Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 33


__ADS_3

Adeeba, Afrill bersama sahabatnya berkumupul di pojokan mereka membicaraka hal yang menyenangkan.


" Kak setelah ini kalian melanjutkan kuliah dimana? " Ali, sambil mencicipi cake.


" Kami mengambil kampus yang sama mungkin berbeda jurusan" kata Vero.


" Adeeba, kamu yakin mengambil dua jurusan? " Dita, diangguk oleh Adeeba.


" Dua jurusan? " Ali.


" Tentang perhotelan dan manajemen. masalah butik tante Emilia sudah mencarikan desainer yang berpengalaman untuk mengurusnya" kata Adeeba.


" Kak sepertinya kalian harus hati-hati dengan mereka" kata Deva, melirik ke arah Siska dan keluarganya yang menatap mereka dengan kebencian.


" Memangnya kenapa walau kita nanti satu kampus bertemu mungkin sedikit kemungkinan" duga Dita.


" Semoga saja" seru lainnya.


" Afrill? " Adeeba. Dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi makanya adiknya menahan kemarahannya.


Akhirnya Deva menceritakan semuanya pada mereka Adeeba yang mendengarnya menjadi marah sekaligus sedih.

__ADS_1


" Kak tenanglah kita tak membutuhkan mereka dalam hidup kita. Kita sudah bahagia hanya berdua" kata Afrill. Dita dan Vero yang mendengarnya ikut sedih mereka tak menyangka kalau sahabat mereka mengalami hal seperti itu.


Di tempat Siska.


" Saka, kabarnya kamu satu kelas dengan Afrill dan kedua sahabatnya itu? " Mia.


" Ya mi" kata Saka.


" Selama itu mereka tak menanggumu kan? " Mira.


" Nggk mi kami hanya tak saling mengenal satu tahun ini mereka di sibukan melindungi gadis itu" Saka tak menyebut nama Adeeba.


" Setelah ini kamu bisa mendekatinya kalau bisa bawa pulang ia ke rumah kita " kata Rofdolf. Membuat lainnya menatapnya penuh pertanyaan.


Selama setahun ini Rofdolf sangat merindukan putranya itu walau ia membenci ibu kandung Afrill tapi Afrill adalah Putranya ia tak suka jika bersama Adeeba.


Di tempat lainnya terlihat Selly, Okta dan Una di tatap tajam oleh ayah mereka.


" Kalianl, apa yang telah kalian lakukan" kata ayah Una, menatap tajam ke putrinya.


" Apa maksud papi" seru Una, menundukan kepalanya.

__ADS_1


" Kalian tahu perusahaan kami hampir bangkrut karena tuan Buana memutuskan kerja sama sepihak" kata papi Selly. Mereka menggelengkan kepalanya.


" Kami tak tahu pi dan kami tak mengenanya mana mungkin kami berbuat masalah dengannya" kata Selly, dengan suara gemetaran.


" Memangnya kenapa pi, kenapa beliau memutuskan kerja sama kalian dan apa hubungannya dengan anak kita" kata mami Okta. Para suami hanya menggelengkan kepalanya emang tuan Hakim tak menyebutkan masalahnya.


" Sekarang kita harus meninggalkan kota ini dan memulai usaha baru" kata papi Selly, diangguk oleh ayah lainnya. Mereka bertiga memang membangun perusahaan bersama yang dibangun sejak awal menikah. Walau perusahaan mereka tak sebesar Buana Group tapi perusahaan mereka cukup diperhitungkan.


" Nggk pi Selly tak ingin pindah" kata Selly, menolak keras karena pembalasan terhadap Adeeba belum terpuasan.


Plak


" Kamu kira kami ingin mengikuti keinginanmu itu jangan egois Selly kita tak memiliki waktu lagi" kata Papi Selly, sangat geram dengan putrinya.


Selly menangis sambil memegang pipinya sedangkan Una dan Okta hanya tertunduk mereka tak berani mengeluarkan suara.


" Papi tenangkan dirimu" kata mami Selly.


" Kau dengar kata putrimu dia ingin menghancurkan kita. Kalian harus dengar tuan Irfan hanya memberi waktu tiga hari untuk kita meninggalkan kota ini kalau tidak kami tak tahu apa yang dia perbuat pada kita. Selly papi mohon ini demi masa depan kalian kami tak memiliki kekuatan untuk melawannya " kata Papi Selly.


Selly dan kedua temannya akhirnya setuju untuk pindah mereka tak ingin hidup miskin.

__ADS_1


Seminggu lagi kabar kepindahan mereka terdengar oleh para pembisnis lainnya walau mereka tak tahu penyebabnya.


Yang mereka dengar anak-anak ketiga pengusaha itu telah melukai orang yang disayangi orang berkuasa tapi sampai kapan pun mereka takkan tahu siapa dia. Tuan Hakim Buana telah mengaturnya sampai Adeeba menerimanya dan dikenalkan pada masyarakat.


__ADS_2