Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan

Anak Genius Dari Istri Yang Tak Perawan
29 : Davendra & Langit Bumi Bersaksi


__ADS_3

“Andai dia—Devandra—enggak jahat dan mau mengakui kamu sebagai anak, dari dulu, harusnya Nanda juga punya papah seperti yang lain!” ucap Akala lembut tapi penuh penegasan. Ia menyikapi Ananda penuh keseriusan karena ia yakin, Ananda yang memang cerdas dan sudah memiliki pemikiran layaknya orang dewasa, akan langsung paham.


“Maksudnya ...?” lirih Ananda yang menjadi menatap tak percaya kedua wajah di hadapannya.


Belum apa-apa, Malini sudah bisa melihat sekaligus merasakan kehancuran Ananda, dari ucapan sekaligus cara bocah itu menatapnya. Meski sadar keadaan kini akan terjadi cepat atau lambat. Meski sadar, Ananda akan terluka bahkan hanc*ur karena kenyataannya yang tak pernah diinginkan sekaligus tak dianggap, pada kenyataannya, Ananda berhak sekaligus wajib tahu. Agar tidak ada pihak yang dirugikan bahkan itu Ananda maupun Malini sekeluarga. Terlebih sejauh ini, pihak Devandra terus melakukan segala cara untuk bebas kemudian menghan*curkan Malini maupun menghancu*rkan Ananda.


Bersama air matanya yang sudah lebih dulu langsung berjatuhan membasahi pipi, mengabarkan isi hati sekaligus kebenaran yang selama ini ia simpan rapat-rapat, Malini memutuskan untuk membaginya kepada Ananda. Ia mengangguk berat, kemudian berkata, “Iya, ... om itu om Devandra yang kemarin-kemarin itu memang papah Nanda, tapi dia ... jahat. Dia enggak sayang Nanda, makanya semuanya marah ke dia, termasuk papah Jason yang akhirnya jadi papah baik buat Nanda. Kami marah ke om Devandra karena kami sayang banget ke Nanda. Kami enggak mau Nanda kenapa-kenapa, apalagi sejak Nanda kecelakaan dan itu karena calon istri om Devandra, tapi om Devandra justru menyalahkan Nanda.” Malini menceritakan secara detail karena Ananda yang meminta. Bocah itu sudah langsung lemas, sedih, bahkan kecewa karena tampaknya, Nanda memang paham.


“Nanda sayang, Mamah tahu ini sakit, Mamah tahu ini bikin kamu sedih, tapi saat usiamu makin dewasa, kamu akan paham. Intinya, meski om Devandra enggak mau sama Nanda, meski dia jahat ke kita, kita beneran akan baik-baik saja karena kita punya banyak orang baik yang beneran tulus sayang ke kita!” yakin Malini tersedu-sedu sembari menatap berat sang putra yang kemudian ia peluk erat.


Kebersamaan penuh air mata mereka terusik lantaran pelatih basket Jason yang dengan kata lain kini berstatus sebagai mantan pelatih basket Jason, datang. Pria berkulit kuning langsat itu sudah langsung menanggapi kedatangan Malini, Akala, termasuk Ananda, dengan tatapan sekaligus gerak tubuh tidak nyaman. Tampaknya pria bernama Adrian tersebut memang sudah mengetahui siapa Malini dan Ananda, mengingat kas*us keduanya juga masih menjadi bahan perbincangan hangat atau itu viral.


“Selamat pagi menjelang siang, Coach!” sapa Malini hormat dan kemudian memperkenalkan diri sebagai teman Jason. “Kedatangan kami ke sini sama sekali bukan permintaan Jason, dan malah tanpa sepengetahuan dia, Coach!” yakin Malini. Di hadapannya, Coach Adrian yang gelisah sekaligus tak nyaman berangsur bersedekap. Yang mana sampai detik ini juga, pria itu juga seolah malah untuk sekadar meliriknya.


“Om sakit?” tanya Ananda yang sudah menatap heran pelatih basket dan gayanya sangat gagah di hadapannya.

__ADS_1


Detik itu juga, Coach Adrian sudah langsung menatap Ananda.


Dengan gaya yang terbilang bengis, Ananda berkata, “Kalau memang Om enggak sakit, tolong hargai orang yang sedang mengajak Om berbicara, apalagi dari tadi, Mamahku sangat menghormati Om!” Ia mengucapkannya dengan tegas sekaligus lantang, terlebih ia memang tidak cadel. Ia mampu mengucapkan semua kata sekaligus mengekspresikan emosinya. Terlebih jika itu menyangkut mamahnya, sosok yang sejauh ini selalu menjadi sumber kehidupannya.


“Kamu masih kecil tapi enggak tahu sopan santun, ya!” kecam Coach Adrian tak segan bertindak arogan.


“Bahkan ke anak kecil saja kamu sesentif itu? Haus banget hormat sama pujian, ya?!” lirih Jason yang ngos-ngosan parah, selain pemuda itu yang juga kuyup keringat.


Mendengar suara Jason barusan, semuanya sudah langsung kaget, tanpa terkecuali Coach Adrian.


“Beneran bukan gertakan sambal dan ada semacam timbal balik. Nama aku saja sudah langsung diblacklist ...,” lanjut Jason.


“Dikiranya ini sinetron, film, apalagi novel yang penuh keajaiban?!” sinis coach Adrian sembari menatap wajah-wajah di sana termasuk wajah Ananda yang sempat menegurnya dengan pedas.


“Langit dan bumi menjadi saksi, bahwa tanpa orang tidak bertanggung jawab seperti Jason, melalui tangan dingin saya, tim basket negeri ini akan berhasil! Karena memang sudah sepantasnya, samp*ah-samp*ah seperti dia(Jason), ditiadakan dalam kehidupan ini!” lanjut coach Adrian.

__ADS_1


“Anda sadar, Anda mengatakan itu risikonya apa?” heran Akala lirih tapi ngegas.


“Bravo Coach! Panjang umur! Saya doakan Coach beneran panjang umur. Soalnya kasihan kalau Coach mati cepat apalagi malah belum sempat tobat. Soalnya kalau mati memang beneran enggak ada subsidi jaminan masuk surga! Pure amal ibadah Coach yang menjadikan langit dan bumi bersaksi derita kujalani!” ucap Jason dengan entengnya sekaligus semangat menggebu-gebu.


Satu hal yang baru Malini sadari, saat melangkah, Jason sampai terpinca*ng-pincan*g. Pemuda itu tampak tidak baik-baik saja, hingga ia langsung mau ketika diajak pergi dari sana.


“Kakimu kenapa?” tanya Akala yang jadi ragu memberikan Ananda kepada Jason, meski selain Ananda sudah merengek minta digendong Jason, Jason juga sudah siap mengembannya.


“Jatuh dari motor. Niat hati nyusul kalian, malah mental dan meluk aspal. Alhamdullilah jatuhnya ke bawah, enggak langsung ke atas, Mas!” ucap Jason tetap berusaha mengambil alih Ananda


Namun, balasan Jason yang terdengar mengesampingkan keselamatan bahkan itu nyawa, justru membuat Akala marah. “Waras kamu bilang begitu?”


Jason yang langsung tak berkutik, berangsur menggeleng. “Enggak begitu sepertinya Mas. Karena kewarasan hanya dimiliki orang seperti Coach Adrian yang menjadikan langit dan bumi sebagai saksi!” yakinnya yang mengakhirinya dengan senyum miris.


Di belakang Jason, Malini yang awalnya sangat mengkhawatirkan keadaan Jason, jadi sibuk menahan tawa gara-gara balasan terakhir yang Jason berikan kepada Akala. Bagi Malini bahkan Akala, Jason memang paling bisa membuat orang termakan omongannya sendiri. Yang awalnya dibangga-banggakan ibaratnya diterbangkan ke awan, dengan cepatnya Jason ban*ting hingga lembah paling dalam dan itu karena yang bersangkutan terlalu arogan.

__ADS_1


Tak beda dengan Malini, Akala yang awalnya sempat emosi, malah sampai mesem gara-gara tanggapan Jason barusan. Dan kali ini, ia tak lagi memiliki alasan untuk tidak membiarkan Ananda ikut Jason, terlebih Ananda makin sibuk merengek sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Jason.


__ADS_2