Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 17


__ADS_3

Hakim Buana menunda keberangkatannya menuju Indonesia karena sahabat yang sudah lama tak bertemu menghubunginya untuk bertemu.


Saat ini bersama Irfan menuju kediaman keluarga Edoardo.


Di kediaman keluarga Edoardo.


Franco dan Luciano sudah berangkat ke perusahaan begitu pula dengan Gemma pergi sekolah di antar oleh supir.


" Daddy" panggil nyonya Filide, Tuan Diego sedang membaca koran menutupnya melihat istrinya mendekat.


" Ya mom" kata tuan Diego, senyum melihat istrinya duduk di sampingnya.


" Daddy ingin mommy menyiapkan apa ketika Hakim datang? " Nyonya Filide.


" Mommy siapkan saja biasanya dan makanan ringan" kata tuan Diego. Nyonya senyum dan menanggukkan kepalanya.


Nyonya Filide memanggil pak Can dan pelayan lainnya untuk menyiapkan makanan ringan untuk tamu.


" Kalian pasti sudah tahu kalau sahabat suamiku akan datang aku ingin kalian menyiapkan sesuatu" kata nyonya Filide.


" Nyonya ingin kami menyiapkan apa? " Pak Can.


" Siapkan saja yang seperti biasanya" kata nyonya Filide.

__ADS_1


" Baik nyonya" seru mereka.


Nyonya Filide membantu membuat kue dan minuman untuk menyambut kedatangan Hakim buana dan asistennya.


" Tuan kita sudah sampai" kata Irfan. Hakim melihat mansion di hadapannya sudah bertahun tak datang kesini.


Sekurity melihat mobil berhenti di depan gerbang ia membuka pintu gerbang.


" Maaf tuan ingin mencari siapa? " Sekurity.


" Kami ingin bertemu dengan tuan Hakim" kata Irfan.


" Apakah kalian sudah memiliki janji sebelumnya, maaf tuan ini peraturan" kata Sekurity, tahu orang di dalam mobil ini bukan sembarangan.


Setelah mendapat kabar dari pak Can sekurity mempersilahkan mereka masuk.


Kedatangan mereka di sambut oleh tuan dan nyonya Edoardo.


" Hakim aku tak percaya sekarang kamu berada di rumahku hampir delapan belas tahun kita berpisah dan lihat kamu tak pernah berubah" kata tuan Diego, memeluk sahabatnya Hakim tersenyum dan mengelus punggung sahabatnya.


" Filide apa kabarmu?" Hakim, menyalami istri sahabatnya.


" Baik ayo kita masuk tidak baik berdiri terlalu lama" kata nyonya Filide, mempersilahkan tamu masuk.

__ADS_1


Nyonya Filide meminta pak Can meletakan minuman dan makanan ringan di atas meja.


" Filide tak perlu repot " kata Hakim, melihat pelayan meletakan makanan dan minuman di atas meja.


" Ini tidak merepotkan silahkan minum kemudian kita bisa bicara dengan tenang" kata nyonya Filide, Hakim dan Irfan minum minumannya.


" Hakim sudah enam bulan kamu di sini kenapa tak pernah menghubungiku dan sekarang gimana kabarmu? " Tuan Diego.


" Aku ke sini mengurus perusahaanku ada masalah sedikit dan kabarku entah apa baik saja atau tidak" kata Hakim, menghela napasnya.


" Maksudmu. Kamu masih memikirkan wanita itu bukankah dia sudah menikah" kata tuan Diego.


" Ya dia sudah menikah dan aku baru mendapat kabar kalau aku memiliki putri" kata Hakim, senyum.


" Putri" kata tuan dan nyonya Edoardo, terkejut mendengarnya.


" Hakim apa karena ini kamu tak pernah menikah? " Duga nyonya Filide, Irfan hanya mendengarkan mereka.


" Kalian pasti tahu kenapa aku belum menikah sampai saat ini jujur aku telah mencintai wanita itu dan aku tak ingin menyakiti wanita lain, soal putri kandungku aku baru saja mengetahuinya sebelum pergi ke Amerika" kata Hakim.


" Terus gimana mereka? " tuan Diego, ada rasa bahagia di hatinya karena sahabatnya memiliki seorang putri walau itu kesalahan.


Hakim Buana senyum dan mengusap wajahnya. Akhirnya Hakim menceritakan semuanya termasuk kematian Nindy wanita bermalam dengannya dan penderitaan putri kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2