Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 10


__ADS_3

Eropa


Hakim Buana seorang pria tak muda lagi usianya sudah memasuki 40 tahun tapi masih terlihat gagah, dia seorang CEO dari perusahaan Buana Group salah satu perusahaan terbesar di Eropa.


Hakim berdiri di dekat jendela tepatnya ruang kerjanya di perusahaan dia menghela napasnya kembali mengingat masa lalu yang kelam, dia tak sengaja merampas kesucian seorang wanita muda saat itu ia dalam pengaruh obat perangsang di lakukan oleh seorang.


Setelah malam itu dia terus mencari wanita itu suatu saat ia mendapatkan berita dari orang kepercayaannya kalau ia sudah menikah dengan kekasihnya hanya berharap dia bahagia, sudah delapan belas tahun berlalu Hakim belum melupakan kejadian itu dan hingga saat ini dia belum menikah.


" Delapan belas tahun sudah aku belum juga melupakannya, apakah kamu hamil saat itu dan bagaimana dengan anak kita apakah suamimu bisa menerima anakku dalam kandunganmu" guman Hakim, mengingat saat ia bangun ada noda darah di kasurnya.


" Jika dia seorang laki-laki pasti sangat mirip denganku atau perempuan aku harap mirip denganmu" guman Hakim.


Tok tok tok


" Masuk" kata Hakim, kembali ke kursinya. Irfan Angkasa merupakan orang kepercayaan Hakim sudah dua puluh tahun bekerja sama.

__ADS_1


" Tuan saya ingin memberitahu sesuatu" kata Irfan.


" Katakanlah, bagaimana perusahaan kita di sana apakah sudah selesai" kata Hakim. Hakim memberi tugas padanya untuk mengurus cabang perusahaannya di Indonesia dimana ia bertemu dengan Nindy.


Irfan menghela nafasnya dia sangat merasa berat untuk menyampaikan berita yang tak sengaja dia temui.


' Tuan urusan cabang perusahaan disana terselesai dengan baik, tapi saat disana saya tak sengaja mendengar berita mengenai nyonya Nindy" kata Irfan. Mendengar nama itu Hakim menghentikan tangannya ketika menulis ia menatap tajam ke arah Irfan meminta penjelasan.


Akhirnya Irfan menceritakan kematian Nindy dan terusirnya putrinya yang mana bukan anak dari suaminya, dia mengetahuinya dari rekan bisnis yang juga bekerja sama dengan Rufdolf Emril.


" Jadi wanita itu meninggal, Irfan kamu tak salahkan aku memiliki seorang putri " kata Hakim, dengan suara gemetaran ada kesedihan dimatanya tanpa dia duga Nindy telah memasuki hatinya.


" Kamu tidak salah Irfan, dia pasti cantik seperti ibunya " kata Hakim, tersenyum tak sabar lagi bertemu dengan putrinya Irfan ikut senang sudah delapan belas tahun Bos dan sahabatnya tak pernah senyum akhirnya ia senyum.


" Irfan segera pesan tiket aku tak sabar menemui putriku" kata Hakim.

__ADS_1


" Tapi tuan, kita harus ke Amerika membahas proyek terbaru disana" kata Irfan. Hakim hanya bisa menghela napasnya ia tahu kepergiannya kali ini akan membutuhkan waktu lama padahal dia tak sabar bertemu dengan putrinya yang tak pernah ia temui.


Hakim tahu kerja sama ini sangat berpengaruh dengan perusahaannya.


" Sepertinya aku harus bersabar lebih lama lagi" kata Hakim, senyum kecut.


" Saya yakin tuan kalian pasti akan bertemu disaat waktu yang tepat" kata Irfan, Hakim menanggukan kepalanya walau sangat berat untuknya.


Kembali ke tempat Adeba.


Adeba dan lainnya menikmati makanan yang telah dipesan.


" Kakak nanti kami mau ke toko pakaian, kakak ingin ikut" kata Afril, Adeba menanggukan kepalanya.


" Kamu ingin belanja Deba? " Dita.

__ADS_1


" Nggk itu milik Afril" kata Adeba.


' Wah sangat hebat masih muda sudah memiliki usaha" puji Dita, lainnya hanya senyum. Dita dan Vero ikut ke toko pakaian milik Afril sepulang sekolah.


__ADS_2