Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
44 : Jadi Papah Panutan


__ADS_3

Di tengah suasana yang temaram dan hanya mengandalkan cahaya dari cahaya televisi, Jason duduk di sofa panjang yang ada di depan televisi. Pria itu tengah menonton acara televisi yang sebenarnya tidak begitu Jason perhatikan. Karena mesk tatapannya lurus ke televisi, tidak dengan otaknya yang sedang memikirkan banyak hal.


Kehadiran Malini yang sudah langsung meringkuk di dadanya pun langsung mengejutkan Jason. Jason menatap tak percaya sang istri yang tersenyum ceria dan perlahan menertawakan keterkejutannya. Tentu tawa Malini masih level manis semanisnya. Bukan karena jaim atau pun apa karena sejauh ini, Malini yang pendiam memang tidak pernah berlebihan dalam bersuara bahkan kala wanita itu sangat bahagia.


“Kamu capek?” tanya Malini sambil menatap kedua mata sang suami yang tak lagi menatap layar televisi. Jason tengah menenggelamkan gemas wajahnya di kepala Malini yang sedikit pria itu acak-acak.


“Enggak apa-apa capek, istirahat dulu. Tapi jangan lama-lama karena waktu terus berputar. Kalau memang berat banget, asal kita masih bergerak, asal kita masih berusaha, tetap ada hasilnya dan memang jauh lebih baik daripada kita benar-benar diam,” ucap Malini.


Sembari menghela napas dalam kemudian memangku Malini menggunakan kedua tangannya, Jason berkata, “Simpan energimu buat yang lain, Mah. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Mulai besok, seperti biasa. Antar Nanda ke sekolah biar teman-teman Ananda makin baper pengin punya papah keren kayak aku dan bikin mereka sibuk cari di online shop. Terus habis itu bantu kamu urus perusahaan. Sekarang aku tahu, gengsiku enggak bisa bikin aku bahagia. Karena yang bisa bikin aku bahagia, benar-benar hanya kalian yang sudah jadi keluarga kecilku.”


Menyimak itu, Malini langsung tersipu. Bukan hanya hatinya yang seketika diselimuti rasa hangat, tapi juga kehidupannya termasuk itu kedua matanya yang perlahan berembun. Ia tak kuasa menahan air mata bahagianya untuk tidak berlinang. Dan di tengah suasana yang mendukung itu, kedua tangannya meraih kedua pipi Jason seiring ia yang juga menempel sekaligus menyatukan bibir mereka.


Ciu*man manis mewarnai kebersamaan inten*s kedua sejoli itu. Namun, keduanya hanya sedang ingin menjalani quality time, benar-benar tidak lebih. Meski Malini tetap duduk manja di pangkuan Jason sambil mendekap tengkuk Jason, sekaligus bersandar pada leher Jason. Hingga mereka dengan leluasa mengecu*p wajah sekaligus kepala satu sama lain.


“Nanda sengaja tidur cepat, bilangnya biar dia cepat punya adik,” ucap Jason.

__ADS_1


“Pah, kalau ngomong di depan Nanda beneran wajib lebih disaring, ya. Soalnya Nanda memang sepintar itu,” lirih Malini yang kali ini menatap serius kedua mata Jason, sementara kedua tangannya membingkai gemas wajah Jason.


Ulah Malini sudah langsung membuat Jason tersenyum bahkan perlahan tertawa tak berdosa. “Habis aku bingung loh Mah. Ananda terus tanya, kapan aku punya adik. Gara-gara kita bahas kemarin. Ya sudah aku bilangnya, kalau Nanda tidurnya cepet, dan papah sudah kerja terus bisa kumpulin tabungan banyak. Secara ya, kamu sudah tahu kan keadaanku. Ibaratnya, aku benar-benar harus serba sendiri. Mamahku tipikal yang lebih mementingkan cintanya ketimbang anak sendiri. Jadi pahitnya andai kita kenapa-kenapa, ya memang beneran harus serba sendiri apalagi aku enggak mungkin terus biarin keluarga kamu yang bantu. Enggak enak lah karena mereka juga perlu berkembang urus sekaligus bahagiain keluarga sendiri. Kita sudah cukup sampai di sini, ayo sama-sama belajar mandiri.”


“Urusan anak gampang. Enggak sampai satu tahun pasti sudah lahiran,” lanjut Jason sampai detik ini masih cekikikan.


Malini jadi makin sulit marah jika keadaannya sudah seperti sekarang. Karenanya, Malini memilih untuk kembali meringkuk di dekapan Jason. “Kamu mau jadi pelatih basket?”


“Enggak juga sih. Aku mau yang pasti-pasti saja. Kalau jadi pelatih gitu takutnya gaji enggak lancar dan otomatis pasti harus dari bawah banget. Nanti bingung baginya. Bukannya enggak mau memulai dari enol, tapi memang lihat kondisi karena aku enggak sendiri lagi. Lagian aku trauma karen dulu, alasan mamah sering berantem sama papahku, sepertinya salah satunya karena faktor ekonomi. Papah enggak bisa kasih lebih karena mamah pun harus kerja juga, tapi ... ya gitulah, drama rumah tangga,” cerita Jason.


Tiba-tiba saja, Malini memiliki ide yang sukses membuat wanita itu tersenyum ceria. “Nanti aku bikin acara pertandingan basket antar divisi atau malah cabang perusahaan. Pertandingan persahabatan. Biasanya kan setiap tahunnya ada acara ulang tahun perusahaan. Nah, biasanya isinya ya makan-makan, ada artis panggung hiburan gitu, sekaligus penghargaan kinerja terbaik juga buat pekerja. Ada doorprize juga, pokoknya acara bakalan lebih seru kalau ada tambahan pertandingan. Apalagi sekelas artis saja sampai bikin juga, kan?”


Mendengar itu, Malini sudah langsung terkikik. “Pokoknya nanti Papah terima beres ya. Tapi tetap, nanti Papah wajib bantu. Wajib kasih arahan karena aku saja, juga enggak begitu paham dengan dunia basket.” Malini jadi sibuk tersenyum ceria.


“Pokoknya besok bisa diatur, kita bahas sama ... pasukan Kurawa! Keluargaku banyakan cowok soalnya!” sergah Malini.

__ADS_1


“Oh, jadi besok pasukan Kurawa bakalan ikut kumpul?” sergah Jason sudah langsung serius sekaligus tegang. Ia sengaja memastikannya kepada Malini.


Tanpa sedikit pun curiga, Malini yang masih tersenyum ceria, sudah langsung mengangguk.


“Kalau begitu, besok kamu wajib dilaminating biar enggak dicolek-colek sama pasukan Kurawa kamu!” sinis Jason yang sampai detik ini masih merasa, bahwa pasukan Kurawa merupakan ancaman nyata untuknya. Terlebih saat baru ijab kabul saja, beberapa pasukan Kurawa begitu manja kepada Malini. “Jangan ngakak deh Mah. Iya, aku tahu mereka adik kamu. Masalahnya cemburuku buta, mau dioperasi berulang kali pun tetap enggak sembuh.”


“Eh omong-omong operasi, Nanda juga harus operasi ya. Bismillah, operasi besok beneran yang terakhir. Masya Alloh Mah, aku mendadak mirip ustad, alim gini!” Kali ini, Jason yang bicara sendiri juga sudah langsung tertawa sendiri. Terlebih, Malini juga ikut tertawa karenanya.


Keesokan harinya, semuanya masih tetap sama. Kedatangan mereka ke sekolah Ananda kembali menjadi pusat perhatian. Bisik sekaligus bincang lirih mengiringi setia langkah bahkan gerak mereka. Namun, Malini tetap menyikapinya dengan ramah. Senyum santun sembari membungkuk selalu Malini lemparkan kepada setia mereka yang menatap. Lain dengan Jason yang terlihat makin cuek. Jason hanya sesekali melade*ni ajakan foto bersama tanpa pernah meninggalkan Ananda. Karena yang ikut masuk kelas saja bukan lagi Malini, melainkan Jason.


Mamahnya Anak-Anak : Selamat yah, Pah. Kamu layak jadi Papah panutan. Tanpa peduli dengan bagaimana keadaan kamu sebelum ini, apa yang kamu lakukan hingga sekarang, beneran luar biasa. Sayang banyak-banyak buat kamu ❤️😘😘😘😘😘❤️❤️❤️


Membaca pesan tersebut, Jason yang masih menemani Ananda belajar, sudah langsung tersipu.


Papahnya Anak-Anak : Kalau aku ramal, nanti malam Nanda tidur awal lagi 😂😂😂😂😂

__ADS_1


Mamahnya Anak-Anak : 😂😂😂😂😂😂


Walau di tempat berbeda, pesan-pesan yang kedua sejoli itu lakukan kompak membuat Malini maupun Jason tersipu.


__ADS_2