Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 12


__ADS_3

Butik N A


Nindy meninggalkan butik untuk putrinya Adeeba usaha yang ia miliki sebelum menikah dengan Rofdolf Emrill, bahkan Rofdolf tidak mengetahuinya karena usahanya di jalani oleh Emilia sahabat Nindy sejak kuliah.


Ketika suaminya mulai menunjukan kebencian pada janin yang ia kandung dan itu yang membuatnya takut akan masa depan janin yang belum lahir, maka ia meminta sahabatnya Emilia mengurus butiknya sampai anaknya siap.


Nindy juga bekerja keras untuk dirinya ia tahu suaminya takkan memberikan nafkah dan itu terbukti sampai ia meninggal Rofdolf tak pernah menafkahinya dan kedua anaknya.


" Bu manager" kata sekretaris Emilia.


" Ya Nia" kata Emilia, menutup laporannya dan mempersilahkanya untuk duduk.


" Bu, detektif itu telah menemukan keberadaan putri dari nona Nindy" kata Nia.


" Benarkah dan dimana dia sekarang, aku tak sabar menemuinya dan meminta maaf ketika Nindy meninggal aku tak berada di sini, mereka pasti mengalami kesulitan tinggal bersama pria brengsrek itu" kata Emilia, kesal ia sangat mengetahui kehidupan sahabatnya itu.


" Nona sebaiknya anda melihat ini" kata Nia, menyerahkan hasil penyelidikan dari detektif yang ia sewa.


Emilia membesarkan matanya tak percaya dengan hasil penyelidikan yang disampaikan oleh detektif sewaannya.


" Nia, hasil penyelidikan nggk benar kan" suara Emilia, tercekat setelah membacanya ia tak menyangkan kalau sahabatnya mengalami kecelakaan dan terusirnya kedua anaknya.


" Maaf nona, detektif telah memastikan kalau itu benar" kata Nia, merasa sedih melihat keadaan Emilia yang putus asa.

__ADS_1


" Sekarang kita harus mencarinya kemana? " keluh Emilia.


" Nona, bukannya nona Adeeba kelas 3 mungkin di sekolahnya" kata Nia.


" Kamu benar Nia disini tertulis dimana putri Nindy bersekolah, ayo kita kesana untuk menemuinya" kata Emilia, meninggalkan butik dan tak sabar menemui Adeeba langsung.


Sekolah


Seperti biasa semua siswa mengikuti pelajaran dengan giat termasuk Adeeba dan lainnya, Adeeba dan kelas tiga lainnya mulai menyibukan diri untuk mempersiapkan ujian akhir sekolah.


Adeeba, Vero dan Dita berada di perpustakaan mengulang pelajaran untuk menambah ilmu.


" Kalau begini aku bisa pingsan" keluh Dita, membahas soal-soal, Adeeba dan Vero hanya tersenyum melihatnya.


" Mereka itu tak belajar apa, ini tempat belajar bukan tempat bermain" kata salah satu siswa yang duduk tak jauh dari mereka.


Pegawai pustaka meminta mereka untuk tenang karena menanggu yang lain, Selly dan lainnya merasa malu dan meninggalkan perpustakaan.


Tin.


" Assalamualaikum, kak. Kak dimana? " Afril, mengirim pesan.


" Kak di perpustakaan, memangnya kalian dimana? "

__ADS_1


" Kami di parkiran, kakak tunggu ya aku akan menjemput"


"😊👌"


Adeeba hanya tersenyum.


" Dari adikmu? " Dita.


" Ayo kita pulang tak terasa sudah sore" kata Vero, merapikan barangnya diikuti oleh lainnya.


Ternyata tidak hanya Afril yang menjemput tapi juga kedua sahabatnya, mereka berenam berpisah menuju tempat masing- masing.


Tapi ketika akan masuk ke dalam mobil penjaga sekolah memanggil Adeeba dan Afril ke ruang guru.


" Assalamualaikum " ucap Adeeba, melihat guru wali kelasnya bersama seorang wanita yang tak muda lagi tapi masih terlihat cantik dan seorang wanita berdiri di sampingnya.


" Nona, ini Adeeba dan adiknya" kata guru, Emilia tersenyum bahagia bisa melihat kedua anak sahabatnya.


" Kakak mengenal tante itu? " Afril, berbisik pada Adeeba.


" Kakak juga tak tahu, Af" ucap Adeeba, menaikan punggungnya.


" Kalau begitu saya permisi dulu bu dan terima kasih" Emilia, bersalaman pada guru.

__ADS_1


Emilia mengajak mereka ke restoran karena pembicaraan ini takut di dengar pihak lain.


__ADS_2