Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
25 : Menikah?


__ADS_3

Dalam dekapan Jason, Malini jadi bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya membuat Jason begitu peka? Apakah pemuda yang Ananda yakini sebagai papah bocah itu, justru menginginkan hal yang sama? Bahwa sebenarnya, Jason juga rapuh, dan teramat membutuhkan dukungan sekaligus kasih sayang?


Tentu Malini tidak lupa, bahwa Jason merupakan korba*n broken home. Jason bahkan merasakan kekera*san fisik maupun psikis dari kedua orang tua yang harusnya menjadi sumber kasih sayang Jason. Dan Malini sadar, keadaan seperti itu yang akan membuat seseorang bahkan itu Jason, bisa menjadi pelindung atau malah predat*or kejahatan. Namun kepada Jason, Malini percaya. Malini yakin bahwa Jason orang baik. Jason hanya tumbuh di lingkungan kurang baik—baik itu lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan yang dipilih. Sejauh mengenal meski memang belum dalam hitungan tahun, Jason masih menjadi sosok super hero dalam hidupnya maupun hidup Ananda.


Terlalu larut memikirkan sosok Jason, Malini mendadak linglung ketika wanita itu menyadari bahwa pemuda yang sedang ia pikirkan, baru saja mengobrak-abrik bibirnya. Malini mendelik kemudian refleks mendorong sebelah bahu Jason yang sudah sampai mendudukkannya di mesin cuci. Lebih membuat Malini terkejut lagi karena di belakang Jason, dan benar-benar dekat, Ananda menyaksikan apa yang mereka lakukan. Hanya saja meski Malini masih sesekali menitikkan air mata, kali ini Ananda terlihat happy happy saja. Bocah itu tersenyum kikuk dan perlahan tersipu dengan lirikan menggod*anya hanya karena adegan langka yang sebelumnya belum Ananda jumpai dalam kebersamaan Malini dan Jason.


Pertanyaannya, kenapa Ananda jadi terlihat sangat bahagia ketika menyaksikan Jason dan Malini ci*uman bibir?


“Kata Papah, kalau Papah sama boleh ci*uman bibir. Papah bilang itu tandanya saling sayang. Tapi anak kecil sama yang belum jadi papah sama mamah, yang belum nikah, enggak boleh,” jawab Ananda dengan jujurnya ketika ditanya oleh sang mamah.


Malini yang masih duduk di atas mesin cuci sengaja menahan kedua tangan Jason, agar pemuda itu tidak minggat apalagi mangkir dari tanggung jawab. Sebab Malini yakin, Jason sudah memberikan didikan yang menyele*weng kepada Ananda dan itu tanpa sepengetahuannya.


“Memangnya Nanda lihat di mana kok Papah sampai menjelaskan kalau papah sama mamah ci*uman bibir, berarti saling sayang?” Harap-harap cemas Malini menanyakan itu, sementara Jason yang ia tahan kedua tangannya dari belakang, lagi-lagi mengajak Ananda kabur di setia bocah itu harus menjelaskan.


“Kan kemarin nonton di hapenya Papah, Mah, terus—” Ananda masih dengan kejujurannya.


“Nonton hape? Nonton apa, Pah?” Malini masih dengan penyelidikannya karena ia tak mau sang putra salah langkah.

__ADS_1


“Aman lah Mah, Aman. Kan dalam bimbingan orang dewasa. M-MASIH bermanfaat, Mah. Jangan ngambek apalagi marah dulu. Beneran ada edukasinya. Nanda jadi tahu, yang begini jangan yang begitu boleh. Dijamin, urusan didik anak, dikit-dikit aku masih alim!” yakin Jason. Cari aman, ia sengaja memasukan tumpukan pakaian di lantai ke dalam mesin cuci. Namun lagi-lagi, Malini mengomel—efek yang Jason yakini karena wanita itu masih terlalu syok.


“Pah, jangan dicampur nanti ada yang kelunturan.”


“Sudah enggak apa-apa. Sudah biasa. Pakai pakaian luntur pun enggak apa-apa. Malahan yang lain menganggap itu keren.”


“Enggak boleh gitu dong, jadikan kesalahan bahkan sekadar kekurangan di masa lalu buat pembelajaran. Dipisahin mana yang luntur, terus tipis melarnya biar aman. Jangan dicampur-campur karena nanti kan di dalam muter-muter, andai bahan lembut terlilit bahan terlalu kasar—”


“Bahan lembut dan kasar itu cocok menggambarkan keadaan kita, Mah. Kamu terlalu lembut dan aku yang kasar!” Jason tertawa riang.


“Ya ampun kamu!” sementara Malini masih ngambek. Terlebih jika Malini ingat Jason telah mencuri ci*uman bibirnya. “Tolong turunkan aku, Pah!” pinta Malini tak berani turun sendiri.


Kenyataan Ananda yang detik itu juga tertawa lepas, sudah langsung mengusik kebersamaan mereka. Bedanya, ketika Jason dengan bangga membalas Ananda dengan tawa, Malini tetap khawatir, sang putra jadi dewasa terlalu dini karena mengenal hal-hal yang baginya terlalu dewa*sa.


“Enggak Mah aku jamin aman, ... itu beneran bagian dari pendidikan. Biar dia tahu mana yang boleh dan mana yang enggak. Pas aku tanya, siapa saja yang boleh sentuh tubuh dia apalagi bagian-bagian tertentu tubuh dia, dia beneran belum tahu. Dan aku tahu, hal semacam ini kerap disepelekan oleh kita sebagai orang tua,” yakin Jason sembari menurunkan Malini dari mesin cuci dengan hati-hati.


Untuk kali ini, Jason dan pola didik yang belum Malini lakukan kepada Ananda, aman. Kemudian yang Malini lakukan ialah memberikan arahan cara mencuci yang benar.

__ADS_1


“Pastikan jangan mencampur warna cerah begini, apalagi warna putih dengan warna berat. Ini levis dan celana panjang begini biasanya luntur. Ini tolong, Mamah lagi jelasin dan tolong diingat. Jangan masuk telinga kanan, bablas ke telinga kiri. Mamah bawel begini bukannya jahat. Mamah bawel begini ke kalian karena Mamah peduli,” ucap Malini berakhir merengek-rengek lantaran Ananda dan Jason tampak jelas telah bersekong*kol untuk mengabaikannya. Namun, keduanya sudah langsung kompak tertawa ketika Malini benar-benar akan menangis.


Jason yang memang akan sangat menyebalkan di saat-saat tertentu, membimbing Ananda untuk memeluk Malini secara bersamaan.


Tak lama kemudian, Jason sudah langsung menyapu lantai. Pemuda itu juga sudah mengeluarkan seperangkat tenda dan mendirikannya tak jauh dari televisi, tak lama setelah semua lantai Jason pel.


“Ini tenda, Pah?” heboh Ananda makin bersemangat. Ia tak mau tinggal diam dan langsung membantu Jason mendirikan tenda.


“Iya, kan Papah sudah bilang kita mau tamasya,” balas Jason dengan bangganya dan masih berusaha bersemangat. Sebab membereskan pekerjaan rumah dan itu hanya menyapu kemudian mengepel, ternyata jauh lebih melelahkan dari latihan basket yang dilangsungkan beberapa kali putaran. Karenanya, ketika Malini datang membawa air mineral dan sepiring buah yang telah dipotong-potong, bukannya meraih salah satunya, Jason justru memeluk mamah muda itu kemudian bergelendotan manja, meluapkan rasa lelahnya.


“Sayang haus, kan? Ini minum dulu,” ujar Malini pada Ananda yang lagi-lagi sudah langsung tertawa jika melihat tingkah baru Jason.


“Makanya jangan menganggap remeh ibu rumah tangga atau mbak yang biasa kerja bantu beres-beres. Sekarang kamu ngerasain kan, beres-beres juga capek? Ini yang bikin mamah atau seorang istri jadi makin cerewet,” bisik Malini memberi pengertian kepada Jason.


Sambil mengangguk-angguk, Jason berkata, “Iya ... iya. Aku paham. Mereka butuh waktu buat bernapas dengan lega. Quality time, dan juga perhatian termasuk tamasya. Kalau gini caranya, aku jadi pengin cepat-cepat nikah.”


Awalnya, Malini mengangguk-angguk, membenarkan kesimpulan yang baru saja Jason ungkapkan. Namun mengenai keinginan pemuda itu yang mendadak ingin menikah, Malini sudah langsung tidak bisa berkomentar.

__ADS_1


“Menikah ...?” batin Malini dan detik itu juga, yang ia ingat justru perjalanan hubungannya dengan Devandra. Awalnya mereka memulai hubungan dengan penuh bahagia. Bahkan termasuk itu ketika mereka akan melakukan malam pertama. Namun, talak yang ia terima dengan keji hanya karena alasan tak manusiawi dan itu menjadi alasan utama Malini menjadi jiji*k kepada dirinya sendiri, kehamilannya yang malah diganjar pembatalan pernikahan hingga dirinya menjadi orang tua tunggal. Terakhir, tes DNA dan penolakan dari Devandra yang bahkan tega melaporkan Ananda—semua kenyataan tersebut benar-benar mimpi bu*ru*k untuknya.


__ADS_2