
Kembalinya Jason ke tim basket, menjadi pro kontra. Tak hanya di tubuh tim basket dan lembaga yang menangani sendiri, tapi juga di kalangan masyarakat.
Mereka yang telanjur termakan gosip tak jelas, kompak membenci Jason. Baik karena kasus Jason sendiri, maupun keputusan Jason menikahi Malini yang merupakan seorang ibu beranak satu sementara saat masih kecil, Malini menjadi korban peleceh*an sek*su*al. Kebanyakan dari mereka, khususnya fans Jason, tidak bisa menerima kenyataan idola mereka menikahi Malini yang bagi mereka jauh dari kata layak. Karena layaknya Devandra, mereka memang tipikal yang menjadikan keperawanan maupun status seorang wanita sebagai harga mati seorang wanita patut dicintai.
Namun bagi mereka yang benar-benar mengikuti perjalanan hidup Jason maupun Malini, Jason dan Malini justru dianggap mereka sebagai pasangan ideal. Dari Jason yang memang bad boy tapi akan menjadi good boy bahkan papa sekaligus suami idaman, juga Malini yang sangat cantik sekaligus lemah lembut dan selalu bersikap manis, ketika keduanya bersama Ananda. Malahan saking viralnya kasus mereka, Malini dan Jason berikut Ananda, selalu menjadi pusat perhatian. Ketiganya layaknya artis yang akan selalu disorot sekaligus dibicarakan di media sosial.
“Jas, kalau kamu bisa bawa tim basket kita jadi juara, lalu setelah itu Kak Ojan bisa ajak kamu tampil di tipi, di acara Kak Ojan, nih Jas ... Kak Ojan bakalan dikasih bayaran yang enolnya obesitas! Plis, ya, Jas. Plis, khusus buat Kak Ojan, kamu wajib mau diajak masuk tipi! Mau buat berangkat haji sama anak-anak dan maiwaifi!” bujuk pak Ojan berbisik-bisik.
Jason terdiam merenungi permohonan pak Ojan yang memiliki tujuan mulia yaitu mengajak anak-anak dan maiwaifi, atau itu sang istri, naik haji.
Sejauh ini, semua tawaran wawancara apalagi undangan ke acara televisi memang sengaja Jason tolak. Karena memang sudah bukan rahasia, semua yang serba viral di negara mereka, tanpa peduli kasusnya, akan selalu diberi kesempatan untuk tampil di beberapa acara stasiun televisi. Namun, demi menjaga privasi Malini sekeluarga, Jason memilih menolak semuanya. Jason lebih memilih fokus belajar bekerja mengurus perusahaan kepada Malini, selain pemuda itu yang sebisa mungkin menjalankan perannya sebagai kepala keluarga untuk keluarga kecilnya.
“Widiiiiwww!” lirih Jason sambil menatap setiap anggota Malini yang benar-benar untuk mendukungnya secara khusus. Ia tersipu malu, terlalu bahagia karena hadirnya pasukan pink di bangku penonton, benar-benar khusus untuknya.
“Beb, keluargamu sebaik ini. Mereka beneran kompak. Niat banget dukung akunya sampai bikin seragam gitu. Lihat, orang tua angkat kamu yang sudah sepuh saja ikut pakai seragam pink. Nah, mas Helios yang selalu maco saja kelihatan nahan geli karena harus pakai pink demi aku!” bisik Jason yang masih ditemani Malini dan Ananda di pinggir lapangan karena pertandingan memang belum dimulai.
“Pokoknya kalau sudah ada pak gede atau itu kak Ojan, semuanya pasti kompak meski sebagiannya terpaksa karena dianca*m!” ucap Malini di sela tawanya sambil mendekap mesra sebelah lengan sang suami.
__ADS_1
“Seru banget pokoknya ya. Untung para bapak-bapak, para opa, dan pasukan Kurawa, enggak sampai pakai rok mini renda warna pink lengkap dengan stoking!” lanjut Jason di sela tawanya. Dalam hatinya ia bersuara, menyampaikan kebahagiaannya kepada sang mamah yang lebih memilih membuangnya demi cinta matinya kepada sang suami. Hingga setelah itu Jason menjadi menyadari, mamahnya dan mamahnya Malini satu tipe. Tipe-tipe bucin yang akan melakukan apa pun, asal tetap diakui sekaligus menjadi bagian dari orang yang dicintai.
Pertandingan memang belum dimulai, tapi kehadiran keluarga Malini yang akan mendukung Jason secara khusus, sudah menyita banyak perhatian akibat kekompakan sekaligus kehebohan keduanya. Beberapa media yang ada di sana sudah langsung menyorot. Awalnya mereka hanya menganggap mereka sebagai orang sekaligus pendukung biasa. Namun setelah mengamati lebih teliti dan mereka mengenali wajah-wajah di sana sebagai orang penting, mereka jadi makin heboh. Pembawa acara di sana tak segan menyapa melalui pengeras suara yang mereka pegang. Yang mana senyum ramah lengkap dengan lambaian kedua tangan mereka dapatkan sebagai balasan.
Beberapa orang yang dianggap sultan di negara mereka tengah menjadi bagian dari pertandingan. Rombongan berseragam pink itu tampak mendapatkan pengawalan khusus oleh pria-pria sangar sekaligus keren berseragam hitam. Mereka semua yang jumlahnya hampir empat puluh orang, datang untuk mendukung Jason secara khusus. Nama Jason menghiasi setiap kaus mereka.
“Serius si Malini nikah sama Jason?” Binar yang menjadi bagian dari Jason, tertawa ngenes karena masih belum bisa percaya. Bahwa pemain basket idolanya, justru menikah dengan sahabatnya dan ia baru mengetahuinya.
Binar dan Malini memang bersahabat, meski kini, jarak dan kesibukan masing-masing memisahkan mereka.
Binar hanya tersenyum geli dan memilih menghampiri kemudian mendekap lengan kanan pak Sepri sang papah, yang sebenarnya tengah menggendong adik perempuan Binar.
“Kamu ngapain?” tanya pak Sepri kepada Rain.
“Usaha lah Uncle Sepri,” balas Rain sambil tersenyum tak berdosa.
“Yang ada silsilah keluarga kita, jadi makin amburadul!” tegas pak Sepri yang kemudian tertawa geli karena Binar yang usianya hanya setahun lebih muda dari Malini, sudah langsung tertawa.
__ADS_1
“Hahahahahaaaaaaah!” Zayn juga sengaja tertawa tepat di depan wajah Rain. Karena di setiap kesedihan apalagi keapesan pemuda itu, ia akan menjadi orang paling bahagia dan tak segan merayakannya dengan tertawa.
“Fokus ... fokus!” sergah Pak Ojan yang sengaja mengatur barisan di tengah kehebohannya.
Pak Azzam yang dari tadi sibuk mengawasi serius gundukan mungil bulat agak oval yang menghiasi kedua sisi dada pak Ojan, sengaja meraihnya.
“Ciiiittt!” bunyi dari gundukan bulat agak oval itu dan sukses membuat semua yang mendengar terkejut, sebelum mereka justru kompak tertawa.
“Kirain jeruk nipis. Masa iya sekecil itu? Yang gede sekalian kenapa, pargoynya jangan tanggung-tanggung!” ucap pak Ojan sembari menatap tak habis pikir Ojan yang turut menertawakan dirinya sendiri.
“Maiwaifi, coba ditambah isi br*a—ku!” ucap pak Ojan yang jadi sibuk menerima bola-bola mungil warna pink pemberian sang istri. Rere mengambilnya dari dalam tas yang menjadi bekalnya.
“Ih apaan, ngeri banget! Masa gunungan jadi kepulauan kecil yang terpisah gitu. Yang ada ngeri. Mana kalau dipegang gini, malah jadi paduan suara tat tit tat tit!” keluh pak Azzam sambil memencet bola-bola mungil yang memenuhi br*a Ojan.
Para opa yang sudah sepuh, kompak minta diantar ke kamar mandi akibat tawa yang sukses membuat mereka kebelet pipis.
Terakhir, Jason yang merasa tersanjung atas dukungan besar-besaran dari keluarga Malini, sengaja memboyong keluarga kecilnya untuk sungkem kepada setiap keluarga Malini khususnya mereka yang lebih dewasa darinya.
__ADS_1