Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
49 : Sidang Gissel


__ADS_3

“Saudari Gissel, saat kejadian, Anda sedang teleponan dengan saudara Devandra, kan?” tanya mas Aidan di tengah persidangan Gissel. Ia mencecar Gissel yang memakai lengan panjang putih dengan banyak pertanyaan dan beberapa di antaranya banyak yang ditepis. Gissel memang tidak menepis sepenuhnya, tapi wanita itu mencoba mencari aman, layaknya sekarang.


Gissel menatap tegas mas Aidan dengan sangat tegas, kemudian menggeleng tak kalah tegas dari tatapannya. “Saat itu, saya baru beres teleponan. Dan saya sangat kaget ketika ada anak kecil tiba-tiba lari ke jalan tujuan saya. Makanya saya tidak sempat mengerem dan terjadilah kejadian yang benar-benar ... kejadian yang benar-benar tidak pernah saya harapan. Karena sampai sekarang, saya juga sangat menyayangkan kenapa anak seperti Ananda yang memang berkebutuhan khusus, sampai dibiarkan beraktivitas sendirian tanpa penjagaan. Karena itu juga, saya berinisiatif melaporkan ini sebagai kelalaian wali Ananda!” yakinnya kepada mas Aidab, sebelum ia mengalihkan fokus perhatiannya kepada hakim di sana dan jumlahnya ada tiga. “Kurang lebih seperti itu Yang Mulia.”


Mas Aidan mengangguk-angguk sambil mesem ketika Gissel kembali menatapnya. “Berarti, Saudari mendukung jika Devandra juga harus bertanggung jawab untuk ini karena biar bagaimanapun, dari awal dia sudah tidak bertanggung jawab kepada Ananda.”


“Mohon maaf, tapi ini di luar konteks kasus saya!” tegas Gissel dan sukses membuat pendukung Malini maupun Ananda dan merupakan keluarga besar Malini, makin geram kepada Gissel.


“Baiklah, terima kasih banyak Saudari Gissel. Yang Mulia, mohon izin untuk menampilkan bukti.” Setelah langsung diberi kesempatan, Mas Aidan segera maju menghampiri hakim ketua. Ia menyerahkan laptop yang ia bawa dan layarnya dalam keadaan nyala.


“Apa lagi, itu!” panik Gissel yang segera menatap tajam sang pengacara. Tak main-main pria bertubuh gempal dan usia sekaligus statusnya sebagai pengacara jauh lebih senior dari mas Aidan, segera mengangguk.

__ADS_1


“Kita tunggu saja, setelah ini akan ada panso*s apa lagi. Apalagi setelah berurusan dengan Mbak Gissel dan kasusnya langsung viral, pebasket sombong itu juga sampai nebeng tenar,” ucap pak Lupus—selaku pengacara Gissel sengaja meny*erang mas Aidan yang baru saja kembali.


Mas Aidan yang masih berdiri di meja khusus untuk para pengacara langsung mesem. “Mohon maaf Pak Lupus, yang bikin kasus ini viral kebetulan adik saya dan dia seorang jurnalis. Dia kakak iparnya ibu Malini. Jika ingin berkenalan, monggo saling say hay, siapa tahu minat diviralkan. Itu orangnya ada di belakang ibu Malini bersama istri tercinta.” Setelah mengucapkan demikian, mas Aidan yang menanggapi dengan sangat santai dan tetap berbicara dengan mic, berkata, “Malahan andai Klien Pak Lupus tidak menabrak Ananda, kami termasuk masyarakat luas tidak kenal saudari Gissel!”


Detik itu juga, para hadirin yang menjadi saksi dan memang mengawal jalannya kasus yang telanjur viral kompak berseru, menyoraki pak Lupus berkat ucapan mas Aidan. Sebab seperti yang mas Aidan katakan, andai tidak terlibat kecelakaan Ananda, sebagian besar masyarakat yang mengawal, sama sekali belum mengenal Gissel. Gissel sungguh bukan artis papan atas karena meski sudah agak lama berkecimpung di dunia model, Gissel juga artis yang kurang terkenal.


“Jangan som*bong lah Pak Lupus. Nanti dijemput malaikat izrail. Saya yang artis papan tinggi melebihi papan tulis saja tetap rendah hati!” komentar kak Ojan santai dan terdengar tak berdosa, tapi sukses membuat semuanya bersorak. Sebagiannya yang tahu siapa kak Ojan dan memang artis khususnya pelawak ternama, juga sudah langsung tertawa.


“Saudara Lupus, mohon tenang sebentar agar persidangan cepat selesai. Kami tidak punya banyak waktu apalagi dari tadi, klien Anda berbelit-belit!” tegas hakim ketua memberi pak Lupus peringatan keras.


“Dan aku beneran terkejut, pasukan Ananda sebanyak itu. Sekelas Kim Oh Jan Paojan sampai datang ke persidangan!” kesal Gissel dalam hatinya. Tanpa sengaja, ia melirik sebal Devandra yang kali ini memakai kemeja lengan panjang putih juga layaknya dirinya. Namun di sebelahnya, kini Devandra tengah menjadi saksi.

__ADS_1


Mendapat peringatan layaknya tadi dari Hakim ketua, pak Lupus langsung protea, mengeluh, sekaligus merasa dizal*imi setelah diperlakukan tak adil oleh hakim yang baginya berat sebelah. Jaksa penuntut umum sampai mengej*ek pak Lupus, hingga suasana makin panas karena para saksi yang mengawalnya kasus ikut bersuara. Sidang nyaris ditunda karena kericuhan tersebut.


“Aku pastikan nih pengacara hidupnya jadi enggak tenang. Bisa-bisanya bilang aku pebasket sombong yang numpang tenar ke Gissel. Apaan, dikiranya Gissel ini selevel Dian Sastro apa artis papan atas!” kesal Jason yang sampai detik ini masih mendampingi Malini sambil memangku Ananda.


“Biasa, nyanyian orang kurang terkenal. Awas saja kalau sampai ada infotainment atau acara televisi sampai undang dia. Aku bakalan bikin petisi buat boiko*t tuh acara. Di Indo kan gitu, yang punya kasus bahkan mereka yang terbukti sebagai pel*ac*ur sekalipun asal rame, dikasih panggung. Andai pun hanya berlangsung semusim, tetap saja aku enggak ikhlas!” balas Malini berbisik-bisik juga tanpa menunjukkan ekspresi berarti. Meski tak lama setelah itu, baik dirinya maupun Jason menyadari, kenyataan sebelah tangan mereka yang terus saling genggam, mendadak disorot kamera. Terlebih, yang saling genggam memang tangan kanan, hingga cincin emas selaku cincin pernikahan mereka, turut menjadi sorotan.


Karena telanjur viral, sidang kali ini juga sampai diliput oleh awak media. Bahkan sampai ada beberapa yang menyiarkannya secara live. Dan kini, bukti yang mas Aidan serahkan akhirnya ditampilkan. Berupa suara bahkan obrolan. Itu merupakan obrolan telepon antara Gissel dan Davendra sebelum sekaligus sesudah kejadian. Ada keterangan waktu di sana, termasuk ketika Gissel kembali mencoba menelepon Davendra, dan diyakini baru saja menab*rak Ananda. Tak hanya itu, karena obrolan Gissel dengan Devandra sekaligus sang pengacara, yang mana Gissel mengakui menab*rak Ananda karena ia lalai sedang teleponan dengan Devandra.


Bersamaan dengan itu, Malini dan Jason yang masih saling menggenggam, refleks mengeratkan genggaman tangan kanan mereka.


“Itu ... AI?” ucap Pak Lupus ketar-ketir lantaran suaranya yang menjanjikan kebebasan kepada Gissel setelah Gissel menjanjikan bayaran fantastis, sampai disiarkan. Ia merasa kecolongan karena tak menyangka, rekaman suara dari obrolan telepon bisa diputar. Padahal pada kasus kemat*ian bintang India yang diduga dihab*isi oleh mantan kekasihnya, bukti obrolan telepon layaknya yang mas Aidan siapkan, sudah sempat menggemparkan masyarakat luas.

__ADS_1


__ADS_2