Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 40


__ADS_3

Sedangkan di tempat Franco ia tak menyangka akan bertemu dengan gadis itu lagi.


" Tuan bukannkah gadis itu yang kita jumpa di hotel sebulan lalu? " Luciano, diangguk oleh Franco.


Luciano ingin mengatakan sesuatu pada Franco tapi pelayan terburu datang membawa pesanan mereka.


" Kalian pergilah ke kasir dulu aku mau ke toilet" kata Adeeba, diangguk oleh Dita dan Vero.


Di ruangan VIP


Franco keluar karena mendapat panggilan dari tuan Diego sebelum itu ia meminta Luciano membayar di bagian kasir.


" Halo dad" kata Franco.


" Franco daddy ingin mengatakan sesuatu ini mengenai adikmu, Gemma" kata tuan Diego.


" Gemma? " Franco.


" Ya, katanya ia ingin kuliah disana daddy minta kamu urus semuanya" kata tuan Diego.


" Memangnya mommy mengizinkannya?" Franco, heran mendengar mommynya mengizinkan adiknya kembali menempuh pendidikan yang jauh dari keluarga.


" Kamu tahu sendiri" kata tuan Diego, putrinya itu terus membujuk mereka.

__ADS_1


" Baiklah dad, nanti aku minta Luciano mengurusnya kapan Gemma datang, dad? " Franco.


" Seminggu lagi" kata tuan Diego, Franco memberitahunya ia dan Luciano akan menjemputnya di bandara jangan lupa di beri kabar nanti.


Setelah memutuskan panggilannya Franco berniat ke kamar mandi untuk mencuci tangan.


Brak


Ketika menuju ke kamar mandi tak sengaja menabrak Adeeba yang baru saja keluar dari toilet.


" Kau lagi setiap bertemu selalu sial" kata Franco, dingin meninggalkan Adeeba sendiri.


" Bukannya ia yang salah main HP di jalan" kata Adeeba, menggelengkan kepalanya. Segera menuju tempat sahabatnya telah menuju.


Adeeba sangat merasa deg degan hari ini ia akan bertemu dengan sosok yang ia ketahui sebagai ayah kandungnya yang tak pernah ia ketahui, Afrill berdiri di dekatnya mengetahui kakaknya sedang gugup.


" Kak, jika kakak ingin tinggal bersamanya silahkan Afrill tetap tinggal disini" kata Afrill.


" Apa yang kau bicarakan Af, kakak takkan meninggalkanmu kita akan tetap tinggal bersama sampai kapan pun" Kata Adeeba, meyakinkan adik sampai kapan mereka tetap bersama sampai kematian.


Afrill memeluk kakaknya ia berjanji takkan meninggalkan kakaknya apa pun yang terjadi.


" Kalian sudah siap " panggil Emilia, baru keluar dari kamar.

__ADS_1


" Kalian kenapa? " Emilia, melihat Afrill melepas pelukannya. Mereka tersenyum dan saling menggelengkan kepalanya.


" Ayo kita berangkat sekarang Adeeba, kamu siap sayang? " Emilia. Adeeba tersenyum dan menanggukan kepalanya.


Mereka berangkat menuju restoran dikendarai oleh Afrill, Afrill sudah mendapatkan SIm beberapa hari lalu. Sedangkan Hakim merasa gugup sebentar lagi putrinya akan datang.


Dia tak tahu apa yang harus dkatakan saat Adeeba sudah berada di hadapannya Irfan tak bisa menghiburnya karena tak bisa mengatakan sesuatu.


Dua pasang mata saling menatap Hakim menangis melihat gadis di hadapannya wajahnya mirip dengan Nindy wanita yang ia cintai sejak pertama kali bertemu sampai saat ini.


Sedangkan Adeeba tak bisa mengeluarkan suaranya karena orang yang ia ketahui sebagai ayah kandungnya tepat berdiri di hadapannya.


" Sayang mari duduk, tuan salahkan " kata Emilia, memegang tangan Adeeba yang dingin.


Emilia mengelus tangannya mengajaknya duduk di sampingnya sedangkan Afrill duduk di dekat kakaknya.


Seketika suasana menjagi tegang tak ada yang memulai untuk bicara.


" Sayang" panggil Emilia. Adeeba menundukan kepalanya tak berani untuk melihat tuan Hakim, begitu pula dengan Hakim Buana tertunduk sedih.


" Nak maafkan aku" kata Hakim Buana.


Deg.

__ADS_1


__ADS_2