Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 39


__ADS_3

Hakim Buana merasa bahagia karena putri kandungnya bersedia bertemu ada rasa takut, senang yang dirasakannya, Irfan dapat merasakan kegelisahan dari bosnya sejak pulang dari perusahaan bosnya seperti ada yang ia fikirkan.


" Tuan tidak apa? " Irfan, sedang menyetir mobil. Tuan Hakim menghela napasnya.


" Tadi aku mendapat telepon dari nyonya Emilia" kata Hakim. Irfan tahu siapa yang dimaksud oleh bosnya Emilia adalah sahabat dari nyonya Nindy wanita yang dicintai bosnya sampai saat ini, walau ia melakukan kesalahan yang tak terduga hingga Nindy hamil tapi rasa cinta ketika pertama kali ia melihatnya tak berubah bahkan rasa cinta itu semakin besar setelah mengetahui Nindy tidak menggugurkan kandungannya.


" Aku akan melindungi putri kita" guman Hakim, mengingat wajah Nindy.


" Semoga anda bahagia tuan " bisik Irfan,


" Tuan, kita sudah sampai"mobil sudah sampai di massion mewah Hakim membuka pintu dan tidak lupa meminta Irfan pulang.


Sejak ia mengetahui putrinya Hakim membeli massion untuknya dan putri kandungnya ia ingin mereka tinggal bersama.


Keesokan harinya


Di cabang perusahaan Edoardo Group


Franco dan Luciano sedang memeriksa laporan bulanan sudah sebulan mereka beradadi Indonesia dan bisnis terbaru mereka dapat diterima di berbagai kalangan.


" Tuan kita memperoleh keuntungan 2% ini lebih baik daripada kita duga sebelumnya" kata Luciano, Franco menanggukan kepalanya sebelumnya ia menduga hanya memperoleh keuntungan 0,1% .

__ADS_1


" Minta bagian produksi untuk lebih giat jangan sampai mengecewakan klien " kata Franco, Luciano menanggukan kepalanya dan segera menghubungi bagian produksi.


Di sebuah restoran.


Adeeba, Dita dan Vero menikmati liburan mereka sebelum mengikuti ujian masuk kuliah.


"Kalian sudah tahu kabar Selly dan kedua temannya " kata Dita.


" Emangnya ada apa dengan mereka memang sih sejak hari kelulusan mereka tak terlihat sampai acara disekolah dua hari lalu mereka tak datang " kata Adeeba, memang tidak mengetahuinya karena fokus dengan hotel.


" Sayang katakanlah pada sahabat kita ini sepertinya ia kurang update" kata Dita, senyum.


" Dita, kamu juga tahu?" Adeeba, terkejut dengan berita ini.


" Papi yang memberitahu katanya untuk menyelamatkan saham mereka yang selamat memutuskan pindah ke kota lain, aku bukan tertawa melihat penderitaan mereka tapi ini sebagai pelajaran bagi mereka semoga ditempat yang baru bisa menjadi orang yang lebih baik" kata Dita.


" Tapi siapa yang melakukannya bukannya perusahaan ayah mereka termasuk terbaik" kata Adeeba.


" Tak ada yang mengetahuinya hanya kabar yang tersebar mereka telah menyinggung orang yang tak patut di singgung" kata Vero, menggigit ngeri.


" Sayangnya kenapa si Siska tak mendapatnya juga" kata Dita, kesal mengingat kejadian ketika menghadiri acara sekolah.

__ADS_1


Adeeba dan Vero menggelengkan kepalanya tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka.


Franco dan Luciano juga mendatangi restoran dimana Adeeba berada mereka merencana makan siang di sana.


" Selamat datang tuan" sambut, pelayan membuka pintu. Franco hanya diam.


" Kami telah memesan tempat atas nama tuan Franco" kata Luciano.


" Silahkan tuan ruangannya telah siap" kata pelayan, mengantar mereka.


Ketika menuju ruang VIP tanpa sengaja mata Adeeba dan Franco saling pandang, Adeeba menatapnya dengan senyum sedangkan Franco dengan sikap dinginnya.


"Dasar aneh" kata Adeeba, dengan nada yang pelan.


" Apa yang kamu katakan, Deeba" kata Dita, walau pelan suara Adeeba tetap di dengar oleh Dita duduk di sebelahnya.


" Nggak ada" kata Adeeba. Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai ujian yang mereka ikuti tinggal beberap hari lagi.


Adeeba mengingat sebentar lagi akan bertemu dengan ayah kandungnya Emilia dan Afrill menemaninya, mereka berjanji bertemu dua hari lagi di restoran seafood.


.

__ADS_1


__ADS_2