langsung menjalani pemeriksaan setelah dipanggil oleh pihak yang berwajib. Walau mereka jadi makin kewalahan, bahkan sekelas mas Aidan yang selalu sabar juga sampai tersenyum pasrah, mereka puas telah berhasil mengobra*k-abrik orang sekelas coach Adrian. Apalagi ketika mereka dipertemukan di kantor polisi, coach Adrian yang jadi bungkam tak sedikit pun meminta maaf. Karena jangankan berbicara dan itu sampai meminta maaf, melirik saja, coach Adrian tidak melakukannya.
“Coach, perusahaan air mineral kami juga menjadi salah satu sponsor utama olahraga di negara kita tercinta, termasuk untuk cabang bola basketnya loh. Iya, itu, yang janda sama anak penyakitan dan kasusnya sedang viral. Itu yang sempat kamu sebut, itu juga salah satu pimpinan cabang perusahaan kami. Meski janda dan anaknya yang penyakitan terus sampai viral, pada kenyataannya dia memang pimpinan perusahaan cabang. Hebat loh, dihina begitu dia tetap santuy. Enggak sampai nyamp*ah-nyampah*in orang!” ucap Chalvin yang memang sengaja datang mengawal kasus Akala.
Chalvin merasa sangat geregetan atas apa yang terjadi. Beruntung Akala tetap maju tanpa takut ancaman apa pun meski posisi coach Adrian memang bukan orang biasa. Karena bisa jadi, sekelas coach Adrian juga dilindungi oleh aparat negara.
“Mas, aku mau ke Malini dulu. Tadi, pemeriksaan ke dia belum beres. Status tersangka untuk Malini sudah dicabut. Enggak tahu ini, gimana kelanjutannya,” pamit Chalvin. Pria berusia lima puluh satu tahun itu melenggang pergi sambil menahan senyum mengej*ek kepada sang pelatih basket.
Coach Adrian yang menyadarinya hanya melirik sebal Chalvin sambil sesekali menghela napas pelan demi meredam kekesalan yang telanjur berkobar-kobar. Terlebih keluar dari ruang pemeriksaan saja sudah akan membuatnya berhadapan dengan banyak wartawan. Fatalnya, akibat ulahnya yang sesumbar, kali ini ia benar-benar tak bisa mengelak apalagi melawan. Karena yang harus ia lakukan justru minta maaf. Iya, minta maaf dan merupakan hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan. Namun demi masa depan kariernya yang sudah ada di ambang kehancuran, ia harus melakukannya, segera!
“Habis dari sini, sepertinya Mas mau mikir buat pensiun deh, Dek. Biar anak lanang saja yang melanjutkan,” ucap mas Aidan kepada sang adik.
__ADS_1
Mendengar itu, Akala yang selalu santai, sudah langsung tersenyum haru. Ia mendekap mas Aidan yang ia rasa sudah terlalu lelah. Terlebih sejak muda, kakaknya itu sudah sibuk memperjuangkan nasib ‘orang kecil’ tanpa gaji.
“Duh ... sudah kangen berat ke Mbak Mbi kayaknya ini,” ucap Akala, dan kali ini sengaja menggod*a sang kakak.
Tak mau mengelak karena biar bagaimanapun apa yang Akala katakan memang yang ia rasa, yang ada mas Aidan malah berakhir batuk-batuk sambil tertawa.
“Mas ...?” cemas Akala.
“Enggak apa-apa, Dek. Memang sudah enggak muda, tapi jiwa Mas masih remaja. Jangan kalah dari kak Ojan, ya!” ucap mas Aidan di sela tawa sekaligus batuknya.
“Kak Ojan ... orang paling panjang umur dari kita semua. Namun sekarang, kita wajib bantu Malini, Mas,” ucap Akala yang sudah langsung sepakat, akan memperjuangkan kasu*s Malini hingga akhir.
“Alhamdullilah ... saatnya pulang. Berkat kekuatan vira*l. Berkat perjuangan keluarga khususnya kakak-kakakku. Berkat doa semuanya termasuk doa anakku, aku keluar dari zona yang sempat bikin aku sangat enggak nyaman,” batin Malini. Bersama kakak-kakaknya, ia sudah ada di dalam mobil untuk pulang.
Di sana, kakak-kakaknya yang tak lagi muda tengah membahas mengenai anak-anak yang siap melanjutkan kesibukan mereka. Termasuk mas Aidan yang kedua anak kembarnya siap menjadi pengacara.
“Aku dikelilingi orang hebat. Masya Allah semua. Makanya, aku juga ingin Ananda jadi orang hebat. Semoga, tiga hari lagi menjadi operasi mata terakhir buat Nanda. Terlebih sekarang kami punya Jason,” batin Malini yang seketika tersenyum hanya karena ingat tekad suaminya. Sebab Jason berdalih baru akan menyentuhnya setelah pemuda itu memberinya nafkah lahir.
Malini sengaja mengirim pesan ke Jason yang kali ini ia tugasi menjaga Ananda di rumah. Dari tadi, Jason berdalih semuanya baik-baik saja, termasuk ketika keduanya pergi ke sekolah Ananda. Berita viral yang menyeret Jason ke dalamnya, sama sekali tidak mengusik Jason. Jason benar-benar masa bodo dan sangat membuat Malini takjub karena sikap seperti itu juga yang sangat ingin Malini terapkan di hidupnya dalam menghadapi masalah.
__ADS_1
“Pengacaranya Devandra mundur,” ucap mas Aidan setelah menatap layar ponselnya.
Detik itu juga semuanya kompak menatap.mas Aidan, termasuk Malini yang duduk persis di sebelahnya.
“Lagian ibu Sonya juga terlalu keras. Tahu anaknya yang salah, dia masih saja ngegob*log-g*blogin pengacaranya. Tadi pas di depan tangga darurat, aku lihat sama dengarnya miris banget,” ucap Chalvin yang duduk di sebelah Akala dan memang yang menyetir mobil mereka.
“Sampai detik ini, apakah mas Devandra termasuk mamahnya, tetap enggak merasa bersalah khususnya ke Nanda?” pikir Malini yang tak sengaja mengirim stiker hati merah berdebar-debar sebagai balasannya kepada Jason.
“Eh ... apaan ini?” batin Malini yang kemudian tersenyum geli lantaran Jason yang mengaku sedang menyuapi Ananda, dengan cekatan balas mengirim stiker hati serupa.
“Jason memang paling bisa,” batin Malini.
Papah Jason : Mah, aku mau matii*n hape. Berisik banget banyak yang telepon. Kalau ada apa-apa kamu telepon ke rumah apa ke Mbak saja. Soalnya bales WA kamu saja, ini malah salah jawab telepon nomor enggak dikenal.
Papah Jason : Ya sudah, ya. Hati-hati ❤️
Papah Jason : Aku pastikan, itu hati enggak pernah salah kirim. Pokoknya, hatiku sudah digembok sama kamu, Mah 😘🤣
Pesan dari Jason sudah langsung membuat Malini tersipu. Terpikir oleh Malini, apakah kini ia tengah merasakan indahnya pelangi setelah badai yang tak hentinya menerjang kehidupannya?
__ADS_1