Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 46


__ADS_3

Afrill, Ali dan Deva berkumpul di rumah Ali mereka sedang mengerjakan proposal yang akan di usulkan ke beberapa perusahaan.


" Kita sudah menyelesaikan dua proposal apakah masih ada yang belum? " Afrill.


" Sebaiknya ditambah satu proposal lagi kabarnya ada perusahaan yang baru di bangun dan hanya beberapa bulan perkembangannya sangat besar" Deva.


" Darimana kamu mengetahuinya, Dev? " Ali.


" Perusahaan papi ada kerja sama dengan perusahaan itu " kata Deva.


" Perusahaan itu apa namanya?" Afrill.


" Perusahaan Edoardo Group" kata Deva.


" Aku juga pernah mendengarnya dari papi, apa kita harus mencobanya? " Ali, memandang kedua temannya.


" Ya kita harus mencobanya besok" kata Afrill, merapikan semua barang.


Pelayan mengantar makanan dan minuman untuk mereka.


" Dimana orangtuamu Ali sejak tadi kami tidak melihatnya? " Afrill.


" Mami menemani papi ke luar kota ada pekerjaan " kata Ali, mereka menikmati makanan yang telah di siapkan.


Ditempat lokasi ujian baru saja menyelesaikan ujian kedua dimata para calon mahasiswa baru terlihat kelegaan tapi juga kecemasan menunggu hasilnya.


" Semoga saja kita semuanya lulus" kata Dita, Deeba dan Vero senyum.


Mereka meninggalkan lokasi ujian begitu pula dengan lainnya gemma baru saja meninggalkan kelasnya menghubungi kakaknya.

__ADS_1


".Kak dimana aku baru saja selesai " kata Gemma.


" Kamu tunggu di sana Luciano dalam perjalanan ingat Gemma tunggu disana jangan kemana" kata Franco.


" Ya kak" Mereka menutup panggilannya.


" Sebaiknya aku tunggu di sana" kata Gemma, melihat ada kursi di bawah pohon.


Lima belas menit kemudian Luciano datang menjemput Gemma.


" Nona" panggil Luciano, menghampiri Gemma yang kesal.


" Kenapa lama sekali sih"kata Gemma, menatap Luciano dengan kesal.


" Maaf nona, mari saya antar" kata Luciano. Mereka menuju apartemen Franco.


Drt drt drt


Terdengar suara HP berbunyi Adeeba melihat panggilan ternyata Hakim menghubunginya.


" Aku angkat telepon dulu" kata Adeeba, pamit menuju ke toiet.


" Sayang tak biasanya Adeeba mengangkat teleponnya jauh" kata Dita.


" Mungkin penting sebaiknya kita menunggu Adeeba di toko itu" kata Vero, menunjuk toko jam.


" Kamu ingin membeli jam? " Dita, diangguk oleh Vero.


" Jam kemaren pecah" kata Vero, mereka masuk ke toko jam sebelum itu Dita mengirim pesaj pada Adeeba memberitahu keberadaan mereka.

__ADS_1


Di toilet.


" Assalamualaikum dad" kata Adeeba.


" Waalaikumsalam, sayang gimana ujiannya? " Hakim.


" Alhamdulillah dad, Adeeba bisa menjawabnya tinggal menuju hasilnya saja. Dad" kata Adeeba.


" Ya sayang kamu ingin mengatakan sesuatu? " Hakim.


" Ya Dad, Adeeba hari ini pulangnya telat. Adeeba bersama Dita dan Vero sedang di mall " kata Adeeba, merasa tak enak karena tidak memberitakannya terlebih dahulu.


" Tidak apa sayang kalian pasti ingin rileks .Kamu ingin dad jemput? " Hakim.


" Dadd tidak sibuk .Adeeba tak ingin menanggu dad" kata Adeeba.


" Untukmu dan adikmu daddy tak merasa terganggu atau kamu ingin biar supir yang jemput " kata Hakim.


" Itu lebih baik dad. Adeeba tak ingin mereka merasa sungkan nantinya. Adeeba belum memberitahu pada mereka mengenai kita" kata Adeeba.


" Baiklah sayang bersenang-senanglah nanti daddy minta jemputmu" kata Hakim. Setelah memberi salam mereka memutuskan panggilannya.


" Aku minta maaf kalian harus menunggu lama" kata Adeeba, merasa bersalah pada sahabatnya karena belum menceritakan tentang Hakim.


" Kamu tenang saja Adeeba lihat dia serius sekali melihat arloji" Bisik Dita. Setelah memutuskan panggilannya Adeeba langsung menyusul sahabatnya di toko Jam.


" Tidak apa, tunggu aku mau lihat sepertinya itu cocok untuk Afrill dan lainnya " kata Adeeba, tanpa sengaja melihat jam yang menarik menurutnya.


" Kamu ingin menberli jam untuk Afrill dan lainnya" kata Dita. Adeeba menanggukan kepalanya. Tanpa sepengatahuan sahabatnya Adeeba membeli jam empat untuk Hakim satu.

__ADS_1


__ADS_2