Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
27 : Jodoh Dari Anak


__ADS_3

Berkaca-kaca Jason menyaksikan Malini. Hatinya seperti direma*s dan memang tak kalah hancur dari Malini.


Pertanyaannya, apakah seorang ibu yang dengan keji menyiksa anaknya, apalagi yang seperti ibunya Malini, masih layak disebut ibu? Apakah orang seperti mereka masih layak disebut manusia?”


“Terima kasih karena masih waras,” ucap Jason setelah menghampiri sekaligus memeluk Malini.


Malini berangsur menunduk dalam. “Aku enggak sekuat itu, Jas. Karena di beberapa kesempatan, apalagi setelah tahu aku pernah jadi korb*an, dan Davendra juga tetap enggak mau mengakui Ananda ... jujur, beberapa kali aku berusaha bun*uh diri. Namun, di setiap aku ingat Ananda apalagi melihatnya, aku akan langsung berusaha menguatkan diri lagi,” lirihnya merasa malu kepada dirinya sendiri lantaran di balik ketegarannya selama ini, di balik kata-kata bijaknya untuk orang lain agar jadi lebih baik lagi dan salah satunya kepada Jason, ia malah menyimpan kenyataan kela*m.


Hal refleks yang Jason lakukan setelah mendengar pengakuan Malini barusan ialah mendekap wanita itu lebih erat lagi. “Bunu*h diri? Itu juga bukan hal baru dalam hidupku.”


Terjawab sudah apa yang sempat membuat Malini bertanya-tanya kenapa Jason begitu peka? Kenapa Jason begitu ceria, dan selalu ingin membuat orang terpilih bahagia karenanya. Karena nyatanya, Jason sama saja dengan Malini. Yaitu seorang korba*n yang tak mau orang lain merasakan kepedihan dari seorang korban juga. Jason akan membahagiakan orang lain apalagi orang yang disayangi, tapi tak segan melukai diri sendiri. Yang mana, semua kebaikan Jason selama ini yang ceria sekaligus penuh perhatian, justru merupakan hal yang sangat Jason inginkan.


Sebenarnya, bagi Malini, apa yang ia dan Jason alami terbilang bagian dari depre*si berat. Mereka harus segera berobat agar lupa mental sekaligus hati mereka berkurang atau setidaknya sedikit berkurang. Karenanya, Malini yang sedikit lebih paham sengaja menatap Jason tanpa benar-benar mengakhiri dekapan mereka.


“Jangan mati. Kita berhak bahagia,” lirih Malini.


“Nanti lihat kondisi,” ucap Jason dan sudah langsung mendapat penolakan dari Malini.


Jason berangsur menatap Malini lagi. “Kadang aku merasa, cantikmu enggak manusiawi.”


Ucapan Jason barusan sudah langsung membuat Malini terkesiap. Malini menatap tak percaya lawan bicaranya yang juga masih ia peluk. “Jangan bahas itu. Balik ke yang sebelumnya dulu. ” Karena membahas kecantikan sudah langsung membuatnya sangat gugup.


“Aku sudah enggak mau mikirin itu. Mulai sekarang aku mau fokus ke depan sama yang aku jalani saja. Sebab mengingat masa laluku yang tak sebahagia yang lain, rasanya sakit hati banget!” ucap Jason.


Malini mengangguk-angguk sambil menunduk, membenarkan anggapan Jason.

__ADS_1


“Ini kamu masih mau nikah sama aku?” lanjut Jason.


Detik itu juga keseriusan Malini terusik seiring ia yang juga perlahan kembali menatap kedua mata Jason. “Tentu, asal kamu enggak berubah. Karena alasan utamaku mau menikah lagi, sepenuhnya karena Ananda. Karena kedekatan kalian.”


“Berati kamu enggak sayang, ke aku?” sergah Jason sangat serius dan memang marah.


Malini menjadi menatap bingung lawan bicaranya. “Sayang ... aku beneran sayang ke kamu. Aku peduli ke kamu yang beneran tulus ke Nanda maupun ke aku. Buktinya, aku sampe bawel banget ke kamu. Dan aku yakin, kamu mulai kesel karena aku enggak beda dengan ibu-ibu yang akan makin berisik kalau ada maunya apalagi yang menyangkut dengan kebersihan rumah, kan?” yakinnya lembut dan Jason yang masih menatap lurus kedua matanya, berangsur mengangguk-angguk.


“Ya sudah ... ayo kita menikah. Namun, adakah rahasia lain yang belum aku ketahui?” ucap Jason.


“Contohnya?” balas Malini bingung sendiri.


“Kamu memalsukan identitasmu?” balas Jason masih menatap serius kedua mata Malini. Kedua mata itu jadi goyah, tak berani menatapnya terus-menerus.


“Aku ragu dengan usiamu karena harusnya, kamu masih awal dua puluh atau malah akhir belasan tahun. Lusa aku akan membawamu ke mamahku, tapi aku mohon, kuatkan mental kamu karena sekelasku saja, sangat dendam kepadanya,” ucap Jason yang memilih meringkuk di pangkuan Malini.


“Jason begini kok rasanya manis banget, ya?” pikir Malini yang benar-benar makin gugup. Ia berangsur menunduk, membuatnya menatap wajah Jason yang kebetulan sudah langsung memejamkan kedua mata.


Berada seperti kini membuat Malini ingat kebersamaan Jason dan Ananda, sore hari ini. Keduanya begitu heboh mandi bareng. Meski karena kehebohan keduanya pula, kamar mandi hingga sekitar kamar Jason, banjir parah dan Malini harus bekerja keras karenanya.


Pada kenyataannya, memperlakukan Jason memang tak beda dengan ketika Malini memperlakukan Ananda. Jason sangat haus kasih sayang, dan tipikal Jason yang meski sangat pengertian, juga akan sangat pencemburu khusunya ke lawan jenis Malini. Malini harus jauh lebih menjaga hubungannya dari laki-laki selain Jason karena tipikal Jason tak segan mengamuk andai pemuda itu merasa dilukai.


“Andai ada panggilan penahanan dari pihak kepolisian, kamu enggak usah gubris, ya. Biarin saja. Kekuatan vir*al harusnya bikin polisi lebih ngotak sih,” ucap Jason, meski kedua matanya sudah terpejam sempurna.


Membahas itu, Malini sudah langsung tidak baik-baik saja. Penjara sekaligus penahanan yang harus ia jalani meski ia yakin, ia tak bersalah, benar-benar membuatnya takut.

__ADS_1


***


“Ayo kita bertemu. Saya pastikan, saya akan mencabut laporan kepada kamu dan anakmu, asal kamu juga mencabut laporan kamu kepada Davendra.” Suara ibu Sonya terdengar sangat tenang, di keesokan harinya.


Malini yang tengah di dapur dan siap membongkar belanjaannya, langsung bengong. Meski tak lama kemudian, ia juga makin terkejut lantaran ponselnya diambil paksa dan tampaknya akan disita oleh Jason yang baru datang.


“Apa?” tanya Malini lembut.


“Jangan lakukan apa pun. Tahan sebentar lagi karena tidak ada yang bisa melawan kekuatan viral bahkan polisi sekalipun,” ucap Jason yang kemudian meninggalkan Malini tanpa mengembalikan ponsel wanita itu. Ia hanya pergi beberapa langkah, kemudian meraih sebotol air mineral dari atas meja yang ada di sana.


Namun kemudian baik fokus Malini maupun Jason tertuju kepada bunyi langkah pelan yang disertai sapaan riang dari Ananda. Ternyata bocah itu melangkah sambil berpegangan pada apa pun yang dilalui, layaknya bayi yang berusaha keras agar bisa berjalan.


“Morning Nanda sayang! Nanti habis sarapan kita latihan basket, ya! Sekarang kita bantuin Mamah siapin sarapan dulu!” ucap Jason sengaja jongkok di hadapan Ananda hanya agar wajah mereka sejajar.


“Papah ... Papah, kalau Papah jongkok, tinggi kita sama. Eh, malah tinggian aku!” heboh Ananda yang perlahan berpegangan kepada kedua pundak Jason.


“Kalau sudah besar nanti, Nanda pasti bisa jauh lebih tinggi dari Papah,” yakin Jason dan sudah langsung membuat Ananda heboh.


“Terus kalau aku saja lebih tinggi dari Papah, Mamah gimana, Pah? Kasihan dong, jadi yang paling pendek. Apa nanti Mamah dibeliin obat peninggi badan saja?” tanya Ananda yang memang khawatir sekaligus penasaran, tapi untuk pertama kalinya, Jason malah terbahak-bahak.


“Tegaaa!” sindir Malini yang kemudian memutuskan untuk siap-siap masak. “Dipikir-pikir, mamahnya Devandra biad*ab banget ya. Dia sampai ajak barter kayak tadi,” batinnya serius, tapi langsung gugup lantaran Jason yang sudah ada di belakangnya, tak segan merangkul mesra pinggangnya.


Jason masih meminum air putihnya sambil mengawasi Ananda yang ia minta untuk terus berlatih jalan meski harus membuat bocah itu sibuk berpegangan ke sekitar.


“Kalau dipikir-pikir, ini aku dapat jodoh dari anak, ya?” pikir Malini yang tengah membiasakan diri menjadikan Jason sebagai pasangannya.

__ADS_1


__ADS_2