
“Aku yakin, gara-gara aku juga, Mamah ditinggal Devandra. Padahal aku yang salah, tapi aku juga enggak tahu kenapa aku sampai sakit mata dan sering kambuh,” ucap Ananda terus saja menyalahkan dirinya hanya agar Jason mau menjadi papahnya.
“Oh ... Nanda sudah tahu tentang Devandra?” batin Jason yang akhirnya menarik kesimpulan. Bahwa alasan Ananda merasa sangat bersalah dan tak hentinya meninta maaf kepadanya, karena Devandra yang tak mau mengakuinya. Sungguh, hati Jason langsung teriris karenanya.
“Nanda Sayang—” Jason terpak*sa menahan ucapannya lantaran Ananda sudah lebih dulu bersuara.
“Mungkin Devandra malu karena punya anak berpenyakitan seperti aku,” lanjut Ananda kembali menunduk sedih. Sambil menatap pasrah kedua mata Jason, Ananda berkata, “Kalau aku harus sembuh dulu, baru Papah mau jadi papahku, aku juga enggak apa-apa. Aku janji, aku akan segera sembuh. Aku pasti sembuh, tunggu aku yah Pah. Atau ... andai papah enggak mau punya anak sepertiku, asal Papah tetap sama Mamah, dan Papah sayang terus ke Mamah, aku enggak diajak juga enggak apa-apa. Aku sendirian saja. Kasihan Mamah, selama ini capek urus aku sendirian. Iya, gini saja, agar Mamah enggak sedih apalagi nangis-nangis lagi!” ucap Ananda pasrah. Namun, ia memberikan senyum terbaiknya kepada Jason. Karena baru terpikir olehnya, selama ini dirinya sudah sangat merepotkan sang mamah.
Berlinang air mata, Jason menggeleng kemudian mendekap erat kepala maupun tubuh Ananda.
“Papah sayang kamu. Sayang banget! Papah bahkan enggak bisa tanpa kamu. Papah juga sayang ke Mamah kamu, tapi memang karena Papah belum kerja, Papah belum punya pekerjaan tetap,” ucap Jason tersedu-sedu.
“Seorang pria enggak harus punya pekerjaan tetap, Jas. Karena asal seorang pria terus bekerja, percaya lah, pria baik-baik pasti akan melakukan yang terbaik!” sergah Akala yang kemudian menepuk-nepuk bahu kanan Jason.
“Pah ... ayo nikah!” ucap Malini sengaja melamar Jason.
“Eh, Mah ... kamu beneran mau jadiin aku bapak rumah tangga yang baik? Ngapain malah kamu yang melamar aku?” protes Jason.
__ADS_1
“Lah, salah siapa Papah enggak melamar aku juga!” balas Malini tak kalah protes.
Akala yang masih di sana dan menyaksikan cek cok kecil, antara Malini dan Jason yang terdengar sangat konyol, refleks mesem. Terlebih ketika ia melihat tampang bingung Jason yang sudah langsung tidak bisa menjawab.
“Ini aku benar-benar dilamar,” lirih Jason benar-benar syok. Ia menatap wajah-wajah di sana yang masih kompak fokus menatapnya.
“Aku harus bagaimana?” tanya Malini.
Kemudian, Ananda yang tak lagi tersedu-sedu, sengaja bertanya, “Papah mau, kan, jadi papah aku buat selama-lamanya?” Kedua matanya menatap sendu kedua mata Jason.
“Ayo kita menikah. Ayo kita jadi keluarga bahagia. Ayo kita saling bekerja sama. Enggak apa-apa andai untuk sementara, selagi aku belum bekerja, aku jadi bapak rumah tangga. Terus, ... Nanda jangan pernah berpikir Papah sama Mamah enggak sayang Nanda ya! Karena meski Devandra begitu, kan enggak semua orang seperti Devandra. Buktinya, Pakde, Uncle, Bude, Tante, Aunty, oma, opa, semuanya apalagi Papah sama Mamah, beneran sayangnya pakai banget ke Nanda!” lirih Jason masih memeluk erat Malini maupun Ananda. Sesekali, bibirnya akan menempel di ubun-ubun Ananda maupun Malini yang juga sampai ia endus dalam, sebagai wujud rasa cintanya.
Ananda sudah langsung tersedu-sedu. Bocah itu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan memeluk kepala Malini maupun Jason secara bersamaan. Kemudian, bibir mungilnya mengabsen wajah maupun kepala keduanya.
“Aku seneng banget. Aku beneran seneng banget, Pah, Mah ... Pakde ... aku seneng banget akhirnya aku punya papah dan mamah pun punya papah!” heboh Ananda sudah langsung riang meski dari kedua matanya, air matanya terus berlinang.
“Sudah, jangan nangis lagi. Nanda sudah janji, kan?” ucap Jason wanti-wanti sambil mengelap tuntas air mata Ananda menggunakan jemari tangan kanannya. “Pokoknya mulai sekarang, Nanda enggak boleh sedih apalagi nangis lagi. Nanda harus jadi anak yang pinter, anak yang sayang orang tua, dan Nanda harus sehat! Kita berobat rutin, ya! Nanti terapi jalannya makin sering bareng Papah biar Nanda cepat bisa jalan bahkan lari. Nanti kalau Nanda sudah bisa lari lagi, kita main kejar-kejaran!” ucap Jason bersemangat dan sudah langsung menular juga kepada semua yang ada di sana. Sebab bukan hanya Nanda yang bersemangat selaku orang yang disemangati. Karena Malini dan Akala juga sampai berakhir berpelukan sambil tersedu-sedu.
__ADS_1
***
“Saya terima, nikah dan kawinnya, Malini binti—”
Ijab kabul antara Jason dan Malini sudah langsung digelar. Demi Ananda dan keamanan mental Malini. Juga, Jason yang telanjur menyayangi keduanya. Pernikahan secara agama itu digelar di malamnya dan hanya dihadiri oleh keluarga yang ada di Jakarta. Nina istri Akala selaku kakak dari Malini saja sampai tidak menyaksikan karena memang efek masih di kampung.
Sempat dianggap terlalu buru-buru apalagi mereka belum mengenal Jason luar dalam dan ditakutkan mirip Devandra, kedekatan Malini dan Ananda dengan Jason, juga Jason yang begitu perhatian kepada keduanya, sudah lebih dari cukup menjadi bukti. Terlebih, Jason juga sudah langsung mendekati—menjadi bagian dari keluarga sekaligus kehidupan Malini.
“Ya Allah, bismillah ini yang terbaik. Kami akan keluar dari luka selaku tempat biasa kami bersembunyi. Kemudian, kami akan saling mengobati, mengganti setiap luka dengan kebahagiaan sekaligus kenangan indah. Tentunya, aku juga akan membantu Jason berdamai dengan orang tuanya. Kami benar-benar akan bekerja sama,” batin Malini yang kemudian menyalami tangan Jason dengan takzim, setelah kata Sah mereka dapatkan dari lafal ijab kabul yang Jason lakukan dalam satu kali helaan napas.
Sebelumnya, Malini sudah sempat was-was karena selama mengenal, Jason selalu clengean dan sangat jarang serius. Namun beberapa saat lalu, Jason melafalkan ijab kabul dengan tegas dan lantang, benar-benar membuatnya terpukau. Malini sampai merinding.
“Pernikahan tak terduga. Pernikahan tanpa rencana, bahkan mungkin akan disebut pernikahan konyol. Tidak apa-apa, yang penting kami memang niat menikah. Bismilah, ini sungguh jadi awal lembaran baru kami. Kami akan bahagia!” batin Malini lagi. Ia membiarkan Jason menyematkan cincin emas polos ke jari manis tangan kanannya.
Disaksikan keluarga yang sudah kompak berkumpul menjadi saksi, Malini juga berangsur memasangkan cincin untuk Jason. Sepasang cincin tersebut mendadak mereka beli, sore tadi. Jason menguras habis tabungannya untuk membeli cincin tersebut, dan berdalih akan menjadi bapak rumah tangga yang baik, selagi pemuda itu belum bekerja.
Senyum cerah sudah langsung menghiasi wajah Ananda. Berbinar-binar bocah itu duduk memandangi wajah Malini dan Jason yang sama sekali tak sampai memakai pakaian pengantin. Merias wajah saja, tak sampai Malini lakukan. Mereka berpakaian ala kadarnya, tapi sama-sama memakai atasan lengan panjang warna putih sementara untuk bawahannya mereka memakai celana panjang warna hitam.
__ADS_1